“Dan pada sebagian malam,
lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu,
mudah-mudahan Tuhan mengangkatmu ke tempat yang terpuji .” (QS. Al-Isra 79)
Mendadak aku terjaga dari tidurku di tengah malam buta itu. Mataku
terbelalak seolah-olah ada kekuatan ghaib yang memaksaku untuk melek dan
segera bangun. Aku lihat jam weker di atas meja belajar masih
menunjukkan waktu pukul dua malam. Lantunan ayat-ayat suci Al Quran
lewat suara imam kondang dari Arab Saudi Syeikh As-Sudais yang
biasa aku putar lewat kaset di radio tape usang milik kawanku pun tidak
mampu membuaiku untuk kembali memejamkan mata. Biasanya ketika kaset itu
berhenti berputar dan meminta untuk dibalik dari sisi A ke sisi B aku
secara otomatis akan terbangun dari tidur dan akan kembali tidur setelah
selesai membalik dan membuat kaset itu kembali membunyikan alunan merdu
“pesan-pesan dari Langit”. Namun, malam ini sungguh tidak biasa.
Entahlah kenapa malam itu suasana di kamar kos yang aku tempati ini
sedikit aneh. Kabarnya memang ada beberapa tempat kos di daerah ini yang
memiliki cerita-cerita mistik tersendiri, dan diantaranya adalah tempat
kos sahabatku ini. Kebetulan sahabat sejak aku kuliah dulu ini kos
seorang diri dan saat itu ia sedang melakukan perjalanan dinas dari
kantornya keluar daerah selama beberapa minggu. Ia pun tidak keberatan
ketika aku berniat menginap selama beberapa malam di kamar kosnya,
hitung-hitung sekalian sebagai penjaga barang-barang berharga miliknya.
Hampir setengah jam lamanya aku mencoba memejamkan mata sambil
pikiranku menerawang kemana-kemana, terutama teringat akan cerita-cerita
horor dari pengalaman pribadi teman-teman kuliah dulu. Di tengah
kesunyian malam dan saat aku dijangkiti penyakit paranoid, hanya Syeikh As-Sudais,
sahabat terbaik pengantar tidurku, yang mampu menghiburku dengan bacaan
ayat-ayat Qurannya yang menggetarkan jiwa dan dapat membuat siapa saja
yang mendengarnya ikut-ikutan menangis. Benar-benar luar biasa.
Tiba-tiba, terlintas dalam pikiranku: “Kenapa tidak melaksanakan
shalat malam saja sambil mencoba menenangkan kegelisahanku malam ini?
Siapa tahu Allah akan mempercepat pengabulan semua doa dan harapanku
yang tertunda.”
Shalat malam, suatu kegiatan yang sudah sangat lama sekali tidak aku
kerjakan. Iya, seingatku terakhir kali aku rajin mengerjakan shalat
malam adalah ketika aku kepengen sekali lulus UMPTN dan masuk
UI. Setelah semua doaku dijabah oleh Allah, rasanya hampir tidak pernah
aku melaksanakan lagi shalat yang istimewa ini. Sungguh durhaka memang
mahluk yang namanya manusia, ketika menderita mereka merengek-rengek
kepada Allah, namun setelah permintaannya dikabulkan mereka seolah-olah
tidak kenal lagi dengan Tuhannya. Dan akupun mungkin bagian dari kaum
ini. Tolong ampuni kami ya Allah..!
Malam itu, setelah selesai “berkomunikasi” dan bermunajat kepada
Allah, aku kembali ke pembaringan untuk melanjutkan istirahatku. Namun,
belum beberapa lama aku merebahkan diri , tiba-tiba terdengar suara
“gemelitik” aneh dari kaca jendela yang berada tepat di samping tempatku
berbaring. Kaca jendela itu tidak berteralis besi dan kadang-kadang
juga berfungsi sebagai pintu darurat apabila kunci pintu kamar kos itu
tidak bisa terbuka. Makin lama suara itu semakin kerap terdengar
ditambah lagi dengan suara “klotek-klotek” aneh. Aku berpikir mungkin
kucing tetangga kos kawanku yang baru saja beranak yang iseng
menggaruk-garuk kaca jendela karena ingin masuk dan dibukakan pintu.
Tapi, apa iya itu perbuatan si kucing, kalau bukan bagaimana?
Hatiku jadi gundah ketika terlintas pikiran paranoid
kalau-kalau itu adalah perbuatan demit-demit iseng yang kabarnya pernah
menyambangi kamar demi kamar di kosan kawanku ini hanya untuk pamer
bahwa mereka masih eksis di tempat itu. Tapi akan lebih gawat lagi kalau
itu adalah perbuatan maling yang kabarnya punya jadual tetap menyatroni
kosan demi kosan di wilayah itu. Kalau itu benar adalah hantu, aku bisa
merapal semua ayat-ayat suci yang aku hapal untuk mengusir jin dan
sebangsanya, tapi kalau itu adalah gerombolan rampok, apa dayaku?
Celakanya, senjata yang tersedia di kamar ini hanyalah gagang sapu ijuk
rombeng dan beberapa garpu makan yang ujung sudah tidak harmonis lagi.
Tidak ada golok, martil, ataupun linggis yang bisa aku gunakan untuk
membela diri.
Kecurigaanku bertambah kuat ketika aku dengar “degup” langkah-langkah
kaki manusia mendekati jendela kamar itu. Akupun semakin pasti bahwa
ini adalah langkah-langkah manusia dan bukannya kucing atau setan-setan
kurang kerjaan. Namun, aku masih berbaik sangka bahwa jangan-jangan ini
ulah teman-teman tetangga kosku yang kadang iseng mengganggu atau
menakut-nakuti para penghuni kos yang lain.
Dengan masih menggunakan celana pendek dan sarung yang aku pakai sehabis shalat tadi, dengan nekad dan membaca bismilllah
aku mencoba memberanikan diri membuka tirai yang menutup jendela itu
sekalian ingin memberi surprise kepada siapapun yang ada diluar sana.
Syukur-syukur kalau itu adalah benar perbuatan kawan tetangga kos
sebelah, jadi aku akan membuat mereka malu karena mereka tidak sukses
mengerjai aku.
