Pada hakikatnya, disiplin merupakan sebuah keteraturan dalam hidup
(sehari-hari) yang bisa mulai diajarkan pada seorang bayi sekalipun.
Sebuah keteraturan yang memiliki cakupan yang sangat luas dalam berbagai
aspek kehidupan. Salah jika kita hanya mempersepsikan disiplin hanya
sebagai aturan yang serba ketat, segala sesuatu dibuatkan aturan dan
tata tertib berikut sanksi dan hukumannya jika terjadi pelanggaran
terhadap aturan tersebut.
Sebagai sebuah miniatur dari sebuah masyarakat yang besar dan
kompleks, serta basis pendidikan dan tarbiyah bagi seorang anak, rumah
tangga (keluarga) menempati peran dan fungsi yang besar dalam meletakkan
disiplin sebagai pondasi kepribadian dan karakter seluruh anggota
keluarga.
Ibarat anak tangga, maka disiplin menempati anak tangga pertama
menuju keberhasilan dan kesuksesan dalam berbagai variannya. Di dalam
rumahlah, disiplin diajarkan, dibiasakan dan dikembangkan. Disiplin
memang tidak menjamin keberhasilan tapi tidak ada keberhasilan tanpa
disiplin. Orang-orang besar dan hebat memiliki antusiasme dan
kedisiplinan yang tinggi melebihi orang awam pada umumnya. Para shahabat
radhiyallahu ‘anhum adalah bukti yang mewarisi antusiasme dan
kedisiplinan dalam ilmu, ibadah dan semua bentuk ketaatan.
Sebuah keteraturan akan melahirkan kekuatan, sehingga dalam masa
I’dadul quwwah, kedisiplinan terhadap berbagai rancangan amal jama’i
yang telah diprogramkan tidak bisa diabaikan. Hatta, dalam kehidupan
keluarga khususnya dalam mendidik anak-anak yang kuat fisik dan
mentalnya, fikriyah, ibadah maupun akhlaknya, niscaya kesemuanya
membutuhkan kedisiplinan dalam pendidikan dan pembiasaan mereka. Dan,
kepada orang tualah Allah SWT memberikan tanggung jawab pendidikan yang
pertama dan terutama. Oleh karena itu, hendaklah kita menjadi cermin
yang jernih dan konsisten bagi anak-anak dengan memberikan contoh yang
hidup dalam pribadi kita. Energi keteladanan adalah yang terkuat
memberikan pengaruh dalam pribadi seorang anak.
Disiplin adalah Tentang Mengatur Waktu dan Amal
Sedemikian penting waktu, Allah SWT banyak menggunakan waktu sebagai
sumpah di awal ayat beberapa surat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-‘Ashr Allah
berfirman ;
وَالْعَصْرِ .إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ .إِلا الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا
بِالصَّبْرِ
“Demi masa (1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian
(2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kesabaran (3)” (Al-‘Ashr (103) : 1-3).
Dalam sebuah pepatah Arab yang masyhur disebutkan bahwa waktu itu
ibarat pedang yang tajam, jika engkau tidak menggunakannya niscaya ia
(waktu) yang akan menebasmu dengan ketajamannya. Maknanya banyak. Sering
terjadi kita (seolah) kehabisan waktu padahal banyak tugas dan
pekerjaan kita yang belum selesai. Atau, kita disibukkan oleh suatu
pekerjaan sehingga melalaikan pekerjaan lain yang lebih penting. Atau,
kita menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia, tidak bermanfaat bagi
peningkatan iman dan ilmu. Atau, kita hanya menghabiskannya untuk
hal-hal yang mubah, dan sebagainya.
Sebagai ummahat, berjibaku dengan waktu dan seabreg rutinitas harian
tidaklah mudah mencapai kondisi ideal sebagaimana cita-cita saat masih
lajang. Barangkali mendisiplinkan waktu dan merutinkan sebuah amalan
adalah kendala yang paling umum terjadi. Namun bukan berarti keumuman
ini harus selalu ditoleransi, justru inilah masalah yang harus dicari
solusinya sesuai kondisi dan keadaan masing-masing pribadi, jika tak
ingin terseret oleh waktu.
