Kamis, 02 April 2015

Bagaimana Hukum Islam Melihat Status Harta Gono Gini?

Assalamualaikum wr wb. Pak ustad saya sedang menghadapi perselisihan dengan istri saya di mana saya saat ini sedang menjalani proses perdamaian atas laporan istri ke polisian atas tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
Saya di kenai pasal 144 KUHP dan tidak disertai ayat yang lebih jelas. Pada dasarnya saya terjadi keributan pendapat di antara kami.
Kami menikah secara hukum Islam. Saya diminta untuk minta maaf sama istri dan mencabut laporan saya di kepolisian.
Yang jadi pertanyaan saya di dalam hal perdamaian saya diminta membagi harta 1 unit rumah yang masih dalam kredit. Dengan uang muka (DP) pemberian orangtua sebesar 30%. Dan cicilan murni dari uang gaji saya (tidak ada uang gaji istri) apakah harta ini bisa disebut sebagai harta gono gini. Satu hal lagi, istri juga memiliki 1 rumah yang iya masih bayar kredit nya sampai sekarang. Rumah tersebut sudah dibeli secara kredit 3 tahun sebelum menikah, dan sampai sekarang masih menjalankan pembayaran setiap bulannya. Apakah rumah ini bisa di sebut sebagai harta gono gini? Atas waktu dan perhatiannya saya ucapkan terima kasih.
Wasalam
Adi
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Salah satu pengertian harta gono-gini adalah harta milik bersama suami-istri yang diperoleh oleh mereka berdua selama di dalam perkawinan, seperti halnya jika seseorang menghibahkan uang, atau sepeda motor, atau barang lain kepada suami istri, atau harta benda yang dibeli oleh suami isteri dari uang mereka berdua, atau tabungan dari gaji suami dan gaji istri yang dijadikan satu, itu semuanya bisa dikatagorikan harta gono-gini atau harta bersama.
Di dalam Islam tidak ada aturan secara khusus bagaimana membagi harta gono-gini.
Islam hanya memberika rambu-rambu secara umum di dalam menyelesaikan masalah bersama, diantaranya adalah :
Pembagian harta gono-gini tergantung kepada kesepakatan suami dan istri. Kesepakatan ini di dalam Al Qur’an disebut dengan istilah “ash-Shulhu“ yaitu perjanjian untuk melakukan perdamaian antara kedua belah pihak (suami istri) setelah mereka berselisih.
Allah subhanhu wa ta’ala berfirman :
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزاً أَوْ إِعْرَاضاً فَلاَ جُنَاْحَ عَلَيْهِمَا أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحاً وَالصُّلْحُ خَيْرٌ
“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz  atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya untuk mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka).“ (QS:  An Nisa’ : 128 )
Ayat di atas menerangkan tentang perdamaian yang diambil oleh suami istri setelah mereka berselisih. Biasanya di dalam perdamaian ini ada yang harus merelakan hak-haknya, pada ayat di atas, istri merelakan hak-haknya kepada suami demi kerukunan antar keduanya. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam:
عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
Dari Amru’ bin Auf al-Muzani dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah Shallallu ‘Alaihi Wassallam bersabda: ”Perdamaian adalah boleh di antara kaum Muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal dan perdamaian yang menghalalkan yang haram.“  (HR: Abu Dawud, Ibnu Majah, dan disahihkan oleh Tirmidzi)
Begitu juga dalam pembagian harta gono-gini, salah satu dari kedua belah pihak atau kedua-duanya kadang harus merelakan sebagian hak-nya demi untuk mencapai suatu kesepakatan. Umpamanya : suami istri yang sama-sama bekerja dan membeli barang-barang rumah tangga dengan uang mereka berdua, maka ketika mereka berdua melakukan perceraian, mereka sepakat bahwa istri mendapatkan 40 % dari barang yang ada, sedang suami mendapatkan 60 %, atau istri 55 % dan suami 45 %, atau dengan pembagian lainnya, semuanya diserahkan kepada kesepakatan mereka berdua.
Memang kita temukan di dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) dalam Peradilan Agama, pasal 97, yang menyebutkan bahwa :
“Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.”
Keharusan untuk membagi sama rata, yaitu masing-masing mendapatkan 50%, seperti dalam KHI di atas, ternyata tidak mempunyai dalil yang bisa dipertanggung jawabkan, sehingga pendapat yang benar dalam pembagian harta gono gini adalah dikembalikan kepada kesepakatan antara suami istri.
Kesepakatan tersebut berlaku jika masing-masing dari suami istri memang mempunyai andil di dalam pengadaan barang yang telah menjadi milik bersama, biasanya ini terjadi jika suami dan istri sama-sama bekerja. Namun masalahnya, jika istri di rumah dan suami yang bekerja, maka dalam hal ini tidak terdapat harta gono- gini, dan pada dasarnya semua yang dibeli oleh suami adalah milik suami, kecuali barang-barang yang telah dihibahkan kepada istri, maka menjadi milik istri. Wallahu A’lam.*/ (Dr. Ahmad Zain An-Najah, M.A)