Hal yang membuat aku kaget setengah mati adalah ketika aku
menyibakkan tirai jendelanya secara mendadak. Ternyata ada dua sosok
mahluk di luar kamar kosan itu, yang satu berbadan pendek namun gempal
sedangkan satunya lagi berbadan sedang. Manusia-manusia salah karir itu
sedang asyik berjongkok sambil khusyuk mencongkel daun jendela kamar
sahabatku. Mataku dan mata mereka saling bertatapan dan sama-sama
terkejut bukan kepalang. Secara spontan aku teriak “Maling…!”
sekeras-kerasnya dan berulang-ulang untuk mengusir mereka sambil mencoba
membangunkan tetangga untuk sama-sama mengejar dan membekuk para
penjahat tengik itu.
Dengan lari terbirit-birit karena dikejar-kejar orang sekampung, para
bandit kampung itu pontang-panting melewati lorong dan gang sempit
sepanjang kampung. Akhirnya para penjahat itu berhasil meloloskan diri
dengan membonceng dua unit sepeda motor yang dikemudikan anggota
komplotannya yang diparkir tidak jauh dari tempat kos kawanku itu.
Ternyata ada sepasang maling lagi yang mengintai pas di depan kamar kos
yang ikut lari tunggang-langgang karena kaget kejahatannya ketahuan.
Jadi, total maling yang beroperasi malam itu kira-kira ada enam
personil.
Setelah para penjahat amatiran itu kabur, barulah aku tahu ternyata
pada saat yang sama ada beberapa tempat kos yang sedang disambangi oleh
mereka dan malam itu rencana mereka gagal total gara-gara teriakanku
sewaktu mengejar kawan sepermalingannya. Menurut orang-orang kampung,
biasanya para klub maling yang beroperasi di daerah itu dalam semalam
akan menjarah lebih dari dua target operasi dalam sekali operasinya.
Segala kegelisahanku malam itu akhirnya terjawab lunas dengan adanya
kejadian kemalingan itu. Saudaraku, apa jadinya kalau saja aku tetap
bebal untuk memaksakan diri melanjutkan tidur ketika Allah telah
mengutus malaikatNya untuk memberi sinyal tanda bahaya kepadaku dengan
membangunkanku dan membuat mataku tiba-tiba terbelalak mirip orang yang
sedang tersedak biji salak? Segala sesuatunya atas ijin Allah bisa saja
terjadi. Hal yang wajib aku syukuri adalah diriku dan harta benda milik
kawanku juga milik kawan-kawan kos yang ada di sekitarnya ikut
terselamatkan.
“Subhanallah…! Alhamdulillah..!”, ucapku berkali-kali dalam hati.
Kejadian itu membuat aku memahami lagi salah satu rahasia Allah akan
manfaat dan keutamaan shalat malam. Memang berat untuk menjalankan
segala perintah Allah baik yang wajib maupun yang sunah apabila kita
tidak mengalami sendiri suatu pengalaman spiritual yang menguatkan
keimanan kita. Ada orang-orang yang diberi hidayah dan kembali kejalan
Allah setelah dirinya diperlihatkan sebuah kejadian yang membuat spirit
keimanannya bangkit kembali. Semua proses menjadi seorang muslim dan
muslimah yang kaffah memang bukanlah perkara instan yang
terjadi dalam semalam. Semua itu adalah hasil dari proses pembelajaran
panjang dan lewat dialog bathin yang mungkin melelahkan bagi sebagian
orang. Dan semoga kita adalah termasuk diantara manusia-manusia pilihan
Allah yang selalu dilimpahkan barokah, diselamatkan dari segala bala,
diberi petunjuk, dijaga keimanan dan keislamannya hingga akhir hayat.
Semoga…!
“Seseorang dari ummatku yang berdiri shalat pada sebagian malam
telah mengobati jiwanya untuk selalu suci. (Sebab) di atas jiwa itu
terdapat simpul-simpul, jika ia membasuh kedua tangannya (berwudhu)
lepaslah satu simpul. Jika ia mengusap kepalanya, lepaslah satu simpul.
Jika ia membasuh kakinya, lepaslah satu simpul. Kemudian Allah berfirman
kepada mahluk yang ada dibalik hijab (Malaikat), “Lihatlah hambaKu ini,
ia mengobati jiwanya dan memohon kepadaKu. Apa yang diminta hambaKu
kepadaKu, maka untuknya (Ku kabulkan).” (HR. Ahmad & Ibn Hibban)
***
(Sebuah pengalaman spiritual di sebuah tempat kos di Depok, Jawa Barat tahun 2001)
eljowo@yahoo.com
http://www.eramuslim.com/oase-iman/dibangunkan-malaikat.htm#.VVOHLsZWxzk
Rabu, 13 Mei 2015
Jumat, 01 Mei 2015
Tobatnya Sang Penggali Kubur
Dalam sebuah kisah yang masyhur
dari Ibnu Hubaiq yang meriwayatkan dari bapaknya, ‘Yusuf bin Asbath
pernah menemani seorang pemuda dari Hijaz. Namun, dia belum berbicara
dengannya, kecuali setelah sepuluh tahun lamanya. Yusuf melihat pemuda
itu senantiasa gelisah dan bersedih disamping beribadah siang dan malam.
Kemudian, Yusuf bertanya kepadanya, ‘Apa pekerjaanmu? Sesungguhnya aku tidak pernah melihatmu berhenti dari menangis?’. Pemuda itu menjawab, ‘Aku adalah penggali kubur’. Yusuf bertanya lagi, ‘Apa yang kamu lihat setelah berada di liang lahat?’. Pemuda itu menjawab,’Aku melihat kebanyakan wajah mayat-mayat itu telah berubah posisi dari menghadap kiblat, kecuali hanya sebagian kecil saja’. Kemudian, Yusuf terjatuh dan tidak sadarkan diri, sehingga harus diobati oleh seorang tabib.
Ibnu Hubaiq melanjutkan ceritanya, bapakku berkata, ‘Kami memanggil Tabib Sulaiman agar mengobati Yusuf. Ketika agak sadar, Yusuf langsung berkata, ‘Hanya sebagian kecil?’.Dia terus mengulangi kata-kata itu didepan Tabib Sulaiman. Dan, setelah selesai mengobati, Tabib Sulaiman pulang, dan meninggalkan Yusuf.
