Senin, 27 Juni 2016

Kenapa Mayit Memilih “BERSEDEKAH” Jika Bisa Kembali Hidup ke Dunia?

Amalan penting untuk kita dibulan Ramadhan karena nilainya Allah lipatgandakan, dan terutama kepada kaum wanita dalam hadits shahih Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menganjurkan para wanita untuk perbanyak sedekah sebagai naungannya di akhirat kelak, karena banyak penghuni neraka dari kaum wanita.
Simaklah nasihat dari Syeikh Maher al’Mueaqly hafidzahullah [Imam Masjidil Haram]:
Kenapa Seorang Mayit Memilih “BERSEDEKAH” Jika Bisa Kembali Hidup ke Dunia?
Sebagaimana firman Allah:
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ
“Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah…” {QS. Al Munafiqun: 10}
Kenapa dia tidak mengatakan,
“Maka aku dapat melaksanakan umroh” atau
“Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dll?
Berkata para ulama,
Tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal…
Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya…
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad)
Dan, bersedekah-lah atas nama orang-orang yang sudah meninggal diantara kalian, karena sesungguhnya mereka sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mereka…
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku tiba-tiba saja meninggal dunia dan tidak sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya dia ingin menyampaikan wasiat, pasti dia akan mewasiatkan agar bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya”. (HR. Bukhari & Muslim)
Dan, biasakan, ajarkan anak-anak kalian untuk bersedekah…
Dan sedekah yang “paling utama” saat ini adalah; menyebarkan tulisan ini dengan niat sedekah.
Karena siapa saja yang mempraktekkan isi tulisan ini, dan mengajarkannya untuk generasi berikutnya, maka pahala-nya akan kembali kepada anda in-syaa Allah.(ts/portalpiyungan)
Sumber : eramuslim

Jumat, 15 April 2016

Alasan saya meninggalkan windows 10 dan kembali pada windows 7



Sempat menggunakan windows 10 selama kurang lebih lima bulan akhirnya saya kembali menggunakan windows 7. Sebenarnya secara tampilan windows 10 memang sangat bagus. Dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan windows 10 jauh lebih bagus dari windows versi sebelumnya. Tapi karena saya mengalami beberapa hal yang menurut saya cukup mengganggu produktifitas.
Alasan itu antara lain :
1.       Setelah komputer dinyalakan, saat mengakses explore memerlukan waktu hingga sekian detik lebih lama jika dibandingkan saat mengakses explore windows 7 . Jadi saya harus menunggu beberapa saat, ketika mengakses file. Hal ini tidak terjadi pada windows 7. Mungkin juga harddisk yang saya miliki terlalu jadul untuk windows 10.
2.       Saya sering mengaktifkan mode sleep ketika komputer harus saya tinggal dalam waktu yang cukup lama. Di windows 10 baru masuk mode sleep kurang lebih selama 5 detik ternyata komputer menyala sendiri dan ini terjadi berulang-ulang kali. Tapi hal ini tidak terjadi ketika saya menggunakan windows 7. Saat menggunakan windows 7 komputer tidak akan menyala jika saya tidak menyalakannya. Tidak tahu juga apakah karena ada pengaturan yang tidak saya tahu di windows 10 atau memang windows 10 saya harus di update untuk memperbaiki bug.
3.       Di windows 10 saya tidak bisa memilih update yang harus saya prioritaskan untuk di instal. Karena windows update berjalan otomatis. Untuk pengguna yang internetnya berdasarkan kouta seperti saya, hal ini tentu sangat memberatkan.
4.       Pernah ada isu bahwa windows 10 akan menghapus software bajakan di komputer pengguna. Dan ini benar terjadi pada saya. Software microsoft office, corel video editor, dan adobe audition yang saya pakai jadi korban. Tentu saja hal ini sangat mengganggu bagi pengguna bajakan seperti saya.
5.       Yang terakhir adalah masalah driver, terutama driver handphone saat saya menghubungkan handphone saya dengan komputer berwindows 10. Maklum saja handphone saya handphone jadul.
6.       Windows 10 lebih cocok digunakan untuk yang kuota internetnya melimpah. Karena memang windows 10 sebagian besar layanannya berbasis internet. Tidak cocok buat saya yang kuota internetnya pas-pasan (he he he)
Itulah beberapa alasan kenapa saya meninggalkan windows 10. Berbeda hardware mungkin saja berbeda yang dialami oleh pengguna lain.
Hardware yang saya pakai :
·         Prosesor  amd athlon II x2 250
·         Amd radeon hd 6570
·         Ram 4gb (2x2gb)
·         Harddisk western digital 320 gb
·         Psu fsp hexa 400 watt