Kamis, 26 Maret 2015

Disiplin dalam Rumah Tangga; Tangga Awal Kesuksesan

Pada hakikatnya, disiplin merupakan sebuah keteraturan dalam hidup (sehari-hari) yang bisa mulai diajarkan pada seorang bayi sekalipun. Sebuah keteraturan yang memiliki cakupan yang sangat luas dalam berbagai aspek kehidupan. Salah jika kita hanya mempersepsikan disiplin hanya sebagai aturan yang serba ketat, segala sesuatu dibuatkan aturan dan tata tertib berikut sanksi dan hukumannya jika terjadi pelanggaran terhadap aturan tersebut.
Sebagai sebuah miniatur dari sebuah masyarakat yang besar dan kompleks, serta basis pendidikan dan tarbiyah bagi seorang anak, rumah tangga (keluarga) menempati peran dan fungsi yang besar dalam meletakkan disiplin sebagai pondasi kepribadian dan karakter seluruh anggota keluarga.
Ibarat anak tangga, maka disiplin menempati anak tangga pertama menuju keberhasilan dan kesuksesan dalam berbagai variannya. Di dalam rumahlah, disiplin diajarkan, dibiasakan dan dikembangkan. Disiplin memang tidak menjamin keberhasilan tapi tidak ada keberhasilan tanpa disiplin. Orang-orang besar dan hebat memiliki antusiasme dan kedisiplinan yang tinggi melebihi orang awam pada umumnya. Para shahabat radhiyallahu ‘anhum adalah bukti yang mewarisi antusiasme dan kedisiplinan dalam ilmu, ibadah dan semua bentuk ketaatan.
Sebuah keteraturan akan melahirkan kekuatan, sehingga dalam masa I’dadul quwwah, kedisiplinan terhadap berbagai rancangan amal jama’i yang telah diprogramkan tidak bisa diabaikan. Hatta, dalam kehidupan keluarga khususnya dalam mendidik anak-anak yang kuat fisik dan mentalnya, fikriyah, ibadah maupun akhlaknya, niscaya kesemuanya membutuhkan kedisiplinan dalam pendidikan dan pembiasaan mereka. Dan, kepada orang tualah Allah SWT memberikan tanggung jawab pendidikan yang pertama dan terutama. Oleh karena itu, hendaklah kita menjadi cermin yang jernih dan konsisten bagi anak-anak dengan memberikan contoh yang hidup dalam pribadi kita. Energi keteladanan adalah yang terkuat memberikan pengaruh dalam pribadi seorang anak.
Disiplin adalah Tentang Mengatur Waktu dan Amal
Sedemikian penting waktu, Allah SWT banyak menggunakan waktu sebagai sumpah di awal ayat beberapa surat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-‘Ashr Allah berfirman ;
وَالْعَصْرِ .إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ .إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (3)” (Al-‘Ashr (103) : 1-3).
Dalam sebuah pepatah Arab yang masyhur disebutkan bahwa waktu itu ibarat pedang yang tajam, jika engkau tidak menggunakannya niscaya ia (waktu) yang akan menebasmu dengan ketajamannya. Maknanya banyak. Sering terjadi kita (seolah) kehabisan waktu padahal banyak tugas dan pekerjaan kita yang belum selesai. Atau, kita disibukkan oleh suatu pekerjaan sehingga melalaikan pekerjaan lain yang lebih penting. Atau, kita menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia, tidak bermanfaat bagi peningkatan iman dan ilmu. Atau, kita hanya menghabiskannya untuk hal-hal yang mubah, dan sebagainya.
Sebagai ummahat, berjibaku dengan waktu dan seabreg rutinitas harian tidaklah mudah mencapai kondisi ideal sebagaimana cita-cita saat masih lajang. Barangkali mendisiplinkan waktu dan merutinkan sebuah amalan adalah kendala yang paling umum terjadi. Namun bukan berarti keumuman ini harus selalu ditoleransi, justru inilah masalah yang harus dicari solusinya sesuai kondisi dan keadaan masing-masing pribadi, jika tak ingin terseret oleh waktu.