Ketika sudah dalam keadaan sadar dan sembuh, Yusuf bertanya kepada kami, ‘Imbalan apa yang kalian berikan kepada Tabib itu?’. Kami menjawab, ‘Tabib itu tidak menghendaki imbalan apapun’, jawab mereka. Yusuf berkata, ‘Subhanallah. Maha Suci Allah, kalian memanggil Tabib Istana, dan kalian tidak memberikan imbalan atau upah apapun kepadanya?’. Kemudian kami berkata, ‘Berikan Tabib itu satu dinar’. Yusuf berkata, ‘Ambilah uang ini, berikan kepadanya dan beritahukan bahwa aku tidak punya uang lagi, agar supaya dia tidak salah paham, bahwa aku kurang menghargainya dibandingkan dengan raja-raja’.
Hubaib bercerita, ‘Yusuf bin Asbath pernah berkata, ‘Aku mewarisi sebuah perkebunan dari ayahku di Kufah senilai lima ribu dirham, namun timbul perselisihan antara aku dengan paman-pamanku. Kemudian aku meminta pendapat dari al Hasan bin Saleh dan beliau menasehatiku, ‘Sebaiknya kamu tidak berselisih dengan mereka, karena sesungguhnya perkebunan itu (dibeli) dari uang pajak bumi’.
Maka, aku meninggalkan warisan itu demi memperoleh ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan akupun jatuh miskin. Wallahu ‘alam.
http://www.eramuslim.com/peradaban/bercermin-salaf/tobatnya-sang-penggali-mayat.htm#.VUQM-sZWxzk
Kemudian, Yusuf bertanya kepadanya, ‘Apa pekerjaanmu? Sesungguhnya aku tidak pernah melihatmu berhenti dari menangis?’. Pemuda itu menjawab, ‘Aku adalah penggali kubur’. Yusuf bertanya lagi, ‘Apa yang kamu lihat setelah berada di liang lahat?’. Pemuda itu menjawab,’Aku melihat kebanyakan wajah mayat-mayat itu telah berubah posisi dari menghadap kiblat, kecuali hanya sebagian kecil saja’. Kemudian, Yusuf terjatuh dan tidak sadarkan diri, sehingga harus diobati oleh seorang tabib.
Ibnu Hubaiq melanjutkan ceritanya, bapakku berkata, ‘Kami memanggil Tabib Sulaiman agar mengobati Yusuf. Ketika agak sadar, Yusuf langsung berkata, ‘Hanya sebagian kecil?’.Dia terus mengulangi kata-kata itu didepan Tabib Sulaiman. Dan, setelah selesai mengobati, Tabib Sulaiman pulang, dan meninggalkan Yusuf.
Ketika sudah dalam keadaan sadar dan sembuh, Yusuf bertanya kepada kami, ‘Imbalan apa yang kalian berikan kepada Tabib itu?’. Kami menjawab, ‘Tabib itu tidak menghendaki imbalan apapun’, jawab mereka. Yusuf berkata, ‘Subhanallah. Maha Suci Allah, kalian memanggil Tabib Istana, dan kalian tidak memberikan imbalan atau upah apapun kepadanya?’. Kemudian kami berkata, ‘Berikan Tabib itu satu dinar’. Yusuf berkata, ‘Ambilah uang ini, berikan kepadanya dan beritahukan bahwa aku tidak punya uang lagi, agar supaya dia tidak salah paham, bahwa aku kurang menghargainya dibandingkan dengan raja-raja’.
Hubaib bercerita, ‘Yusuf bin Asbath pernah berkata, ‘Aku mewarisi sebuah perkebunan dari ayahku di Kufah senilai lima ribu dirham, namun timbul perselisihan antara aku dengan paman-pamanku. Kemudian aku meminta pendapat dari al Hasan bin Saleh dan beliau menasehatiku, ‘Sebaiknya kamu tidak berselisih dengan mereka, karena sesungguhnya perkebunan itu (dibeli) dari uang pajak bumi’.
Maka, aku meninggalkan warisan itu demi memperoleh ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan akupun jatuh miskin. Wallahu ‘alam.
http://www.eramuslim.com/peradaban/bercermin-salaf/tobatnya-sang-penggali-mayat.htm#.VUQM-sZWxzk
Nilai Diri Seorang Muslim bukan pada Harta dan Kedudukan
Ada seorang lelaki miskin,
mengenakan kain yang usang , pakaian yang dekil, perut lapar , tanpa
alas kaki, berasal dari garis nasab tidak terhormat, tidak punya
kedudukan , harta dan keluarga besar, tidak punya rumah untuk berteduh,
tidak punya perabot yang bernilai, minum hanya air dari kolam umum
dengan gayung kedua tangannya bersama orang orang yang lewat, tidur di
masjid , hanya berbantalkan tangannya, dan berkasur pasir bercampur
kerikil.
Namun begitu, dia adalah seorang yang selalu berdzikir kepada Rabb nya, selalu membaca kitab Allah, selalu berada pada barisan terdepan dalam shalat maupun pada saat perang.
Suatu ketika, dia lewat di depan Rasulullah SAW, lalu Rasul memanggilnya,” Wahai Julaibib, tidakkah kamu ingin menikah?” orang itu menjawab,”Wahai Rasulullah, siapakah yang mau menikahkan putrinya denganku?” Aku tidak punya kedudukan dan tidak pula harta.” Beberapa hari kemudian Rasulullah bertemu dengannya. Rasulullah menanyakan hal yang sama pula. Dan dia pun menjawab dengan jawaban yang sama. Pada pertemuan yang ketiga Rasulullah mengajukan pertanyaan yang sama, dan dijawab dengan jawaban yang sama pula. Maka bersabdalah Rasulullah,” Wahai Julaibib, pergilah ke rumah fulan, (nama seorang Anshor)-lalu katakan padanya, “Rasulullah menyampaikan salam untukmu dan memintamu untuk mengawinkanku dengan anak perempuanmu.”
Sahabat Anshar dimaksud berasal dari keluarga terhormat dan terpandang. Maka berangkatlah Julaibib menemui sahabat anshar itu. Diketuknya pintu rumahnya, dan selanjutnya disampaikannya apa yang diperintahkan oleh Rasulullah. Sahabat anshar itu berkata, “semoga kesejahteraan tercurah untuk Rasulullah, tapi bagaimana bisa aku mengawinkan anakku denganmu yang tidak mempunyai kedudukan dan harta benda? Pada saat itu isteri sahabat anshar itu juga mendengar pesan rasulullah SAW yang disampaikan Julaibib itu, dan dia pun terheran heran dan bertanya tanya…Dengan Julaibib, yang tidak mempunyai harta dan kedudukkan?” dari dalam putrinya mendengar apa yang dikatakan oleh Julaibib dan pesan Rasulullah yang disampaikannya, segera anak perempuan itu berkata kepada kedua orang tuanya,”apakah kalian menolak permintaan Rasulullah ? Tidak, demi dzat yang jiwaku ditanganNya !”