Ya, waktu terus berjalan tanpa kita bisa menghentikan lajunya. Jika
kita tidak disibukkan dengan kebaikan dan ketaatan, niscaya kita
disibukkan dengan keburukan dan kefasikan. Jika bukan untuk ketaatan
waktu kita gunakan, niscaya kemaksiatan akan memenuhinya. Hanya ada dua
pilihan, dan kita yang menentukannya. Pun kita yang kan
mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak, dan pada saat itu
setiap orang kan terperanjat sebagaimana firman-Nya :
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ
مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لا
يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا
عَمِلُوا حَاضِرًا وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang
bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka
berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan
yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya;
dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun”.(Al-Kahfi :49)
عَنْ أَبِي بَرْزَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ : عَنْ مَالِهِ ،
مِمَّ اكْتَسَبَهُ ؟ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ ، مَا صَنَعَ
فِيهِ ؟ وَعَنْ شَبَابِهِ ، فِيمَ أَبْلَاهُ ؟ وَعَنْ عُمُرِهِ ، فِيمَ
أَفْنَاهُ ؟ ” أَخْرَجَهُ أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ فِي جَامِعِهِ
وَقَالَ : هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Dari Abu Barzah RA ia berkata, “ Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat
sampai ditanyakan kepadanya tentang empat perkara: perihal harta
bendanya darimana ia dapatkan dan ia belanjakan dalam hal apa, perihal
ilmunya apa yang ia kerjakan di dalamnya, perihal masa mudanya untuk apa
ia lewatkan, perihal umurnya untuk apa ia habiskan.” (HR. Tirmidzi dalam kitabnya Al Jami’ dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”)
عن بن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه
وسلم لرجل وهو يعظه : ” اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ
قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ
وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاَتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ ”
أخرجه الحاكم في المستدرك رقم (7846) 4 / 341 وقال : هذا حديث صحيح على شرط
الشيخين ولم يخرجاه وصححه الألباني في صحيح الجامع رقم (1077) ، وفي صحيح
الترغيب والترهيب رقم 3355)
Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “ Rasulullah SAW bersabda kepada seorang lelaki sebagai nasehat kepadanya:
“Jagalah yang lima sebelum datangnya yang lima: hidupmu sebelum
matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu,
masa mudamu sebelum masa tuamu dan kayamu sebelum miskinmu.”
(HR.Hakim, beliau berkata, “ Ini hadits shahih sesuai syarat Bukhari dan
Muslim hanya mereka tidak mengeluarkannya.” Syekh Al Albani
menshahihkannya dalam Shahih Al jami’ No 1077 dan Shahih targhib wa
tarhib no 3355.).
Adalah sebuah pilihan cerdas jika kita pun beramal dengan amalan
orang yang cerdas dalam keseluruhan waktu yang dianugerahkan Allah Taala
pada kita, sebagaimana sabda Rasulullah SAW menyebutkan ciri-cirinya
kepada kita:
اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ اْلمَوْتِ…
“Orang yang cerdas adalah orang yang introspeksi diri dan beramal untuk bekal setelah mati…” (HR. Tirmidzi, beliau berkata,’hadits ini hadits hasan’).
Seorang ahli hikmah juga berkata, “Sesungguhnya Allah mempunyai
hamba-hamba yang cerdas. Yang tidak mengutamakan dunia dan takut akan
fitnahnya. Mereka senantiasa memperhatikan dan mereka pun tahu bahwa
dunia ini bukan tempat tinggal selamanya. Mereka jadikan dunia laksana
samudra, dan menjadikan amal shalih sebagai bahtera untuk berlayar
mengarunginya.”
Jadi, kita memang harus selektif dalam memilih aktivitas dan
menjadikannya kesibukan yang mengisi waktu-waktu kita. Jangan biarkan
waktu bergulir begitu saja tanpa rencana. Awali semua aktivitas dengan
basmalah dan niatkan seluruhnya untuk ibadah niscaya kan menyempurnakan
keutamaannya.
Aktivitas ringan yang bisa ‘disambi’ dengan pekerjaan lain, yang
memiliki keutamaan luar biasa, yang bisa men-charge iman sewaktu-waktu,
yakni dzikrullah dengan lisan kita. Andai kita bisa melazimi dan
mendisiplinkannya, insyaAllah besar manfaatnya.
Awali dengan Kedisiplinan Diri
Seorang ummahat (orang tua) yang menghendaki anak-anaknya tumbuh
dalam kedisiplinan hendaknya memulai hal tersebut dalam dirinya.
