Tampilkan postingan dengan label Kisah Muallaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Muallaf. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Desember 2014

Lagi, Pastur Yang Diajak Ke SurgaNya , InsyaAllah

Pastur lain yang memutuskan menjadi muallaf dan menanggalkan gelar keuskupannya yakni Jason Cruz. Dalam upaya pencarian akan Tuhan, Cruz melewati sejumlah tahapan berliku sebelum mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sayang, ia tidak menemukan kebenaran (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) pada awalnya. Sebaliknya, ia mencoba mempelajari Hinduisme karena dianggap dapat mengakhiri penderitaan yang ia alami. Cruz begitu serius mendalami ajaran Hindu. Ia bahkan mengubah namanya dengan nama Hindu.
“Saat itu aku merasa terbebas dari kecanduan obat-obatan. Hidupku lebih positif. Tapi itu tidak bertahan lama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukan padaku bahwa Hindu bukanlah jalan menuju kebenaran hakiki,” kenang dia.
Dia pun meninggalkan ajaran Hindu, Cruz kembali pada agama Katolik Roma. Oleh gereja, ia ditawarkan untuk menetap di sebuah gereja di New Mexico. Bertepatan dengan tawaran itu, keluarganya, (Ibu, kakak dan adiknya) memutuskan untuk pindah ke Arizona. Saat itu, ia mulai memiliki hubungan dekat dengan orang banyak.
Cruz pun mulai menjalani program seminar. Bertahun-tahun ia ikuti pogram tersebut sehingga akhirnya berhasil menjadi pastur. Dia ditugaskan gereja untuk mempelajari tradisi agama lain di daerah Metro Phoenix.
Sembari menjalankan tugasnya itu, Cruz juga menyambi sebagai pekerja di Biro Kesehatan. Dia mengunjungi sejumlah tempat ibadah agama lain, termasuk masjid. Dalam kunjungannya ke masjid, Cruz merasa ada kesempatan emas untuk belajar tentang Islam. Oleh seorang Muslim, ia diminta untuk mendatangi Masjid di Tempe, Arizona.
Sesampainya di masjid itu, Cruz segera membaca buku-buku tentang Islam. Setelah membaca, ia begitu terkejut. “Saya belum tahu, kalau rasa terkejutku itu merupakan bentuk hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya pun kembali mengunjungi masjid itu dan banyak berdialog dengan Imam Ahmad Al-Akoum,” tuturnya.
Al-Akoum, merupakan Direktur Regional Masyarakat Muslim Amerika. Ia seorang yang begitu terbuka bagi penganut agama lain untuk berdiskusi tentang Islam. Banyak warga AS yang mencari informasi tentang Islam dari Al-Akoum. “Mengikuti kelas bimbingan Akoum, saya melihat Islam adalah kebenaran hakiki. Beberapa waktu kemudian, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid yang sering saya kunjungi, Alhamdulillah,”  ujarnya.
Menjadi Muslim, Cruz banyak mengalami perubahan. Keluarganya sedih, sebab Cruz memeluk agama yang ditakuti anak-anaknya. Ia pun berusaha memberikan pemahaman yang baik tentang Islam kepada mereka.
Tidak mudah memang bagi Cruz untuk menjalani identitas barunya sebagai Muslim. Dia sempat mengalami stres, lalu memutuskan untuk kembali berdiskusi dengan Al-Akoum tentang masalah yang dialaminya. Al-Akoum mengatakan padaku bahwa tahun pertama sebagai Muslim tentu merupakan masa yang paling sulit. Ia lalu menyarankan untuk banyak berkomunikasi dengan Muslim lainnya.
Saran Al-Akoum membuat iman Cruz semakin mantap. Ia mulai mendapatkan pekerjaan, yakni sebagai manajer pada sebuah program pencegahan penyalahgunaan alkohol dan narkoba, serta HIV dan hepatitis
Selama itu pula, Cruz mulai menikmati identitasnya sebagai Muslim. Ia sangat aktif menjadi sukarelawan. Bahkan, ia dinominasikan menjadi kepala Dewan Masjid Tempe. “Insya Allah, jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengizinkan, saya ingin mendalami ilmu fikih guna memajukan kepentingan Islam dan umat yang saya cintai. Semua ini adalah karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pungkasnya.
-Dani Fitriyani-
http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/lagi-pastur-yang-diajak-ke-surganya-insyaallah.htm#.VJyArsKAM