Selanjutnya , terjadilah pernikahan yang penuh berkah, lahir rumah tangga yang penuh keridhaanNya. Beberapa waktu kemudian, datanglah seruan jihad. Julaibib pun ikut serta ke medan perang. Dengan tangannya, terbunuh tujuh orang musuh dari orang orang kafir. Namun dia sendiri juga terbunuh. Dia meninggal dengan berbantalkan tanah dengan penuh keridhaan Allah dan RasulNya.
Setelah itu Rasulullah SAW memeriksa semua korban perang saat itu, dan para sahabat memberitakan nama nama yang syuhada. Tak ada nama Julaibib disebut, sebab memang dia tidak termasuk orang yang dikenal dan terpandang di kalangan sahabat. Namun Rasululllah sangat ingat Julaibib dan tidak pernah melupakannya. Beliau hapal nama itu ditengah kerumunan nama nama besar yang syahid dan tidak melalaikannya. Sergah rasulullah.” Tapi kini aku kehilangan Julaibib.”
Rasulullah mendapati jasadnya yang penuh dengan debu, dan mengusap debu dari wajahnya seraya berkata, “ Kau telah membunuh tujuh orang, lalu kamu sendiri terbunuh, kamu bagian dariku dan aku bagian darimu.
Sebenarnya nilai seorang Julaibib adalah keimanannya, kecintaan Rasulullah kepadanya, dan prinsip yang ia pegang hingga ajalnya. Kemiskinan dan ketidakjelasan kedudukan di masyarakat tidak menghambatnya untuk memperoleh kedudukan yang mulia, dia telah mencapai cita citanya untuk mati syahid, mendapatkan keridhaanNya, meraih kebahagiaan di dunia dan akherat. – Aidh Al qarni-
http://www.eramuslim.com/oase-iman/nilai-diri-seorang-muslim-bukan-pada-harta-dan-kedudukan.htm#.VUQMY8ZWxzk
Namun begitu, dia adalah seorang yang selalu berdzikir kepada Rabb nya, selalu membaca kitab Allah, selalu berada pada barisan terdepan dalam shalat maupun pada saat perang.
Suatu ketika, dia lewat di depan Rasulullah SAW, lalu Rasul memanggilnya,” Wahai Julaibib, tidakkah kamu ingin menikah?” orang itu menjawab,”Wahai Rasulullah, siapakah yang mau menikahkan putrinya denganku?” Aku tidak punya kedudukan dan tidak pula harta.” Beberapa hari kemudian Rasulullah bertemu dengannya. Rasulullah menanyakan hal yang sama pula. Dan dia pun menjawab dengan jawaban yang sama. Pada pertemuan yang ketiga Rasulullah mengajukan pertanyaan yang sama, dan dijawab dengan jawaban yang sama pula. Maka bersabdalah Rasulullah,” Wahai Julaibib, pergilah ke rumah fulan, (nama seorang Anshor)-lalu katakan padanya, “Rasulullah menyampaikan salam untukmu dan memintamu untuk mengawinkanku dengan anak perempuanmu.”
Sahabat Anshar dimaksud berasal dari keluarga terhormat dan terpandang. Maka berangkatlah Julaibib menemui sahabat anshar itu. Diketuknya pintu rumahnya, dan selanjutnya disampaikannya apa yang diperintahkan oleh Rasulullah. Sahabat anshar itu berkata, “semoga kesejahteraan tercurah untuk Rasulullah, tapi bagaimana bisa aku mengawinkan anakku denganmu yang tidak mempunyai kedudukan dan harta benda? Pada saat itu isteri sahabat anshar itu juga mendengar pesan rasulullah SAW yang disampaikan Julaibib itu, dan dia pun terheran heran dan bertanya tanya…Dengan Julaibib, yang tidak mempunyai harta dan kedudukkan?” dari dalam putrinya mendengar apa yang dikatakan oleh Julaibib dan pesan Rasulullah yang disampaikannya, segera anak perempuan itu berkata kepada kedua orang tuanya,”apakah kalian menolak permintaan Rasulullah ? Tidak, demi dzat yang jiwaku ditanganNya !”
Selanjutnya , terjadilah pernikahan yang penuh berkah, lahir rumah tangga yang penuh keridhaanNya. Beberapa waktu kemudian, datanglah seruan jihad. Julaibib pun ikut serta ke medan perang. Dengan tangannya, terbunuh tujuh orang musuh dari orang orang kafir. Namun dia sendiri juga terbunuh. Dia meninggal dengan berbantalkan tanah dengan penuh keridhaan Allah dan RasulNya.
Setelah itu Rasulullah SAW memeriksa semua korban perang saat itu, dan para sahabat memberitakan nama nama yang syuhada. Tak ada nama Julaibib disebut, sebab memang dia tidak termasuk orang yang dikenal dan terpandang di kalangan sahabat. Namun Rasululllah sangat ingat Julaibib dan tidak pernah melupakannya. Beliau hapal nama itu ditengah kerumunan nama nama besar yang syahid dan tidak melalaikannya. Sergah rasulullah.” Tapi kini aku kehilangan Julaibib.”
Rasulullah mendapati jasadnya yang penuh dengan debu, dan mengusap debu dari wajahnya seraya berkata, “ Kau telah membunuh tujuh orang, lalu kamu sendiri terbunuh, kamu bagian dariku dan aku bagian darimu.