Ya, waktu terus berjalan tanpa kita bisa menghentikan lajunya. Jika kita tidak disibukkan dengan kebaikan dan ketaatan, niscaya kita disibukkan dengan keburukan dan kefasikan. Jika bukan untuk ketaatan waktu kita gunakan, niscaya kemaksiatan akan memenuhinya. Hanya ada dua pilihan, dan kita yang menentukannya. Pun kita yang kan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak, dan pada saat itu setiap orang kan terperanjat sebagaimana firman-Nya :
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun”.(Al-Kahfi :49)
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ : عَنْ مَالِهِ ، مِمَّ اكْتَسَبَهُ ؟ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ ، مَا صَنَعَ فِيهِ ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ ، فِيمَ أَبْلَاهُ ؟ وَعَنْ عُمُرِهِ ، فِيمَ أَفْنَاهُ ؟ ” أَخْرَجَهُ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ وَقَالَ : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Dari Abu Barzah RA ia berkata, “ Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanyakan kepadanya tentang empat perkara: perihal harta bendanya darimana ia dapatkan dan ia belanjakan dalam hal apa, perihal ilmunya apa yang ia kerjakan di dalamnya, perihal masa mudanya untuk apa ia lewatkan, perihal umurnya untuk apa ia habiskan.” (HR. Tirmidzi dalam kitabnya Al Jami’ dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”)
عن بن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لرجل وهو يعظه : ” اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاَتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ ”
أخرجه الحاكم في المستدرك رقم (7846) 4 / 341 وقال : هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه وصححه الألباني في صحيح الجامع رقم (1077) ، وفي صحيح الترغيب والترهيب رقم
3355)
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “ Rasulullah SAW bersabda kepada seorang lelaki sebagai nasehat kepadanya:
“Jagalah yang lima sebelum datangnya yang lima: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, masa mudamu sebelum masa tuamu dan kayamu sebelum miskinmu.” (HR.Hakim, beliau berkata, “ Ini hadits shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim hanya mereka tidak mengeluarkannya.” Syekh Al Albani menshahihkannya dalam Shahih Al jami’ No 1077 dan Shahih targhib wa tarhib no 3355.).
Adalah sebuah pilihan cerdas jika kita pun beramal dengan amalan orang yang cerdas dalam keseluruhan waktu yang dianugerahkan Allah Taala pada kita, sebagaimana sabda Rasulullah SAW menyebutkan ciri-cirinya kepada kita:
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ اْلمَوْتِ…
“Orang yang cerdas adalah orang yang introspeksi diri dan beramal untuk bekal setelah mati…” (HR. Tirmidzi, beliau berkata,’hadits ini hadits hasan’).
Seorang ahli hikmah juga berkata, “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang cerdas. Yang tidak mengutamakan dunia dan takut akan fitnahnya. Mereka senantiasa memperhatikan dan mereka pun tahu bahwa dunia ini bukan tempat tinggal selamanya. Mereka jadikan dunia laksana samudra, dan menjadikan amal shalih sebagai bahtera untuk berlayar mengarunginya.”
Jadi, kita memang harus selektif dalam memilih aktivitas dan menjadikannya kesibukan yang mengisi waktu-waktu kita. Jangan biarkan waktu bergulir begitu saja tanpa rencana. Awali semua aktivitas dengan basmalah dan niatkan seluruhnya untuk ibadah niscaya kan menyempurnakan keutamaannya.
Aktivitas ringan yang bisa ‘disambi’ dengan pekerjaan lain, yang memiliki keutamaan luar biasa, yang bisa men-charge iman sewaktu-waktu, yakni dzikrullah dengan lisan kita. Andai kita bisa melazimi dan mendisiplinkannya, insyaAllah besar manfaatnya.
Awali dengan Kedisiplinan Diri
Seorang ummahat (orang tua) yang menghendaki anak-anaknya tumbuh dalam kedisiplinan hendaknya memulai hal tersebut dalam dirinya. Disiplin dalam shalat maupun ibadah-ibadah selainnya, disiplin dalam belajar, disiplin dalam berbagai amal ketaatan dan kebaikan serta disiplin dalam menggunakan waktunya sehari-hari.