Sabtu, 20 Desember 2014

“Saya Jatuh Cinta Menggunakan Jilbab”

Saya telah mengenakan jilbab sebelum masuk Islam. Selama hampir satu setengah tahun sebelum saya menerima Islam sebagai agama saya, saya telah mempelajari agama dan belajar tentang prinsip-prinsip dan karakteristiknya.
Tentu saja, sebagai seorang wanita, saya sangat tertarik dalam persoalan-persoalan yang terkait dengan perempuan. Tapi saya melihat jilbab menjadi simbol yang sangat terlihat melekat pada perempuan. Saya pun menjadi tertarik mengetahui tujuan wanita berhijab dan menjadi terpesona dengan wanita yang mengenakannya.
Pada saat studi saya tentang Islam terus berlanjut, saya semakin aktif ke toko buku dan membaca dengan teliti tentang Islam. Terdapat terjemahan Al Quran dalam bahasa Inggris berjajar di rak bersama dengan koleksi hadist dan cerita Nabi Muhammad (SAW) dan para sahabatnya. Tapi pada saat melahap semua bacaan dan ceramah tentang Islam, saya juga tertarik ke bagian lain dari toko buku yang terdapat barisan abaya dan tumpukan jilbab. Dari sini kemudian saya menemukan keberanian untuk mencoba dan membeli jilbab pertama saya.
Saat Mengenakan Jilbab
Saat teringat ketika pertama kalinya mengenakannya. Jilbab rupanya hanya satu lembar potongan sederhana. Tidak ada kesulitan apa pun ketika saya mulai mencobanya.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi ketika saya telah mengenakannya. Tiba-tiba saya segera melepaskannya kembali jilbab hijau itu dari kepala saya. Saat saya melihat sekilas diri saya di cermin, saya jadi terkejut. Ini mungkin karena saya agak terlalu cepat mencoba mengenakannya. Selain melihat diri saya tampak sama sekali berbeda dan asing, segera tergambarkan stereotip negatif tentang wanita berjilbab yang begitu sering digambarkan di media. Ini memicu respon drastis dan ngeri di kepala saya.
Namun, kemudian saya segera pulih dari kondisi ini dan saya merasionalisasi diri saya bahwa saya membeli jilbab hanya digunakan bilamana saya memerlukan mengunjungi masjid untuk studi. Kalau saya melihat lagi ke belakang, rasa ngeri saya mengenakan jilbab tersebut rupanya sebagai langkah kecil menuju penerimaan terhadap jilbab, termasuk apa maknanya dan apa manfaatnya dalam hidup saya. Saya tidak menyadarinya pada waktu itu.
Beberapa bulan berlalu, saya sebenarnya masih belum berkesempatan lagi untuk mengenakan jilbab baru saya. Hanya saja telah membangkitkan keingintahuan saya tentang jilbab, dan saya akan mencobanya pada kesempatan berikutnya. Sementara itu studi saya terus berlanjut dan merasa senang dengannya. Untuk memudahkan transisi, saya memutuskan kembali ke toko buku untuk membeli sesuatu yang lebih menarik bagi selera saya.