Sebenarnya nilai seorang Julaibib adalah keimanannya, kecintaan Rasulullah kepadanya, dan prinsip yang ia pegang hingga ajalnya. Kemiskinan dan ketidakjelasan kedudukan di masyarakat tidak menghambatnya untuk memperoleh kedudukan yang mulia, dia telah mencapai cita citanya untuk mati syahid, mendapatkan keridhaanNya, meraih kebahagiaan di dunia dan akherat. – Aidh Al qarni-
http://www.eramuslim.com/oase-iman/nilai-diri-seorang-muslim-bukan-pada-harta-dan-kedudukan.htm#.VUQMY8ZWxzk
Sabtu, 25 April 2015
Jilbab Buka-tutup
Kasus I
Di sebuah resepsi pernikahan mewah seorang bos , seorang wanita menyapa saya. Sejenak, saya tertegun menatap wajah wanita yang mengenakan gaun malam ketat dengan belahan rendah di bagian dada itu. Sepertinya, saya mengenali wanita tersebut. Perlu waktu sekitar satu menit sebelum saya benar-benar mengenalinya. Anita-sebutlah demikian- adalah teman satu kantor tetapi beda divisi. Saya shock sekali melihat penampilan Anita malam itu. Pasalnya, saya terbiasa melihat dia di kantor sehari-hari dengan jilbab. Saat itu saya hanya bisa terpana dan tertegun, sedangkan Anita dengan santai dan senyum berlalu dari hadapan saya untuk menyapa tamu-tamu undangan yang lain. Masih penuhi oleh rasa terkejut dan penasaran, saya kemudian mencari teman kantor yang lain dan menceritakan perihal Anita. Teman saya itu menjawab,”Oh, Anita memang seperti itu. Buka-tutup. Kalau ke pesta, atau habis dari salon, dia gak pakai jilbab.” Hmm…
Kasus II
Sari-bukan nama sebenarnya-seorang gadis berjilbab berterus terang kepada saya bahwa dia tidak memakai jilbab jika sedang ‘jalan’ dengan seorang lelaki yang menjadi pacarnya. Mendengar pengakuannya, alis saya terangkat dan kening saya berkerut. “Loh kok begitu ? Memangnya kenapa harus buka jilbab. Pacaran saja sudah di larang, ini kok ditambah buka-buka aurat?” Tanya saya. Ternyata, Sari merasa jilbab membuatnya merasa terlihat lebih tua. “Gue kan malu, Wi. Umur gue kan emang lebih tua dari cowok gue, yaah….Cuma beda beberapa bulan aja sih. Kalau gue jalan sama dia pakai jilbab, gue keliatan makin tambah tuir. Lebih bebas tanpa jilbab. Kata cowok gue, gue keliatan kaya anak SMA, ABG gitu loooh…Lagian, cowok gue lebih suka gue lepas jilbab kalau lagi sama dia….begitu, jeung…!” o…o….w
Kasus III
Mba Yani-juga nama samaran- teller sebuah bank swasta mengeluh kepada saya bahwa dia belum diperbolehkan memakai jilbab. Padahal dia sudah naik haji tahun lalu dan ingin sekali menutup auratnya dengan sempurna. Saya heran. Ah, masa sih ? Padahal kan sudah banyak bank yang pegawai wanitanya memakai jilbab bukan hanya di bank-bank Syariah. “Yah, gak tau deh. Yang pasti di Bank Panin belum boleh pakai jilbab. Jadi, sementara ini solusi buat saya adalah buka-tutup. Berangkat pakai jilbab, selama jam kerja lepas jilbab, nanti pulang dipakai lagi.” Tuturnya. Kasus Mba Yani ini sama dengan seorang Cleaning Service yang sempat mengobrol dengan saya. “Mba sih, enak. Gak masalah kerja pakai jilbab. Kalau di tempat saya, belum boleh tuh ! Pilihannya, buka jilbab pas lagi kerja atau cari kerja di tempat lain.”
Tiga kasus di atas membuat saya merenung sejenak.
Pada kasus Anita dan Sari, apa sih yang menjadi alasan kuat mereka untuk melepaskan kain penutup kepala itu ? Rasanya, tidak ada. Mereka tidak di larang oleh pihak perusahaan tempat mereka bekerja untuk memakai jilbab seperti Mba Yani dan gadis Cleaning Service. Mungkin yang harus di tanyakan kepada mereka adalah apa yang menjadi dasar ketika mereka memutuskan untuk memakai jilbab.
Dasar yang utama adalah perintah Allah dalam Alquran.
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (QS 33:59)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS 24:31)
Jilbab bukan sekedar mode sesaat yang dipakai jika sedang ‘trend’ dan di lepas jika sudah tidak ‘nge-trend’ lagi. Jilbab adalah kewajiban bagi seorang wanita muslim yang telah baliqh. Andrea Hirata menulis di salah satu bukunya, Sang Pemimpi “Bagiku jilbab adalah piagam kemenangan gilang gemilang, kemenangan terbesar bagi seorang perempuan Islam atas dirinya, atas imannya dan atas dunia.”
Jilbab adalah identitas wanita Islam, mahkota yang harus di junjung tinggi. Jika seorang wanita telah memutuskan untuk berjilbab, maka ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Siap menjaga sikap dan perilakunya. Sebab, jika seorang wanita berjilbab melakukan hal-hal yang tidak semestinya, maka yang dituding bukan hanya diri wanita itu, tetapi jilbab dan Islam. Contohnya, jika seorang wanita berjilbab merokok di tempat umum, maka masyarakat akan berkata “Kok pakai jilbab merokok ?” Jilbab dan Islam mendapat kesan negatif. Terlepas dari segala argument tentang hak asasi seseorang untuk bebas melakukan apapun sepanjang tidak mengganggu kepentingan orang lain, wanita yang telah memutuskan untuk berjilbab hendaknya menjaga adab perilaku.
Untuk kasus buka-tutup yang diuraikan di atas, saya berpendapat bahwa sebaiknya mereka –kaum muslimah- meluruskan niat, membekali diri dengan pemahaman dan ilmu yang cukup terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memakai jilbab. Karena bagi saya, detik saat memutuskan untuk memakai jilbab sama seperti membeli ‘one way ticket’. Maksudnya, tidak bisa berjalan mundur kembali. Dalam hal ini tidak ada alasan untuk menanggalkan jilbab kecuali pada mereka yang memang muhrimnya. Untuk yang ‘terpaksa’ buka-tutup jilbab karena alasan ekonomi, maka perbanyaklah mencari ilmu untuk mempertebal keyakinan bahwa rejeki itu sudah di atur-NYA. Tidak mungkin Allah mempersempit rejeki karena kita menjalankan apa-apa yang diperintahkan-NYA.
Saya bukanlah seorang ‘jilbaber’-jilbab super lebar dan gamis gombrong- namun saya terus belajar untuk meluruskan niat, memperkuat iman , mempertebal keyakinan dan memperbaiki diri.
