Mari menjemput rezeki. Sebab Allah telah cukup membagi. Mungkin cara
kita menjemput rezeki yang belum benar. Mulai dari mengabaikan adzan,
melupakan doa, meninggalkan silaturahim, menafikan ridha orang tua.
"Zaman sekarang susah cari uang. Apa-apa
serba mahal. Hidup makin susah saja rasanya,” Seorang Ibu penjaja
makanan ringan menggerutu sambil mengipasi tubuhnya dengan tangan.
Awalnya aku tak paham kalau ia berbicara kepadaku.
“Mbak
nggak susah ya cari uang? Apalagi pakaiannya seperti
itu,” tatapannya seakan memberi penilaian atas busana yang kukenakan
lengkap dengan
niqab (cadar) yang menutupi wajahku. Kuperhatikan, kedua bola matanya bahkan hinggap sampai ke sepasang kaus kaki yang kukenakan.
Jujur, aku sama sekali tak merasa tersinggung. Kuyakini, tak ada
maksud dan tendensi apapun atas pertanyaan ibu tersebut. Olehnya, aku
hanya membalas dengan senyum. Kata orang, guratan senyum yang
tersembunyi tetap bisa terlihat dari mata seorang perempuan.
“Rezeki itu
nggak akan tertukar, Ibu. Usaha juga
nggak
akan berkhianat pada hasil insya Allah. Tapi ya usahanya bukan cuma
ototnya saja. Tapi juga sujudnya. Alhamdulillah Ibu, saya seperti ini
karena memang saya menghargai apa yang Allah berikan kepada saya. Saya
merasakan bahwa Allah juga menghargai penghargaan saya atasnya. Saya
berdagang, Ibu. Awalnya memang sulit. Tapi kemudahan demi kemudahan
Allah berikan jalan.”
“Sudah Mbak. Saya sudah banyak amalan. Tapi hidup masih tetap seperti
ini saja,” kalimat itu seakan keluar begitu saja dari mulut ibu
tersebut. Lahir dari tatapan nanar mengarah pada serombongan pelancong
yang berjalan santai membawa beberapa barang belanjaan. Lalu ia
mengeluarkan selembar kertas yang terselip di keranjang dagangannya.
Ayat sejuta dinar.
Apa yang selama ini kita cari?
Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) berfirman:
قل إن ربي يبسط الرزق لمن يشاء من عباده ويقدر له وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين
“Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa
yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan menyempitkan (siapa
yang dikehendakiNya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka
Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Surah Saba’ [34]: ayat 39)
Rezeki, jodoh dan maut adalah rahasia Allah. Hak mutlak dari Rabb
Pemilik alam semesta. Dialah yang mengatur semua keadaan
makhluk-makhluk-Nya. Begitu indah, teratur, adil, dan
bijaksana. Semuanya diciptakan berpasang-pasangan. Ada kaya dan
miskin, ada laki-laki dan perempuan, ada nikmat dan musibah, dan
sebagainya.
Dalam agama Islam, istilah rezeki bermakna luas. Tidak hanya berarti
setumpuk uang atau materi lainnya. Terkadang manusia lupa, hanya
memandang rezeki berupa segepok materi saja. Orang itu lupa bahwa hidup,
nafas, sehat, lapang, senyum, bahagia, iman dan semua pemberian dari
Allah, merupakan rezeki yang sangat mahal dan berharga. Ia bahkan tidak
mampu terbeli dengan uang, berapapun banyaknya yang dipunyai.
Allah berfirman:
ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ
وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ
عَلِيمٌ
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan
menyuruh kamu berbuat kejahatan (bakhil); sedang Allah menjanjikan
untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas
(karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 268).
Lihatlah, sejak dini betapa sesungguhnya Allah sendiri menyatakan
bahwa takut miskin (berfikir berlebihan tentang materi) adalah tipu daya
setan. Zaman ini, kita berlomba-lomba mencari kehidupan. Menakar segala
bentuk sukses, bahagia dan lapang, hanya dengan pendapatan, asset dan
kekayaan. Mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan iman dan aqidah
sebagai seorang Muslim, demi menumpuk pundi-pundi uang.
Akibatnya syukur lalu terpinggir sampingkan. Setiap waktunya hanya
merasa haus dan dahaga akan sesuatu yang lebih yang belum ia punyai.
Halal dan haram, teman apalagi kawan, bahkan saudara tak lagi memberi
pengaruh nyata. Kini uang menjadi tujuan utama. Jangankan saat sehat,
sakitpun rela melakukan apapun.
Tak ada yang salah dengan dalih mencari nafkah untuk keluarga, agar
kehidupan keluarga menjadi layak dan tidak dipandang sebelah mata. Pun
demikian, tak ada yang keliru jika seorang Muslim itu kaya dan berharta
banyak. Hanya saja, ada beberapa hal yang patut diluruskan sehak dini.
Bahwa uang itu bukan segalanya, meski biasanya semua butuh uang. Namun
mari benahi, yaitu segalanya juga tidak perlu dikorbankan untuk uang.
Mari menjemput rezeki. Sebab Allah telah cukup membagi. Mungkin cara
kita menjemput rezeki yang belum benar. Mulai dari mengabaikan adzan,
melupakan doa, meninggalkan silaturahim, menafikan ridha orang tua,
kurang berzakat dan sedekah. Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada
Sang Pemberi rezeki..
Nabi Shallallahu alaihi wasallam (Saw) bersabda:
“Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar
tawakkal, niscaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki. Ia
terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di petang hari
dengan perut yang telah kenyang.” (Riwayat Ahmad). .*/Rizki N. Dyah, pegiat komunitas penulis Malika