Setelah saya menemukan beberapa gaya sederhana yang saya suka, saya diam-diam mulai memakai jilbab keluar di sekitar kota. Biasanya untuk ke toko makanan halal dan ke tempat-tempat lain yang saya tidak menginginkan semua mata tertuju pada saya. Hanya saja saya tidak menggunakannya pada saat keluar untuk makan malam bersama suami. Justru pada saat itu saya jadi merasa nyaman jika saja saya menutupi rambut dan menggunakan jilbab.
Saya percaya, itu merupakan uji coba awal dalam menggunakan jilbab dan perlahan-lahan menjadi terbiasa dengan tampilan baru saya untuk mengenakan jilbab sepenuh waktu, terlebih setelah saya membuat keputusan untuk masuk Islam. Segera setelah mengucapkan syahadat, saya mandi, menutupi kepala saya, dan mulai berdoa. Alhamdullah!
Reaksi Tak Terduga
Hari berikutnya dengan agak gugup saya menuju ke pekerjaan dengan aksesori baru saya dan menghadapi semua orang dengan tatapan penasaran. Agak sulit juga. Tetapi dengan masuknya saya ke Islam, dan kawan-kawan kerja ternyata memberi perhatian dan penerimaan baik, membuat saya bersyukur.
Reaksi dari teman-teman ini mengubah kekhawatiran dari keluarga ketika saya mulai menggunakan jilbab. Tak lebih saya mengatakan, semuanya mencintai saya. Mereka memperlakukan saya, masuknya saya ke Islam, dan perubahan terhadap apa yang saya kenakan, dengan rasa hormat dan toleransi.
Dalam beberapa hal, seolah-olah saya tidak mengalami perubahan apa pun berkaitan dengan penampilan saya, terhadap bagaimana saya diperlakukan oleh keluarga saya dan ketika saya pergi keluar di depan umum.
Saya belum pernah secara terbuka dijauhi, dipermalukan, atau diejek. Saya tahu, saya telah mendapat karunia-Nya, sembari berharap dan berdoa hal yang sama juga diperoleh oleh rekan-rekan wanita yang telah masuk Islam dan memutuskan menggunakan jilbab.
Sekarang saya telah menjalani hampir sembilan tahun sebagai seorang perempuan Muslim berhijab. Saya telah menggunakan sejumlah model jilbab dan rasa senang menggunakannya. Ketika saya melihat di cermin, saya tidak lagi memiliki keinginan untuk melepaskan selamanya.
Sekarang aku merasa memiliki martabat dan perlindungan. Saya sangat bersyukur kepada Allah untuk semua ini. Saya berharap rasa yang sama ini dialami oleh semua rekan saya yang berjilbab. Mereka yang belum mengambil langkah menutupi diri, saya tahu banyak hal ini memang sulit. Insya Allah kita semua akan menemukan cara kita sendiri dalam menggunakan jilbab. Jilbab merupakan kebutuhan kita dan sebagai simbol beribadah kepada Allah.*
/Dikisahkan Carissa D. Lamkahouan, seorang penulis lepas di Amerika Serikat, pada On Islam.