Jumat, 04 Maret 2016

Cari Uang atau Cari Rezeki? [2]

Kuncinya, jika diberi rezeki, bersyukurlah. Jika rezeki sedang seret, maka bersabarlah. Diakui, hal ini mudah diucapkan namun sulit dipraktekkan

Bertawakal, yakin kepada Allah. Percaya sepenuhnya bahwa Allah adalah Maha Pemberi rezeki. Bukan direktur, boss, komandan, petinggi, pembeli, atau siapapun itu. Mereka hanya sebagai perantara yang Allah titipkan harta. Olehnya tak perlu terlalu berlebihan memuja mereka layaknya dewa bagi orang musyrik. Usaha menjemput rezeki haruslah sepadan. Hendak meminta uang saja, apakah sopan bila kita memaksa? Tentu ada adabnya. Sama halnya dengan mencari rezeki, berbaik budi di hadapan mereka, bukan berarti lalu meninggalkan kewajiban sebagai hamba Allah.
Berikut beberapa hal yang patut diperhatikan dalam menjemput rezeki:
Pertama: Mulakan dengan hal yang baik
Allah berfirman:
يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون
Hai orang-orang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 172).
Bagi orang beriman, hendaknya memperhatikan apa yang masuk ke dalam jasadnya dan apa yang dikerjakan. Rezeki yang baik hanya datang dari jalan yang baik pula. Tidak mengambil hak orang lain, menafikan kewajiban, dan lainnya yang tak sesuai dengan ajaran agama.
Kedua: Berusaha dan bekerja
Allah berfirman:
فإذا قضيت الصلاة فانتشروا في الأرض وابتغوا من فضل الله واذكروا الله كثيرا لعلكم تفلحون
Jika telah ditunaikan shalat Jum’at, maka bertebaranlah di muka bumi dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kalian bahagia.” (QS. Al-Jumuah [62]: 10)
Berusaha dan bekerja sesuai porsinya dan berhenti bekerja ketika tiba waktu beribadah. Tidak menzhalimi tubuhnya sendiri dan tidak menzhalimi orang lain, termasuk istri, anak atau keluarga. Terkadang dalih menafkahi keluarga dan mencari penghidupan membuat orang itu lantas menghabiskan waktu sepanjang hari. Tidak memperhatikan kesehatan apalagi keutuhan keluarga. Perintah bekerja dan berusaha dalam ayat di atas bukan pula pembenaran dalam mencintai dunia secara berlebihan.
Ketiga: Bersabar dan bersyukur
Inilah kuncinya. Jika diberi rezeki, bersyukurlah. Jika rezeki sedang seret, maka bersabarlah. Diakui, hal ini mudah diucapkan namun sulit dipraktekkan. Namun itulah fungsi belajar. Sebab belajar bersabar dan bersyukur ini berlaku seumur hidup manusia, tanpa kecuali. Hatta mereka yang aktif mengaji dan berlevel ustadz juga akan terus belajar dengan dua kata kunci ini, bersyukur dan bersabar.
Keempat: Zakat, Infaq, Sedekah
Firman Allah:
قل إن ربي يبسط الرزق لمن يشاء من عباده ويقدر له وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين
Dan apa-apa yang kalian infaqkan dari sebagian harta kalian, maka Allah akan menggantinya.” (QS. Saba [34]: 39).
Dalam ajaran Islam, harta yang dimiliki sesungguhnya adalah harta yang diinfakkan kepada orang lain. Mulailah belajar bersedekah kepada yang terdekat. Lihatlah, adakah orangtua sudah tidak kekurangan? Lalu saudara, keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar.
Kelima: Silaturahim
Percaya atau tidak, terkadang rezeki itu datang dengan jalan silaturahim. Umur dipanjangkan, hidup dibahagiakan, kesehatan diberikan, dan banyak lagi manfaat silaturahim tersebut. Hal ini bukan dibuat-buat, sebab Nabi yang mengajarkan demikian. Rasulullah bersabda:
Barangsiapa yang berkeinginan untuk dibentangkan rezeki baginya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silaturahim.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Keenam: Jangan lupakan majelis ilmu
Makin sering mendengarkan pencerahan, niscaya hati kian mudah dikendalikan. Dengan  mengingat dan mendengar ayat-ayat Allah, hidup akan menjadi tenang. Di antara manfaat yang lain adalah berkesempatan hidup bersama orang-orang saleh. Hal itu akan menjadikan diri selalu terkendali. Ada yang mengingatkan kala diri lupa, menguatkan saat terjatuh, dan mengambil pelajaran atas setiap kesalahan yang pernah  dilakukan.*/Rizki N. Dyah, pegiat komunitas penulis Malika
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Cari Uang atau Cari Rezeki? [1]