Saya juga tidak berani ‘nge-judge’’ bahwa mereka yang memakai jilbab’biasa’ tidak sebaik mereka yang berjilbab lebar dan gamis. Sebab hanya Allah yang Maha Tahu dan berhak menilai masing-masing orang. “Don’t judge a book by its cover”
http://www.eramuslim.com/oase-iman/jilbab-buka-tutup.htm#.VTvzE8ZWxzl
Di sebuah resepsi pernikahan mewah seorang bos , seorang wanita menyapa saya. Sejenak, saya tertegun menatap wajah wanita yang mengenakan gaun malam ketat dengan belahan rendah di bagian dada itu. Sepertinya, saya mengenali wanita tersebut. Perlu waktu sekitar satu menit sebelum saya benar-benar mengenalinya. Anita-sebutlah demikian- adalah teman satu kantor tetapi beda divisi. Saya shock sekali melihat penampilan Anita malam itu. Pasalnya, saya terbiasa melihat dia di kantor sehari-hari dengan jilbab. Saat itu saya hanya bisa terpana dan tertegun, sedangkan Anita dengan santai dan senyum berlalu dari hadapan saya untuk menyapa tamu-tamu undangan yang lain. Masih penuhi oleh rasa terkejut dan penasaran, saya kemudian mencari teman kantor yang lain dan menceritakan perihal Anita. Teman saya itu menjawab,”Oh, Anita memang seperti itu. Buka-tutup. Kalau ke pesta, atau habis dari salon, dia gak pakai jilbab.” Hmm…
Kasus II
Sari-bukan nama sebenarnya-seorang gadis berjilbab berterus terang kepada saya bahwa dia tidak memakai jilbab jika sedang ‘jalan’ dengan seorang lelaki yang menjadi pacarnya. Mendengar pengakuannya, alis saya terangkat dan kening saya berkerut. “Loh kok begitu ? Memangnya kenapa harus buka jilbab. Pacaran saja sudah di larang, ini kok ditambah buka-buka aurat?” Tanya saya. Ternyata, Sari merasa jilbab membuatnya merasa terlihat lebih tua. “Gue kan malu, Wi. Umur gue kan emang lebih tua dari cowok gue, yaah….Cuma beda beberapa bulan aja sih. Kalau gue jalan sama dia pakai jilbab, gue keliatan makin tambah tuir. Lebih bebas tanpa jilbab. Kata cowok gue, gue keliatan kaya anak SMA, ABG gitu loooh…Lagian, cowok gue lebih suka gue lepas jilbab kalau lagi sama dia….begitu, jeung…!” o…o….w
Kasus III
Mba Yani-juga nama samaran- teller sebuah bank swasta mengeluh kepada saya bahwa dia belum diperbolehkan memakai jilbab. Padahal dia sudah naik haji tahun lalu dan ingin sekali menutup auratnya dengan sempurna. Saya heran. Ah, masa sih ? Padahal kan sudah banyak bank yang pegawai wanitanya memakai jilbab bukan hanya di bank-bank Syariah. “Yah, gak tau deh. Yang pasti di Bank Panin belum boleh pakai jilbab. Jadi, sementara ini solusi buat saya adalah buka-tutup. Berangkat pakai jilbab, selama jam kerja lepas jilbab, nanti pulang dipakai lagi.” Tuturnya. Kasus Mba Yani ini sama dengan seorang Cleaning Service yang sempat mengobrol dengan saya. “Mba sih, enak. Gak masalah kerja pakai jilbab. Kalau di tempat saya, belum boleh tuh ! Pilihannya, buka jilbab pas lagi kerja atau cari kerja di tempat lain.”
Tiga kasus di atas membuat saya merenung sejenak.
Pada kasus Anita dan Sari, apa sih yang menjadi alasan kuat mereka untuk melepaskan kain penutup kepala itu ? Rasanya, tidak ada. Mereka tidak di larang oleh pihak perusahaan tempat mereka bekerja untuk memakai jilbab seperti Mba Yani dan gadis Cleaning Service. Mungkin yang harus di tanyakan kepada mereka adalah apa yang menjadi dasar ketika mereka memutuskan untuk memakai jilbab.
Dasar yang utama adalah perintah Allah dalam Alquran.
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang”. (QS 33:59)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS 24:31)
Jilbab bukan sekedar mode sesaat yang dipakai jika sedang ‘trend’ dan di lepas jika sudah tidak ‘nge-trend’ lagi. Jilbab adalah kewajiban bagi seorang wanita muslim yang telah baliqh. Andrea Hirata menulis di salah satu bukunya, Sang Pemimpi “Bagiku jilbab adalah piagam kemenangan gilang gemilang, kemenangan terbesar bagi seorang perempuan Islam atas dirinya, atas imannya dan atas dunia.”
Jilbab adalah identitas wanita Islam, mahkota yang harus di junjung tinggi. Jika seorang wanita telah memutuskan untuk berjilbab, maka ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Siap menjaga sikap dan perilakunya. Sebab, jika seorang wanita berjilbab melakukan hal-hal yang tidak semestinya, maka yang dituding bukan hanya diri wanita itu, tetapi jilbab dan Islam. Contohnya, jika seorang wanita berjilbab merokok di tempat umum, maka masyarakat akan berkata “Kok pakai jilbab merokok ?” Jilbab dan Islam mendapat kesan negatif. Terlepas dari segala argument tentang hak asasi seseorang untuk bebas melakukan apapun sepanjang tidak mengganggu kepentingan orang lain, wanita yang telah memutuskan untuk berjilbab hendaknya menjaga adab perilaku.
Untuk kasus buka-tutup yang diuraikan di atas, saya berpendapat bahwa sebaiknya mereka –kaum muslimah- meluruskan niat, membekali diri dengan pemahaman dan ilmu yang cukup terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memakai jilbab. Karena bagi saya, detik saat memutuskan untuk memakai jilbab sama seperti membeli ‘one way ticket’. Maksudnya, tidak bisa berjalan mundur kembali. Dalam hal ini tidak ada alasan untuk menanggalkan jilbab kecuali pada mereka yang memang muhrimnya. Untuk yang ‘terpaksa’ buka-tutup jilbab karena alasan ekonomi, maka perbanyaklah mencari ilmu untuk mempertebal keyakinan bahwa rejeki itu sudah di atur-NYA. Tidak mungkin Allah mempersempit rejeki karena kita menjalankan apa-apa yang diperintahkan-NYA.