Mereka adalah anak-anak yang tidak tumbuh melainkan menurut kebiasaan dan pendidikan yang ditanamkan orang tuanya. Jiwa mereka sedemikian lentur, sehingga mudah sekali menerima segala sesuatu yang memberikan pengaruh terhadapnya sesuai dengan lingkungan pertamanya.
Sampai-sampai Rasulullah SAW meletakkan kaidah mendasar yang kesimpulannya adalah seorang anak tumbuh dan berkembang mengikuti dien kedua orang tuanya. Keduanyalah yang memberikan pengaruh yang kuat terhadapnya.
Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Lalu kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Majusi, atau Nashrani sebagaimana permisalan binatang itu melahirkan binatang (yang sama secara utuh). Apakah kamu melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya?” Kemudian Abu Hurairah RA membaca firman Allah SWT:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada dien Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) dien yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Ruum (30) : 30).
Imam Ghazali mengatakan, “Anak merupakan amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan mutiara yang masih polos tanpa ukiran dan gambar. Ia siap diukir dan cenderung kepada apa saja yang mempengaruhinya. Jika ia dibiasakan dan diajarkan untuk berbuat kebaikan, ia akan tumbuh menjadi anak yang baik. Dengan begitu kedua orang tuanya akan berbahagia di dunia dan akhirat. Sedangkan apabila ia dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan sengsara dan binasa. Dosanyapun akan dipikul oleh orang yang bertanggung jawab mengurus dan walinya.”
Beliau juga menjelaskan bahwa mentarbiyah (mendidik) seorang anak serupa dengan pekerjaan seorang petani yang membuang duri dan mengeluarkan tumbuh-tumbuhan asing atau rerumputan yang mengganggu tanaman agar ia bisa tumbuh dengan baik dan membawa hasil yang maksimal.
Allah SWT telah memerintahkan orang tua untuk mencurahkan segala upaya dan terus berbuat tanpa henti untuk mendidik dan membiasakan anak-anak berbuat kebaikan, meluruskan dan memperbaiki kesalahan mereka. Karena inilah jalan yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul. Nabi Nuh AS telah mengajak anak beliau kepada iman, Nabi Ibrahim AS telah memerintahkan putera-puteranya agar hanya beribadah kepada Allah, dan seterusnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahriim (66) :6).
Sungguh, amanah pendidikan adalah di pundak orang tua. Dalam ayat di atas, Allah SWT memulai perintah-Nya kepada orang tua. Sehingga, orangtualah yang harus memberikan pendidikan dan teladan. Dengan memahami sifat anak-anak yang suka memperhatikan dan meniru perilaku orang tua, maka seharusnya orang tua menjadikan hal ini sebagai sarana yang efektif dalam mengarahkan dan membiasakan mereka dalam kebaikan.
Mulailah kebaikan dari diri kita. Mulailah kedisiplinan dari diri kita. Sungguh kemampuan audio-visual mereka sangatlah tinggi – bahkan di luar dugaan kita – dalam menerima respon baik positif maupun negatif. Mereka bukanlah anak kecil yang belum mengerti apa-apa.
Bahkan dalam berbagai penelitian ilmiah modern, kemampuan mereka merespon telah ada sejak masih janin di dalam kandungan. Subhanallah…Maka tidakkah kita rugi jika tidak memanfaatkan potensi ini dan menyalurkan energi yang positif melalui sikap dan tingkah laku kita yang tunduk pada aturan dan kehendak Allah SWT ??
Seorang ahli hikmah berkata, “Bergegaslah mendidik anak-anak sebelum kesibukanmu bertumpuk-tumpuk. Jika ia telah menjadi dewasa namun tidak berakal, sungguh ia akan lebih memusingkan pikiranmu.”
http://www.lasdipo.com/bilik-muslimah/2015/03/17/disiplin-dalam-rumah-tangga-tangga-awal-kesuksesan.html