Mari menjemput rezeki. Sebab Allah telah cukup membagi. Mungkin cara kita menjemput rezeki yang belum benar. Mulai dari mengabaikan adzan, melupakan doa, meninggalkan silaturahim, menafikan ridha orang tua.
 Buta Mata Tak Buta Hati: Penyandang tuna netra ini menggunakan tongkat menyusuri jalan menjemput rizki Allah.

"Zaman sekarang susah cari uang. Apa-apa serba mahal. Hidup makin susah saja rasanya,” Seorang Ibu penjaja makanan ringan menggerutu sambil mengipasi tubuhnya dengan tangan. Awalnya aku tak paham kalau ia berbicara kepadaku. “Mbak nggak susah ya cari uang? Apalagi pakaiannya seperti itu,” tatapannya seakan memberi penilaian atas busana yang kukenakan lengkap dengan niqab (cadar) yang menutupi wajahku. Kuperhatikan, kedua bola matanya bahkan hinggap sampai ke sepasang kaus kaki yang kukenakan.
Jujur, aku sama sekali tak merasa tersinggung. Kuyakini, tak ada maksud dan tendensi apapun atas pertanyaan ibu tersebut. Olehnya, aku hanya membalas dengan senyum. Kata orang, guratan senyum yang tersembunyi tetap bisa terlihat dari mata seorang perempuan.
“Rezeki itu nggak akan tertukar, Ibu. Usaha juga nggak akan berkhianat pada hasil insya Allah. Tapi ya usahanya bukan cuma ototnya saja. Tapi juga sujudnya. Alhamdulillah Ibu, saya seperti ini karena memang saya menghargai apa yang Allah berikan kepada saya. Saya merasakan bahwa Allah juga menghargai penghargaan saya atasnya. Saya berdagang, Ibu. Awalnya memang sulit. Tapi kemudahan demi kemudahan Allah berikan jalan.”
“Sudah Mbak. Saya sudah banyak amalan. Tapi hidup masih tetap seperti ini saja,” kalimat itu seakan keluar begitu saja dari mulut ibu tersebut. Lahir dari tatapan nanar mengarah pada serombongan pelancong yang berjalan santai membawa beberapa barang belanjaan. Lalu ia mengeluarkan selembar kertas yang terselip di keranjang dagangannya. Ayat sejuta dinar.
Apa yang selama ini kita cari?
Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) berfirman:
قل إن ربي يبسط الرزق لمن يشاء من عباده ويقدر له وما أنفقتم من شيء فهو يخلفه وهو خير الرازقين
Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan menyempitkan (siapa yang dikehendakiNya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Surah Saba’ [34]: ayat 39)
Rezeki, jodoh dan maut adalah rahasia Allah. Hak mutlak dari Rabb Pemilik alam semesta. Dialah yang mengatur semua keadaan makhluk-makhluk-Nya. Begitu indah, teratur, adil, dan
bijaksana. Semuanya diciptakan berpasang-pasangan. Ada kaya dan miskin, ada laki-laki dan perempuan, ada nikmat dan musibah, dan sebagainya.
Dalam agama Islam, istilah rezeki bermakna luas. Tidak hanya berarti setumpuk uang atau materi lainnya. Terkadang manusia lupa, hanya memandang rezeki berupa segepok materi saja. Orang itu lupa bahwa hidup, nafas, sehat, lapang, senyum, bahagia, iman dan semua pemberian dari Allah, merupakan rezeki yang sangat mahal dan berharga. Ia bahkan tidak mampu terbeli dengan uang, berapapun banyaknya yang dipunyai.
Allah berfirman:
ٱلشَّيْطَٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ ۖ وَٱللَّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (bakhil); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 268).
Lihatlah, sejak dini betapa sesungguhnya Allah sendiri menyatakan bahwa takut miskin (berfikir berlebihan tentang materi) adalah tipu daya setan. Zaman ini, kita berlomba-lomba mencari kehidupan. Menakar segala bentuk sukses, bahagia dan lapang, hanya dengan pendapatan, asset dan kekayaan. Mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan iman dan aqidah sebagai seorang Muslim, demi menumpuk pundi-pundi uang.
Akibatnya syukur lalu terpinggir sampingkan. Setiap waktunya hanya merasa haus dan dahaga akan sesuatu yang lebih yang belum ia punyai. Halal dan haram, teman apalagi kawan, bahkan saudara tak lagi memberi pengaruh nyata. Kini uang menjadi tujuan utama. Jangankan saat sehat, sakitpun rela melakukan apapun.
Tak ada yang salah dengan dalih mencari nafkah untuk keluarga, agar kehidupan keluarga menjadi layak dan tidak dipandang sebelah mata. Pun demikian, tak ada yang keliru jika seorang Muslim itu kaya dan berharta banyak. Hanya saja, ada beberapa hal yang patut diluruskan sehak dini. Bahwa uang itu bukan segalanya, meski biasanya semua butuh uang. Namun mari benahi, yaitu segalanya juga tidak perlu dikorbankan untuk uang.
Mari menjemput rezeki. Sebab Allah telah cukup membagi. Mungkin cara kita menjemput rezeki yang belum benar. Mulai dari mengabaikan adzan, melupakan doa, meninggalkan silaturahim, menafikan ridha orang tua, kurang berzakat dan sedekah. Jangan lupa untuk selalu bersyukur kepada Sang Pemberi rezeki..
Nabi Shallallahu alaihi wasallam (Saw) bersabda:
“Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki. Ia terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di petang hari dengan perut yang telah kenyang.” (Riwayat Ahmad). .*/Rizki N. Dyah, pegiat komunitas penulis Malika
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Menjaga Fitrah Anak dalam Keluarga