Rabu, 03 Desember 2014

Mantan Model Itu Merasa Damai Setelah Memeluk Islam

Saya berawal ketika saya masih seorang mahasiswa berusia 20 tahun. Saya mendengar tentang Islam melalui beberapa teman baru saya yang Muslim.
Sesungguhnya itulah pertama kalinya saya benar-benar mendengar ada sebuah agama seperti itu. Karena rasa ingin tahu saya dan pada saat yang sama saya sedang mempertanyakan validitas agama saya sendiri (Katolik), sayapun mulai bertanya-tanya tentang agama baru (saya ketahui) ini. Mulailah saya menemui teman-teman saya itu dengan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan, dan mereka memberi jawaban kepada saya. Dan semakin saya belajar, semakin datang keyakinan pada saya.
Keputusan memasuki agama Islam pun datang dengan cepat, hanya dalam waktu empat bulan. Tetapi itu tidak mudah sebenarnya. Memang tidak mudah mengubah dari jati diri saya sebelumnya. Bukan karena saya tidak menginginkannya, tetapi bagaimana menghadapi orang-orang yang telah mengenal jati diri saya sebelumnya. Sulit untuk meyakinkan mereka bahwa semuanya telah berubah.
Saya telah menjadi model pada usia 14 tahun, di usia yang sangat muda. Dan entah bagaimana, aku punya menyukai profesi ini. Aku senang menjadi pusat perhatian, mengikuti kompetisi, kegembiraan, berdandan, walaupun sering merasa salah tentang apa yang telah saya raih tersebut. Kadang-kadang saya merindukannya, tapi saya pun benar-benar tidak tahu apa manfaatnya.
Saya tidak tahu apa yang membuat saya merasa seperti itu. Sebab sebenarnya juga, saya tidak lagi merasa nyaman dengan profesi saya itu.
Saya mempertimbangkan banyak kemungkinan di dalam pikiran. Saya pun membayangkan saat sedang duduk mengenakan topi dan gaun wisuda, saya pun berpikir; “Mau apa selanjutnya?”
Satu hari saya mengunjungi seorang teman dan mencurahkan isi hati saya padanya, dan ketika hendak saya pergi, dia berkata pada saya, “Jangan khawatir Maria, berpikir tentang akan jadi apa Anda dan akan ke mana Anda, Allah akan membawa Anda melalui beberapa jenis cahaya.”
Pada saat teman wanita itu menyudahi perkataannya, saya pun pergi dengan membawa cahaya yang begitu kuat. Saya pun memutuskan memeluk agama Islam, saat itu juga.
Kedua orang tua saya terkejut. Mereka tidak mengerti mengapa saya mengambil keputusan seperti itu.
“Berarti kamu juga tidak mau berkencan lagi?” begitu ibu saya terus-menerus bertanya. Namun, mereka pun tidak memaksa saya lebih jauh. Hanya saya ingat ibu pernah mengatakan, “Saya memberikan kamu kesempatan beberapa bulan, mungkin kamu akan meninggalkannya.”
Tapi jauh di dalam hati, ini adalah hal yang dijalani seumur hidup. Sesuatu yang tidak akan pernah berubah.
Setelah selama bertahun-tahun, orang tua saya akhirnya dapat menerima keadaan saya itu. Ibu saya pun kemudian selalu memberi saya makanan khusus ketika sedang ada hidangan daging babi, dan ia akan memberitahu saya untuk mengenakan jilbab ketika ada tamu di rumah kami.
Islam rupanya telah melunak hati orang tua saya. Dan saya memahami dan menghormati kesulitan yang mereka hadapi sebagai generasi pertama orang Puerto Riko di Amerika Serikat.
Banyak teman saya yang mencoba membuat saya mengubah arah, tapi saya selalu bersujud dan meminta Tuhan untuk memimpin saya ke jalan yang benar dan tetap kuat. Dan Dia melakukannya. Saya tidak pernah menyesal, atau akan menyesal dengan jalan yang telah saya pilih.
Saya telah mengalami ketidaknyaman dalam hidup saya sebelumnya, dan sekarang saya telah menemukan kedamaian. Alhamdulillah, saya punya satu pilihan dan saya telah meraihnya. Islam telah membuat saya tidak menjadi orang yang berlebih-lebihan. Ini membuat saya nyaman dan bersih.*/Dikisahkan Maria Esther Roman, dilansir Saudi Gazette, Jumat (21/11/2014).
http://www.hidayatullah.com/feature/cermin/read/2014/11/21/33652/mantan-model-itu-merasa-damai-setelah-memeluk-islam.html#.VH-CpZ520r8

“Saya dan Cucu Akhirnya Memilih Islam”