Polusi Udara Hambat Perkembangan Otak pada Janin

Pengaruh paparan polusi udara terhadap rahim, bisa menimbulkan dampak buruk bagi otak anak-anak dan berkontribusi terhadap kelambatan proses dan masalah perilaku, kata satu penelitian.
Penelitian ini difokuskan pada hidrokarbon aromatik polisiklik (polycyclic aromatic hydrocarbons, PAH), polusi udara beracun yang disebabkan oleh emisi kendaraan, pembakaran batu bara, dan merokok, lapor kantor berita Xinhua.
PAH dapat melewati plasenta dan mempengaruhi anak dan otak hewan percobaan yang belum lahir, sebagai paparan pralahir yang dapat mengganggu perilaku dan pembelajaran, kata peneliti dari Rumah Sakit Anak Los Angeles (CHLA) dan Columbia University.
Untuk menguji efek dari paparan PAH pada struktur otak, para peneliti melakukan studi pencitraan yang melibatkan 40 anak usia sekolah perkotaan di New York City. Anak-anak itu keturunan Latin atau Afrika Amerika.
Anak-anak diamati dari sebelum lahir sampai tujuh sampai sembilan tahun dan ibu mereka dilakukan pemantauan PAH pranatal (saat kehamilan) dan menjawab kuesioner pranatal.
“Temuan kami menunjukkan bahwa PAH adalah kontributor bagi penyimpangan hiperaktif dan kurangnya kemampuan perhatian (attention deficit hyperactivity disorder, ADHD) dan masalah perilaku lainnya karena efek mengganggu polutan pada perkembangan otak awal,” kata peneliti utama Bradley Peterson, Direktur Institute untuk Pengembangan Pemikiran di CHLA.
Penelitian ini menemukan hubungan yang kuat antara peningkatan paparan PAH pranatal dan pengurangan hampir seluruh permukaan materi putih otak kiri.
Berkurangnya permukaan materi putih di sisi kiri otak dikaitkan dengan proses yang lebih lambat dari kecerdasan untuk pemrosesan informasi dan masalah perilaku lain yang lebih parah, termasuk ADHD dan agresi.
Peterson mencatat bahwa temuan penelitian ini terbatas pada populasi minoritas dengan tingkat kemiskinan yang tinggi dan pencapaian pendidikan yang rendah, dan mungkin tidak menggeneralisasi untuk populasi lain, meskipun populasi minoritas miskin di perkotaan tidak seluruhnya terkena polusi udara.
Sebagai awal penelitian ini masih terbatas, para peneliti sedang melakukan studi yang jauh lebih besar untuk mengkonfirmasi dan memperluas temuan mereka.
“Temuan kami meningkatkan kekhawatiran penting tentang efek polusi udara pada perkembangan otak pada anak-anak, dan konsekuensi dari efek-efek otak pada kognisi dan perilaku,” kata Peterson.
“Jika dikonfirmasi, temuan kami memiliki implikasi kesehatan publik yang penting mengingat dampak polusi udara PAH pada masyarakat umum.”
Para peneliti Columbia sebelumnya melaporkan bahwa paparan udara PAH selama kehamilan dalam kelompok ini dikaitkan dengan beberapa gangguan perkembangan saraf, termasuk pelambatan perkembangan anak usia tiga tahun, berkurangnya IQ lisan pada usia lima tahun, dan gejala kecemasan dan depresi pada usia tujuh tahun.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Psychiatry AS, kemudian dilansir New Straits Times, Kamis (26/3/2015).*