Saya bukanlah seorang ‘jilbaber’-jilbab super lebar dan gamis gombrong- namun saya terus belajar untuk meluruskan niat, memperkuat iman , mempertebal keyakinan dan memperbaiki diri.
Saya juga tidak berani ‘nge-judge’’ bahwa mereka yang memakai jilbab’biasa’ tidak sebaik mereka yang berjilbab lebar dan gamis. Sebab hanya Allah yang Maha Tahu dan berhak menilai masing-masing orang. “Don’t judge a book by its cover”
http://www.eramuslim.com/oase-iman/jilbab-buka-tutup.htm#.VTvzE8ZWxzl
Soal Gus Dur Sosok Muslim Ideal, Jika Tidak Paham Islam Sebaiknya Ahok Diam #AhokAsbun
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang kerap dipanggil Ahok
menganggap pemimpin yang baik adalah yang apa adanya menampilkan
kepribadian dirinya, seperti Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ia sendiri
juga merasa sudah berusaha untuk menjadi diri yang apa adanya, namun
kenyataannya masih banyak orang yang tidak bisa menerima sikap keras dan
terus terangnya tersebut.
“Zaman kita lucu, kita ngomong bener tapi disalahin, ngomong di depan eh dimaki-maki. Masyarakat kita sebenarnya siap enggak sih untuk sama-sama berbuat benar?” kata Basuki (25/4).
Basuki melihat bahwa masyarakat DKI masih banyak yang belum bisa menerima kata-kata “pedas” dari dirinya. Masyarakat dilihat lebih suka menerima ucapan yang manis-manis namun kenyataannya ucapan manis tersebut tidak bermanfaat sama sekali bagi kehidupan masyarakat.
Terkait dengan bersikap dan berbicara manis, Basuki juga menceritakan pengalamannya saat ia akan maju menjadi calon gubernur di Bangka Belitung, beberapa tahun silam. Saat itu, Basuki pernah ditawari seseorang bahwa jika ia masuk ke Islam atau menjadi seorang mualaf, maka kemungkinan ia terpilih sebagai gubernur bisa mencapai 80 persen. Namun tawaran itu ditolak.
“Kalau cuma karena itu saya jadi mualaf ya enggak bisa. Saya bilang saya enggak ada hidayah, kalau jadi mualaf nanti munafik namanya. Kalau begitu daripada beragama tapi munafik, mending saya kafir sekalian,” tambah Basuki.
Basuki sendiri mengaku pernah sekolah di sekolah Islam dan sedikit banyak tahu tentang Islam. Dia pun mencontohkan seharusnya orang Islam mencontoh Gus Dur, yang berani mengutamakan kebenaran dan tidak malu mengungkapkan siapa dirinya. Selain itu, sikap Gus Dur yang toleran terhadap orang yang berbeda dengannya juga dianggap menjadi salah satu contoh sikap yang baik.
Pandangan Ahok ini tentu saja tidak didasari pemahaman yang benar tentang Islam. Teladan umat Islam sepanjang masa adalah Rasulullah SAW, yang bersikap lembut kepada sesama Muslim dan keras terhadap oraang kafir yang memusuhi Islam. Sedangkan Gus Dur terang-terangan sering bermesraan dengan Zionis-Israel. Siapakah Zionis-Israel? Jika Ahok tidak tahu, maka dia harus belajar lagi sejarah. Zionis-Israel adalah anak cucu dari orang-orang Yahudi Kabbalah yang membunuh Nabi Isa alias Yesus, tuhannya Ahok. (rz)
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/soal-gus-dur-sosok-muslim-ideal-jika-tidak-paham-islam-sebaiknya-ahok-diam-ahokasbun.htm#.VTvxiMZWxzk
“Zaman kita lucu, kita ngomong bener tapi disalahin, ngomong di depan eh dimaki-maki. Masyarakat kita sebenarnya siap enggak sih untuk sama-sama berbuat benar?” kata Basuki (25/4).
Basuki melihat bahwa masyarakat DKI masih banyak yang belum bisa menerima kata-kata “pedas” dari dirinya. Masyarakat dilihat lebih suka menerima ucapan yang manis-manis namun kenyataannya ucapan manis tersebut tidak bermanfaat sama sekali bagi kehidupan masyarakat.
Terkait dengan bersikap dan berbicara manis, Basuki juga menceritakan pengalamannya saat ia akan maju menjadi calon gubernur di Bangka Belitung, beberapa tahun silam. Saat itu, Basuki pernah ditawari seseorang bahwa jika ia masuk ke Islam atau menjadi seorang mualaf, maka kemungkinan ia terpilih sebagai gubernur bisa mencapai 80 persen. Namun tawaran itu ditolak.
“Kalau cuma karena itu saya jadi mualaf ya enggak bisa. Saya bilang saya enggak ada hidayah, kalau jadi mualaf nanti munafik namanya. Kalau begitu daripada beragama tapi munafik, mending saya kafir sekalian,” tambah Basuki.
Basuki sendiri mengaku pernah sekolah di sekolah Islam dan sedikit banyak tahu tentang Islam. Dia pun mencontohkan seharusnya orang Islam mencontoh Gus Dur, yang berani mengutamakan kebenaran dan tidak malu mengungkapkan siapa dirinya. Selain itu, sikap Gus Dur yang toleran terhadap orang yang berbeda dengannya juga dianggap menjadi salah satu contoh sikap yang baik.
Pandangan Ahok ini tentu saja tidak didasari pemahaman yang benar tentang Islam. Teladan umat Islam sepanjang masa adalah Rasulullah SAW, yang bersikap lembut kepada sesama Muslim dan keras terhadap oraang kafir yang memusuhi Islam. Sedangkan Gus Dur terang-terangan sering bermesraan dengan Zionis-Israel. Siapakah Zionis-Israel? Jika Ahok tidak tahu, maka dia harus belajar lagi sejarah. Zionis-Israel adalah anak cucu dari orang-orang Yahudi Kabbalah yang membunuh Nabi Isa alias Yesus, tuhannya Ahok. (rz)
http://www.eramuslim.com/berita/nasional/soal-gus-dur-sosok-muslim-ideal-jika-tidak-paham-islam-sebaiknya-ahok-diam-ahokasbun.htm#.VTvxiMZWxzk
Sabtu, 18 April 2015
Tuduhan Rasulullah Bisa Mengawini Semua Wanita
Saya mendapat sebuah email spam dari seorang misionaris yang mengatakan bahwa rasulullah ‘diperbolehkan’ untuk ‘menggauli’ wanita mana saja termasuk istri yang sudah diceraikan, bahkan ‘dihalalkan’ anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapaknya, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapaknya, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibunya.