Seorang ibu memotret anak laki- lakinya yang berusia sekitar 2 tahun dengan mengenakan jilbab pink lalu meng-uploadnya ke sebuah media sosial.
Berbagai komentar lalu bermunculan. “Aduh kayak cewek yah, cantik mirip ibunya,” ada juga yang berkomentar “Sabar yah, sepertinya pengen banget punya anak cewek ya?”
Terkadang hal di atas hanya dianggap biasa oleh sebagian orangtua atau sekedar ajang lucu-lucuan saja.
Padahal demikian itu adalah awal daripada budaya permisivisme yang menjadikan segalanya serba boleh untuk dilakukan.
Lebih jauh hal itu ternyata bisa menjadi faktor adanya penyimpangan dalam fitrah seorang anak. Bahkan ia yang dianggap “lucu” dan “heboh” tadi justru dicela oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam (Saw).
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Dari Ibn Abbas, Rasulullah Shallallau alaihi wasallam (Saw) melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari).
Sebagai orangtua, tak sepatutnya mengajari anak-anak kebiasaan yang tercela yang bisa merusak fitrah tersebut.
Justru hendaknya lingkungan keluarga, terutama orangtua menjadi benteng awal dan utama yang melindungi fitrah anak terhadap kebenaran.
Boleh jadi sebagian orang dewasa di sekitarnya berdalih hanya buat guyonan atau iseng semata, namun memori sang anak tentu saja belum mampu membedakan niat tersebut.
Mereka hanya bisa merekam bahwa perbuatan dan penampilan seperti itu dibolehkan saja oleh orangtua mereka sendiri.
Imam al-Ghazali mengingatkan:
إعلم أن الطريق في رياضة الصبيان من أهم الأمور وأوكدها والصبي أمانة عند والدين وقلبه الطاهر جوهرة نفسية سادجة خالية عن كل نفس و صورة وهو قابلة لكل ما نفش مائل إلي كلما بمال به إليه ونعود الخير وعلمه نشأ عليه وسعد في الدنيا والأخرة.
“… Ketahuilah, melatih anak-anak itu termasuk urusan penting dan menentukan. Anak kecil itu adalah amanat bagi kedua orangtuanya. Hati anak yang (masih) suci itu seperti mutiara yang indah, halus, dan bersih dari setiap lukisan yang menggoresnya. Jiwa anak tersebut condong pada sesuatu yang dibiasakan kepadanya. Jika anak itu tumbuh dalam pembiasaan kepada kebaikan dan ajaran kebaikan, niscaya jiwanya tumbuh pada kebaikan dan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.”
Belakangan ini, para orangtua kembali disentak oleh adanya dukungan sebagian manusia terhadap pegiat LGBT (Lesbian, Homoseksual, Biseks, dan Transgender).
Tentu saja fenomena ini mengerikan sebab ia merupakan perbuatan yang pernah dilaknat secara langsung kepada  kaum Nabi Luth.
Jika orangtua dan keluarga sudah acuh dan tak peduli terhadap keselamatan generasi ke depan.
Jika orang-orang dewasa hanya abai dan menganggap biasa dengan perbuatan dosa besar. Lalu kepada siapa anak-anak tersebut mencari perlindungan?
Kini saatnya, menata ulang visi dalam berkeluarga. Sebab penjagaan terhadap fitrah anak itu bermula dengan pendidikan keluarga secara benar.
Yaitu pendidikan yang mengajarkan ilmu serta adab secara integral. Ada akidah, ibadah, dan akhlak sebagai materi yang tak terpisahkan buat anak-anak generasi penerus perjuangan bangsa.
Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. Al-Tahrim [66]: 6).*/Mujtahidah, ibu rumah tangga di Batu Kajang, Kaltim
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Selasa, 29 Desember 2015