Waspadai Berhala Diri

Oleh: Abdullah Sholeh Hadrami
Alhamdulillah, aku sudah melewati masa itu. Jujur aku dulu pernah berpemahaman merasa kelompokku adalah paling benar sendiri dan yang lain adalah sesat.
Pernah aku terperangkap dalam pemikiran bahwa kelompokku adalah Al-Firqotun Najiyah (golongan yang selamat) sedang yang lainnya adalah ahli neraka.
Alhamdulillah akhirnya Allah berikan hidayah kepadaku untuk keluar dari pemikiran sempit seperti itu.
Aku belajar ke banyak guru dan aku mencintai mereka semua dan tidak mungkin melupakan jasa-jasa mereka.. Walau akhirnya Allah arahkan aku untuk berada dalam barisan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Salafy, ini adalah pilihanku.
Bagiku, semua umat Islam adalah saudaraku dan aku suka saling mengingatkan dan saling menasehati serta saling mendoakan.
Aku berharap kita semua sama-sama Allah masukkan ke dalam Jannah.
Pengalaman masa lalu, buku-buku yang dibaca, dan guru-guru yang mengajari serta lingkungan, kesemuanya itu akan berpengaruh dalam pemahaman keagamaan seseorang.
Berbicara tentang kelompok dalam Islam tidak akan pernah tuntas karena semua merasa paling benar dan menuduh yang lain tersesat.
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” [QS: Al-Mukminun [23]: 53]
Kita perlu selalu membaca dan merenungkan ayat ini secara rutin dan terus menerus disertai muhasabah, koreksi dan mawas diri;
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”[QS : An-Najm Ayat [53] 32]
Hanya Allah Yang Maha Tahu siapa yang terbaik diantara kita di SisiNya.
Ada satu berhala dalam diri kita semua yang harus kita hancurkan, yaitu; NAFSU!
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu yang dimilikinya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS: Al-Jatsiyah Ayat [45]: 23]
Daku hanyalah seorang hamba yang miskin papa di hadapanNya. Dosa-dosaku teramat sangat banyak,  amal ketaatanku teramat sangat sedikit, hatiku selalu berbolak-balik, perjalananku cukup jauh, bekalku belum mencukupi, tapi ajalku telah dekat.
Harapanku Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berkenan mengasihi lagi menyayangiku.
Ayat harapanku,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
”Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS: 39 Az-Zumar [39]: 53)
Ya Allah, ampunilah semua kejahilan hamba dan bimbinglah hamba istiqomah di jalanMu yang lurus.
Dari saudaramu yang selalu mencintaimu dan berharap berkumpul denganmu sampai di Jannah Firdaus.*
@AbdullahHadrami

Muslihat Pencuri Vs Kecerdikan Imam Abu Hanifah

Suatu saat datanglah kepada Imam Abu Hanifah seorang laki-laki, ia menangis dan dirundung kesedihan.
“Wahai Imam, sejumlah pencuri telah masuk rumahku dan mengambil hartaku. Aku tahu salah satu dari mereka, ia tinggal di kampung bersama kami. Ketika laki-laki itu tahu kalau aku mengenalnya, maka ia mengikatku dan memaksaku bersumpah untuk mentalak istriku dan memerdekakan para budakku serta mensedahkahkan seluruh hartaku jika aku sampai memberi tahu mengenai dirinya, baik dengan tangan, perkataan maupun isyarat”, lelaki itu bercerita.
“Pergilah kepada sultan agar ia mengumpulkan penduduk kampung. Jika bukan puncuri maka katakanlah,’bukan dia’. Jika engkau tahu pencurinya maka diamlah dan jangan menunjuk  isyarat dengan tanganmu atau perkataanmu. Maka polisi tahu bahwa pencuri itu adalah dia dan dia akan menangkapnya”, jawab Imam Abu Hanifah.
Akhirnya lelaki itu menuruti saran dari Imam Abu Hanifah dan polisi pun berhasil menangkap si pencuri. (Al Adzkiya, hal. 148)

Bohong Itu Bikin Capek, Sist!