Saya ingat saat pertama kali cucu saya, Casey, berusia 18 tahun, mulai berdiskusi dengan saya tentang Islam dan semua hal tentang itu. Rupanya dia telah membaca sejumlah artikel di media online dan juga mendengarkan pembicaraan yang disampaikan Ahmed Deedat dan pembicara lain yang ia sebut “mualaf.”
Saya awalnya bingung dengan ketertarikannya pada Islam. Meskipun dibesarkan sebagai seorang Kristen, Casey telah menunjukkan sedikit minat dengan isu-isu agama, walaupun awalnya jarang mendiskusikannya dengan saya. Saat berbicara dengan dia, saya segera mengetahui bahwa ia telah melakukan banyak pemikiran dan penelitian tentang Islam, dan lebih khusus lagi, Al-Qur’an.
Diskusi kami dengan segera berkisar tentang apa yang telah dipelajarinya, juga pertanyaannya yang diarahkan kepada saya tentang dasar iman Kristen saya. Pertanyaan kepada saya antara lain: “Mengapa ada begitu banyak versi yang berbeda dari Alkitab?”, “Mengapa ada begitu banyak perbedaan pandangan (doktrin) yang dianut oleh orang-orang Kristen, dan mengapa ada sekitar 43.000 penyebutan Kristen yang berbeda di dunia saat ini?”
Saya kemudian menjelaskan, ribuan penyebutkan tersebut terkait dengan perbedaan keyakinan yang diajarkan Alkitab. Mereka mungkin setuju pada banyak hal, tapi ada banyak isu yang mereka juga tidak setuju.
Pertanyaan Casey tersebut adalah salah satu yang juga ada dalam benak saya selama bertahun-tahun, tetapi saya tidak bisa mendapatkan jawabannya.
Saya hanya diajarkan untuk merujuk pada ayat dari Kitab Ibrani ketika saya tidak menemukan jawaban dari Kitab Bibel, yang bunyinya: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang buktinya tidak terlihat.”
Mungkin salah satu hal besar yang membuat saya ingin mengetahui secara mendalam ke dalam Islam adalah ajaran yang hanya ada satu Tuhan, bukan Trinitas seperti yang diajarkan di sebagian besar aliran Kristen. Doktrin Trinitas mengatakan bahwa ada tiga bagian Tuhan, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ajaran ini selalu mengganggu saya; ini yang paling sulit untuk diterima. Padahal di dalam “Kejadian”, buku pertama dari Alkitab, memberitahu kita tentang Tuhan, yakni satu Tuhan, yang menciptakan dunia.
Yang juga mengganggu lainnya adalah doktrin dosa asal. Ini berarti bahwa semua manusia dilahirkan dalam dosa karena orang tua pertama kita (Adam dan Hawa) berdosa. Saya lantas mengetahuinya bahwa Islam menyangkal keyakinan tersebut.
Saya kemudian mulai mendengarkan Ahmed Deedat dan guru agama lainnya secara online. Saya tertantang untuk mengetahui hal yang berbeda dari yang saya ketahui. Setelah saya mengetahui, saya pun terkesan terhadap beberapa hal: satu adalah bagaimana Al-Qur’an itu berasal. Ini tidak seperti Bibel, yang tidak jelas asalnya. Juga tidak ada versi yang berbeda-beda dari Al-Qur’an. Selain itu, Tuhan yang digambarkan dalam Alkitab sering melakukan hal-hal yang Anda sendiri tidak akan berpikir Tuhan akan melakukannya. Hal semacam ini tidak ada dalam Al Qur’an.
Kemudian saya beruntung menemukan Mohamed Haroon Sait melalui website Carolina Muslim. Dia dengan murah hati mengirimkan saya Qur’an serta berbagai bahan bacaan.
Casey dan saya mempelajarinya. Saya belajar tentang 5 Rukun Islam dan sangat terkesan dengan rukun ini karena merupakan instruksi tentang bagaimana menjalani hidup yang memuaskan dan menyenangkan Allah. Saya pun berpikir dalam hati: ini merupakan kitab suci yang berasal dari Allah, keyakinan yang dipraktekkan setiap hari, bukan hanya sekali pada akhir pekan. Saya pun mulai ingin menjadi bagian dari ini.
Kami beruntung, Casey dan saya diundang oleh Haroon untuk mengunjungi Charlotte untuk bertemu dengan dia dan Muslim lainnya. Aku tidak akan pernah lupa dengan keramahan penyambutannya yang hangat. Saat itu Jumat siang, yang kemudian kami diajak makan siang serta bercakap-cakap. Casey dan saya memiliki kesempatan untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikiran kami. Setiap orang memberikan perhatian yang tulus dari apa yang kami katakan dan tanya.
Selang beberapa waktu kemudian Casey dan saya memutuskan menjadi Muslim dan mengucapkan Syahadat . Keputusan kami ambil saat malam hari di Masjid Mustafa. Itu merupakan malam yang saya tidak akan pernah lupa; ketika kita telah mempertimbangkannya, apalagi yang lebih penting dibanding ketika kita menyerahkan hidup kita kepada Allah?
Cucu saya dan saya selamanya berterima kasih kepada saudara saya Mohamed Haroon dan semua yang telah ia lakukan untuk kami. Selain itu, saya tidak bisa melupakan Saudara-saudara dari Charlotte, serta cinta dan kebaikan mereka selamanya. Memang saya akui keluarga saya, teman-teman Casey, dan teman-teman saya, masih belum memahami keyakinan kami ini. Tetapi saya berharap kami dapat mempengaruhi orang-orang lain melalui apa yang akan kami jalani, sehingga mereka akan mengetahui tentang keindahan dan kebenaran Islam.*/Dikisahkan David Cavall dalam Carolina Muslims.
http://www.hidayatullah.com/feature/cermin/read/2014/11/04/32570/saya-dan-cucu-akhirnya-memilih-islam.html#.VH-B2J520r8