Tahukah kenapa diadakan selamatan 3 bulanan dst. saat istri hamil?



Bagi orang Indonesia, khususnya Jawa pasti tidak asing lagi dengan tradisi telonan (tiga bulanan), tingkepan (tujuh bulanan) dan brokohan (selamatan yang diadakan sesaat setelah kelahiran bayi). Terlepas dari polemik bid’ah atau bukan, di sini saya hanya akan membahas petuah bijak yang ada dalam tradisi atau budaya tersebut sehingga sebisa mungkin kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan syirik yang sangat dibenci Allah SWT.
Yang pertama saya bahas pertama adalah telonan (tiga bulanan).
عن أبي عبدالرحمن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق " إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة
Dari Abu 'Abdirrahman Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anh, dia berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, "Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi 'Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya. maka demi Alloh yang tiada Tuhan selainnya, ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Alloh lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.
[Bukhari no. 3208, Muslim no. 2643]
Sebagian ulama menafsirkan hadits diatas janin diberikan nyawa oleh Allah SWT saat memasuki usia 120 hari. Maka sebelum janin diberi nyawa maka kita dianjurkan meminta kepada Allah SWT agar memberikan yang baik-baik mengenai janin yang dikandung. Mulai dari rezeki yang banyak dan berkah, minta umurnya panjang dan digunakan untuk beramal sholeh, dan semoga baik diakhirnya. Saat mengadakan tradisi tersebut pasti kita sering melihat adanya buceng (nasi tumpeng), endhog (telur ayam), kuluban (sayuran).
Tahukah kalian kenapa ada makanan yang seperti itu?. Sekarang saya akan menjelaskannya satu persatu. Mulai dari buceng (nasi tumpeng). Buceng dalam bahasa jawa berasal dari nyebuto sing kenceng. Disini dimaksudkan agar kita banyak menyebut Asma Allah swt, dengan kata lain kita banyak berizikir dan meninggalkan maksiat. Kita akan menjadi orang tua, tentu kita harus mempersiapkan diri dengan baik karena kita akan menjadi panutan buat anak kita.
Yang kedua adalah endhog (telur ayam). Berasal dari kata ndhok yang dalam bahasa Indonesia artinya letakkan. Apa yang diletakkan? Yaitu kuluban (sayuran) dari kata Qulbun yang dalam bahasa Indonesia berarti hati. Maksudnya di sini kita harus merendahkan hati kita di hadapan Allah swt. Lalu ada keluwih, moga-moga nanti jadi anak sing linuwih (punya kelebihan).
Lalu ada selamatan tingkepan, dari kata tingkep (ati-ati lek ngekep) hati-hati kalau memeluk. Karena kandungan istri sudah mulai membesar, tidur telentang tidak enak, tidur tengkurap malah seperti timbangan.
Setelah bayi lahir ada selamatan brokohan, dari kati barokah. Ya, anak adalah barokah dari Allah swt. Maka sebagai rasa syukur, orang tua si bayi mengadakan selamatan (orang lain biasa menyebut bersedekah).