Masih ada yang mengganjal di dalam hati. Sebenarnya, Nisa tak ingin ikut memesan jaket seragam yang ditawarkan Nunik tadi. Mengingat sisa uang bulanannya yang sudah sangat mepet. Membayar uang pemesanan jaket tadi, memotong sebagian besar uang bulanannya yang harus cukup hingga akhir bulan.
Minta uang tambahan sama Ibu rasanya tak mungkin karena Ibu biasanya hanya mau menambah uang bulanan Nisa jika memang berkaitan dengan pelajaran atau sekolah.
Sebenarnya Nisa tak ingin ikut memesan jaket itu karena ia pun masih punya beberapa jaket yang bagus. Namun, ia takut, kalau tak ikut memesan jaket dan punya jaket kelas, ia akan dikucilkan. Maklumlah Nisa, baru beberapa minggu saja menjadi murid di sekolah itu.
Ada pula Anak Baru Gede (ABG) yang sengaja menunjuk rumah sepupunya sebagai rumahnya.
Pasalnya ia malu dengan keadaan rumahnya yang tak sebagus rumah sepupunya. Hingga akh, teman-temannya pun tahu dimana rumahnya yang sebenarnya dan lebih parah nge-bully si ABG.
Hati-hati Bohong!
Tak ingin berbeda, takut dikucilkan, takut di bilang kupdet, dan takut-takut lainnya, nggak jarang membuat kita bohong. Foto di depan mall keren yang baru buka (padahal cuma sekadar lewat) atau foto duduk di resto mahal (yang sebenarnya cuma numpang duduk, terus buru-buru ngacir karena takut keburu didatangi sama pelayannya) buat dijadiin foto profil di medsos; semua jadi sah-sah aja demi untuk sekadar ngejar gengsi atau yang sekarang bahasa kerennya pencitraan.
Bohong, memang kadang jadi jalan keluar saat kita tak ingin ditinggalkan dalam pergaulan, tak ingin diremehkan, dan ingin terlihat cantik. Bohong sekarang juga nggak sekadar pakai lisan, tapi juga pakai foto (yang udah diedit puluhan kali) dan pakai status-status di medsos. Hadeehh, makin banyak aja cara bohong jaman sekarang ya, Sister.
Btw, apapun cara kita bohong, sebaiknya kita ingat bahwa Allah Subhanahu Wata’ala sama sekali nggak suka sama orang yang berbohong, “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (itu) Sangat dibenci disisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS: Ash-Shaaff: 2-3)
Nah, karena cara berbohong sekarang juga sudah beraneka macam, kita harus waspada pada apapun yang membuat kita terjerumus pada kebohongan.
Jika kita suka bisnis online, usahakan barang yang kita kirim sesuai dengan yang kita posting. Waktu pengiriman pun sesegera mungkin setelah pembayaran. Jika kita suka selfie, jangan sampai berlebihan menggunakan Perfect 365 karena nantinya kamu bakal nggak pede kalau harus kopi darat. Jika kamu memang tak menyukai sesuatu atau tak sanggup melakukannya, maka jujurlah.
Semakin jujur, semakin kamu tak menyusahkan dirimu sendiri karena orang yang berbohong, nantinya akan terus-menerus berbohong menutupi yang sebenarnya. Kamu juga nggak rugi atau di-bully seperti kasusnya Nisa dan ABG di atas.
So, jujur itu sebenarnya gampang, simple, hemat, dan nggak cape’, Sist! 
*/Kartika Trimarti

Pilih Dada Sempit atau Dada Lapang?

Suatu hari ada seorang ustaz didatangi seorang murid yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu sang murid langsung menceritakan semua masalahnya.
Sang ustaz hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam garam dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.
“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya,” kata Sang Ustaz.
“Asin, asin sekali,“ jawab murid itu sambil meludah ke samping.
Ustaz itu tersenyum, lalu mengajak muridnya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu.
Sesampai di sana, Sang Ustaz itu kembali menaburkan garam ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.
“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah,” Kata Sang Ustaz.
Saat si murid mereguk air itu, ustaz kembali bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar“, sahut si murid.
“Apakah kamu merasakan asin di dalam air itu ?” tanya Ustaz.
“Tidak, ” sahut murid itu.
Ustaz tersenyum sambil berkata:
“Wahai muridku, dengarkan baik-baik. Problem dalam kehidupan, adalah layaknya segenggam garam ini. Semuanya sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Bahagia dan sengsara itu mengikuti perasaan tempat kita meletakkannya. Dadamu harus lapang dan hatimu harus bersih jika kamu ingin hidup damai dan bahagia dalam kondisi apapun.”
Ustaz itu lalu kembali menasehatkan: “Dada dan hatimu adalah wadah itu, tempat kamu menampung segalanya. Jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu menampung setiap permasalahan dalam kehidupan ini, dan merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.”
Sang Ustaz menutup nasehatnya seraya berkata:
“Wahai muridku, jika ingin dadamu lapang dan hatimu bersih kamu harus selalu dekat kepada pemiliknya yang mengusainya, dengan cara selalu taat dan patuh kepadaNya. Dia adalah Robbmu, penciptamu, pemilikmu dan pengatur semua tentang dirimu. Bacalah kitabNya, Al-Qur’an dan hiduplah sesuai dengan petunjukNya. Semoga engkau selamat, sukses dan bahagia wahai muridku, barokallah fiik“.
Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
“Ini (Al-Qur’an) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” [QS: Shood [38]: 29]
Berkata sebagian ahli tafsir:
“Kami menyibukkan diri kami dengan membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’an maka kamipun diliputi oleh keberkahan dan berbagai kebaikan.”*
Akhukum Fillah
@AbdullahHadrami