Minggu, 02 November 2014

Peristiwa Black September Mengantarkanku pada Islam

Ia tumbuh dan dididik dalam keluarga kelas menengah di AS yang menganut ajaran Kristen, meski tidak menjadi anggota sebuah gereja tertentu atau secara rutin mengikuti kebaktian setiap hari Minggu dan terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan. Satu-satunya momen yang mereka rayakan untuk menunjukkan jati diri keagamaan mereka adalah perayaan Natal.
Meski bukan penganut agama Kristen yang rajin ke gereja, orang tuanya mengajarkan dengan tegas dan jelas soal “akhlak” yang harus dipatuhinya, agar menjadi manusia yang berkarakter dan berperilaku baik. Di sisi lain, minat kedua orang tuanya terhadap sejarah dan budaya beragam bangsa di dunia menciptakan sebuah lingkungan yang mengajarkannya untuk bersikap toleran, menghormati dan mengagumi adat istiadat dan keyakinan orang lain yang berbeda dengan keyakinan yang dianutnya. Dan lingkungan seperti inilah yang suatu saat memberikan kontribusi besar baginya untuk menerima dan akhirnya memeluk agama Islam.
Begitulah latar belakang kehidupan Justin L.Peyton, seorang warga AS keturunan Afrika asal Philadelphia, Pennsylvania. Perjalanannya menuju Islam berawal dari peristiwa serangan 11 September 2001. Ia jadi lebih banyak membaca tentang Islam dan Muslim dari media massa pasca peristiwa itu, meski pemberitaannya cenderung negatif. Namun ia mengaku potret negatif tentang Islam dan Muslim yang diumbar media massa Barat tidak mempengaruhi interaksinya dengan teman atau tetangganya yang Muslim.
“Pemberitaan yang negatif itu tidak pernah mengganggu keinginan saya untuk meluangkan waktu guna mempelajari Islam,” ujar Peyton.
Dengan sikap keterbukaan yang ditanamkan kedua orang tuanya, ia memutuskan untuk melakukan riset sendiri, mencari fakta-fakta tentang Islam dan menemukan benang merah antara pengalaman pribadinya bergaul dengan Muslim dengan pemberitaan media massa yang negatif tentang Islam dan Muslim. Karena saat itu Peyton masih berstatus mahasiswa, maka internet menjadi media pertama yang digunakannya untuk melakukan “pencarian dan pengkajian” itu.
Selama beberapa bulan ia mengakses informasi dari internet, pengetahuannya terus bertambah secara bertahap. Peyton membaca berbagai artikel mulai pengetahuan dasar tentang ajaran Islam dan Muslim sampai hal-hal yang lebih mendalam tentang konsep ketuhanan dalam Islam, nabi-nabi, Al-Quran, hari Kiamat serta petunjuk tentang tata cara melakukan salat, puasa, haji dan pengetahuan lainnya tentang Islam dan Muslim seperti konsep keluarga dalam Islam, pernijahan dan kisah-kisah para mualaf . Cerita tentang mereka yang masuk agama Islam adalah artikel yang paling ia sukai.