Sebenarnya maksud dari QS: Al-ahzab :50-51 ini bagaimana ustadz ? mohon pencerahannya
Terimakasih atas jawabannya
Wassalamu’alaykum
Waalaikumussalam Wr Wb
Perkataan bahwa Rasulullah saw diperbolehkan untuk menggauli wanita mana saja adalah perkataan buruk, dusta dan tidak berdasar yang biasa dikatakan oleh para pendengki syariat Allah dan Rasul-Nya.
Kemudian perkataan ‘termasuk istri yang sudah diceraikan’ barangkali yang dimaksudkan oleh misionaris itu adalah pernikahan Rasulullah saw dengan Zainab binti Jahsy. Sebagaimana diketahui bahwa sebelumnya Zainab adalah istri dari Zaid bin Haritsah sehingga terkadang dia dipanggil dengan Zaid bin Muhammad dan sesungguhnya pernikahan Rasulullah saw dengan Zainab binti Jahsy—setelah diceraikan oleh Zaid—mengandung berbagai hikmah tasyri’iyah (perundang-undangan syariah) yaitu : membatalkan kebiasaan pengangkatan anak yang banyak tersebar luas dikalangan masyarakat jahiliyah.
Zaid mendatangi Nabi saw dengan mengeluhkan istrinya, Zainab. Dan sesungguhnya Allah swt telah memberitahu kepada Nabi-Nya bahwa Zaid akan menceraikannya lalu Nabi saw yang akan menikahinya. Kemudian Rasulullah saw menolaknya dengan mengatakan : “أمسك عليك زوجك واتق الله” (“Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah” (QS. Al Ahzab : 37)
Kemudian tatkala terjadi perpecahan antara Zainab dan Zaid yang kemudian dinikahi oleh Nabi saw dikarenakan hikmah tasyri’iyah yaitu membatalkan kebiasaan pengangkatan anak. (Markaz al Fatwa no. 1570)
Sebagaimana diketahui bahwa kebiasaan yang berlaku pada bangsa Arab didalam adopsi (tabanni) ini adalah mereka menyamakan anak angkat dengan anak-anak kandung mereka didalam warisan dan pernikahan atau menasabkan anak-anak angkat itu kepada mereka, seperti pemanggilan masyarakat Quraisy terhadap Zaid dengan Zaid bin Muhammad.
Adapun permasalahan kedua tentang ‘dihalalkan’ anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapaknya, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapaknya, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibunya sebagaimana disebutkan didalam surat al Ahzab ayat 50 :
وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاء اللَّهُ
عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ
وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ
Artinya : “Dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara
laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu,
anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan
dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu” (QS. Al
Ahzab : 50)Ibnu Katsir mengatakan bahwa ini merupakan sikap moderat dan tengah-tengah yang jauh dari peremehan dan berlebih-lebihan. Sesungguhnya seorang Nasrani tidaklah dibolehkan menikahi seorang wanita kecuali jika jarak antara laki-laki dan wanita itu dipisahkan dengan tujuh orang kakek atau lebih. Sedangkan didalam agama Yahudi maka dibolehkan seorang laki-lakinya menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki kandungnya dan anak perempuan dari saudara perempuan kandungnya.
Kemudian datanglah syariat (islam) yang sempurna dan suci ini menghancurkan sikap berlebih-lebihan orang-orang Nasrani dengan membolehkan menikahi anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapaknya, anak perempuan dari saudara perempuan bapaknya, anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya dan anak perempuan dari saudara perempuan ibunya.
Syariat ini juga mengharamkan apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang membolehkan menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki kandungnya dan anak perempuan dari saudara perempuan kandungnya dan sungguh ini adalah perbutan buruk dan megerikan. (Tafsir al Qur’an al Azhim juz VI hal 442)
Wallahu A’lam
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/maksud-qs-al-ahzab-51.htm#.VTMBeMZWxzl
Kamis, 02 April 2015
Konsumsi Sayuran dan Telur Tingkatkan Penyerapan Karotenoid
Mengkonsumsi telur bersamaan dengan sayuran mentah menambah penyerapan karotenoid.
“Warga Amerika kurang mengkonsumsi sayuran.
Dengan ini, kami berupaya meningkatkan nilai nutrisi sayuran, sekaligus
mengambil keuntungan dari kuning telur,” kata ahli ilmu gizi dari
Purdue University Wayne Campbell, dikutip dari laman sciencedaily.
Campbell dan rekannya mengadakan studi
untuk melihat efek konsumsi telur terhadap penyerapan karotenoid dari
salad sayuran mentah.
Dalam studi itu 16 pemuda yang sehat
diminta memakan tiga versi salad: tanpa telur, dengan setengah telur
orak-arik, dan tiga telur orak-arik.
Mereka yang makan jumlah telur terbanyak
dengan salad berisi tomat, wortel parut, bayam, selada, dan goji berry
menyerap karotenoid lebih banyak 3-9 kali.
Karotenoid yang terkandung di salad itu
antara laim beta-karoten, alpha-karoten, likopen, lutein, dan
zeaxanthin. Dua terakhir juga ditemukan di kuning telur.
“Lain kali, bila makan salad, tambahkan telur matang ke sayuran mentah,” kata Campbell.
“Tidak hanya lutein dan zeaxanthin yang ada di telur, tapi nilai sayuran juga bertambah,” tambah dia.
Penelitian ini bermula dari studi mereka
sebelumnya yang menunjukkan bahwa menambah minyak tertentu ke salad
sayuran mentah akan menambah penyerapan karotenoid.
Menurut Campbell, manfaat ini dapat dirasakan oleh semua orang dari segala usia.
Ia dan timnya berencana mengembangkan
penelitian untuk melihat efeknya terhadap nutrisi yang larut lemak,
termasuk vitamin D dan E.*
Langganan:
Postingan (Atom)