Semoga setelah membaca tulisan ini, kita semakin paham mengapa tradisi ini diadakan dan apa maksud dan tujuannya sehingga kita tidak terjebak dalam fanatisme buta yang malah takutnya menjerumuskan kita dalam perbuatan syirik

Petuah bijak dalam pernikahan adat jawa



Di dalam resepsi pernikahan yang menggunakan adat jawa, pasti kita sering melihat penggunaan kembar mayang, kuade, ritual injak telur, nemokne manten (mempertemukan kedua mempelai). Tapi tahukah sebenarnya arti dari hal-hal yang saya sebutkan tadi. Sebagian besar pasti menjawab tidak. Karena memang sebagian masyarakat hanya mengikuti tradisi dari nenek moyang tanpa pernah bertanya tentang makna dari tradisi tersebut.
Yang pertama adalah kembar mayang. Ada banyak sekali bagian dari kembar mayang, mulai dari batang pohon pisang, janur kuning, mayang, daun puring, daun andong, daun beringin, lalu burung-burungan dari janur kuning.
1.       Mayang adalah bunga pohon pinang, pinang itu pohonnya lurus tidak bercabang. Nasehatnya adalah diharapkan menjadi suami dan istri yang lurus dan jujur. Tidak
mengkhianati kepercayaan yang sudah diberikan.
2.       Batang pohon pisang yang dipakai adalah batang pohon pisang raja, kenapa pisang raja? Karena diharap rezekinya banyak seperti raja ( harus halal dan berkah pastinya).
3.       Daun puring maknanya nyuwun separing-paring ing ngarsane Gusti Allah (meminta sedikasihnya Allah swt) alias tawakkal.
4.       Daun andong artinya andongoo (berdoalah kepada Allah swt)
5.       Daun beringin dari kata ro’in yang artinya pemimpin. Setelah menikah lelaki adalah pemimpin dalam keluarga.
6.       Burung-burungan dari janur kuning. Burung-burungan melambangkan burung merpati, merpati itu hewan yang setia, meskipun dalam satu kandang dicampur 5 merpati jantan dan 5 merpati betina jika bukan pasangannya merpati tidak mau menyetubuhi. Hal ini menasehati kita agar tidak berzina. Dan merpati itu pembagian tugasnya jelas, yang jantan mencari makan yang betina merawat anaknya. Jangan dicoba dibuatkan ayam-ayaman. Karena karakter ayam itu yang betina merawat anaknya yang jantan menyetubuhi tetangganya (becanda).
Yang kedua adalah ritual injak telur. Kita tidak tahu kelak telur itu akan menjadi ayam betina atau ayam jantan jika sudah menetas. Begitu pula setelah kita menikah kita tidak tahu masalah apa saja yang akan kita hadapi. Maka setelah injak telur sang istri membasuh kaki sang suami, ini menggambarkan bahwa diperlukan kerja sama yang baik dari suami istri dalam menyelesaikan masalah.
Yang ketiga ritual nemokne manten (mempertemukan kedua mempelai). Sebenarnya ini adalah mengingat sejarah nabi Adam AS dan Siti Hawa yang dipisahkan oleh Allah Swt saat keduanya diturunkan ke dunia. Lalu keduanya dipertemukan kembali setelah berpisah sekian lama.
Penggunaan kuade, (kuato yo ndhuk, koe arep ngangkat barang sing gede).
Alasnya menggunakan karpet, kalau yang bawah mekar yang atas bisa segera mepet.
Itulah sedikit ilmu yang bisa saya bagikan. Semoga setelah membaca ini, bisa menambah sedikit pengetahuan mengenai adat jawa saat resepsi pernikahan, sehingga kita tidak jadi pengikut buta yang hanya tahu melaksanakan tanpa pernah tahu maknanya.