Ia lalu membeli Al-Quran dengan terjemahan di sebuah toko buku dan mulai membaca isi Al-Quran. Dalam sehari, Peyton bisa membaca berlembar-lembar halaman Al-Quran dan membuat daftar isi Al-Quran yang paling memicu rasa ingin tahunya yang lebih dalam tentang Islam. “Apa yang saya baca, memberikan sensasi dalam jiwa saya,” kata Peyton.
Mengakses internet dan membaca isi Al-Quran ternyata tidak membuatnya merasa cukup untuk mengetahui dan memahami lebih jauh tentang Islam dan Muslim. Peyton memutuskan untuk berkunjung ke masjid-masjid terdekat di Philadelphia. “Saya mengontak sebuah masjid yang jaraknya 45 mil dari rumah, bicara dengan pimpinan masjid itu dan menyusun jadwal untuk datang dan berdiskusi tentang Islam dengan komunitas Muslim di masjid itu,” ujarnya.
Di hari yang sudah ditentukan, Peyton datang dan menghabiskan banyak waktu dengan seorang muslim di masjid itu. Pertemuan dan perbincangan itu menggugah hatinya, hingga kunjungan keduanya pada musim panas tahun 2002, Peyton meyakini bahwa Islam adalah kebenaran. Saat itu juga Peyton mengucapkan dua kalimat syahadat dan selama sepekan menetap di masjid untuk belajar salat dan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan sendiri sebagai muslim.
Dua bulan setelah masuk Islam, Peyton menandatagani surat-surat untuk bergabung ke korps Marinir AS dan harus tinggal di barak militer. Sebagai orang yang baru masuk Islam, Peyton mengakui bahwa kehidupan militer tidak kondusif. Contohnya, jadwal dan lama latiihan yang kadang membuatnya sangat sulit untuk menunaikan kewajiban salat atau berpuasa saat bulan Ramadan.
Bahkan setelah selesai menjalankan pelatihan sebagai Marinir, Peyton ditempat di daerah yang sama sekali tidak ada komunitas Muslimnya, yang membuatnya makin sulit untuk memperkuat keyakinan agama yang baru dipeluknya. Baru tiga tahun kemudian, Peyton bertemu dengan sesama prajurit yang juga Muslim, yang bisa mengajarkannya tentang Islam dan menuntunnya untuk menjalani kehidupan sebagai Muslim di dalam dinas kemiliteran AS.
Musim panas tahun 2007, Peyton menyelesaikan tugas di dinas kemiliteran dan kembali ke Philadelphia, kampung halamannya. Ia kemudian aktif di sebuah masjid dan dengan kemampuan yang dimilikinya, ia mendapatkan pekerjaan di organisasi muslim terbesar di AS, Council on American-Islamic Relation (CAIR).
“Selama dua tahun menjadi bagian dari komunitas Muslim dan bekerja di CAIR merupakan pengalaman belajar yang luar biasa, membuat saya makin berkembang dan berminat untuk belajar Islam lebih mendalam,” tukasnya.
Tahun 2009, Peyton mendaftarkan diri ke Hartford Seminary di Connecticut dan mendapatkan gelar master di bidang studi Seni Islam, hubungan Muslim-Kristen dan mendapatkan sertifikat di bidang dakwah Islam.

http://www.eramuslim.com/dakwah-mancanegara/peristiwa-black-september-mengantarkanku-pada-islam.htm