Disiplin dalam shalat maupun ibadah-ibadah selainnya, disiplin dalam
belajar, disiplin dalam berbagai amal ketaatan dan kebaikan serta
disiplin dalam menggunakan waktunya sehari-hari.
Mereka adalah anak-anak yang tidak tumbuh melainkan menurut kebiasaan
dan pendidikan yang ditanamkan orang tuanya. Jiwa mereka sedemikian
lentur, sehingga mudah sekali menerima segala sesuatu yang memberikan
pengaruh terhadapnya sesuai dengan lingkungan pertamanya.
Sampai-sampai Rasulullah SAW meletakkan kaidah mendasar yang
kesimpulannya adalah seorang anak tumbuh dan berkembang mengikuti dien
kedua orang tuanya. Keduanyalah yang memberikan pengaruh yang kuat
terhadapnya.
Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah RA berkata, “Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ
يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ
الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Lalu kedua orangtuanyalah
yang menjadikannya Yahudi, atau Majusi, atau Nashrani sebagaimana
permisalan binatang itu melahirkan binatang (yang sama secara utuh). Apakah kamu melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya?” Kemudian Abu Hurairah RA membaca firman Allah SWT:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ
الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ
الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada dien Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut
fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) dien yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Ruum (30) : 30).
Imam Ghazali mengatakan, “Anak merupakan amanah bagi kedua orang
tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan mutiara yang masih polos tanpa
ukiran dan gambar. Ia siap diukir dan cenderung kepada apa saja yang
mempengaruhinya. Jika ia dibiasakan dan diajarkan untuk berbuat
kebaikan, ia akan tumbuh menjadi anak yang baik. Dengan begitu kedua
orang tuanya akan berbahagia di dunia dan akhirat. Sedangkan apabila ia
dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja seperti membiarkan
binatang ternak, maka ia akan sengsara dan binasa. Dosanyapun akan
dipikul oleh orang yang bertanggung jawab mengurus dan walinya.”
Beliau juga menjelaskan bahwa mentarbiyah (mendidik) seorang anak
serupa dengan pekerjaan seorang petani yang membuang duri dan
mengeluarkan tumbuh-tumbuhan asing atau rerumputan yang mengganggu
tanaman agar ia bisa tumbuh dengan baik dan membawa hasil yang maksimal.
Allah SWT telah memerintahkan orang tua untuk mencurahkan segala
upaya dan terus berbuat tanpa henti untuk mendidik dan membiasakan
anak-anak berbuat kebaikan, meluruskan dan memperbaiki kesalahan mereka.
Karena inilah jalan yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul. Nabi Nuh AS
telah mengajak anak beliau kepada iman, Nabi Ibrahim AS telah
memerintahkan putera-puteranya agar hanya beribadah kepada Allah, dan
seterusnya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ
وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا
مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ
وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan.” (At-Tahriim (66) :6).
Sungguh, amanah pendidikan adalah di pundak orang tua. Dalam ayat di
atas, Allah SWT memulai perintah-Nya kepada orang tua. Sehingga,
orangtualah yang harus memberikan pendidikan dan teladan. Dengan
memahami sifat anak-anak yang suka memperhatikan dan meniru perilaku
orang tua, maka seharusnya orang tua menjadikan hal ini sebagai sarana
yang efektif dalam mengarahkan dan membiasakan mereka dalam kebaikan.
Mulailah kebaikan dari diri kita. Mulailah kedisiplinan dari diri
kita. Sungguh kemampuan audio-visual mereka sangatlah tinggi – bahkan di
luar dugaan kita – dalam menerima respon baik positif maupun negatif.
Mereka bukanlah anak kecil yang belum mengerti apa-apa.
Bahkan dalam berbagai penelitian ilmiah modern, kemampuan mereka
merespon telah ada sejak masih janin di dalam kandungan.
Subhanallah…Maka tidakkah kita rugi jika tidak memanfaatkan potensi ini
dan menyalurkan energi yang positif melalui sikap dan tingkah laku kita
yang tunduk pada aturan dan kehendak Allah SWT ??
Seorang ahli hikmah berkata, “Bergegaslah mendidik anak-anak sebelum
kesibukanmu bertumpuk-tumpuk. Jika ia telah menjadi dewasa namun tidak
berakal, sungguh ia akan lebih memusingkan pikiranmu.”
http://www.lasdipo.com/bilik-muslimah/2015/03/17/disiplin-dalam-rumah-tangga-tangga-awal-kesuksesan.html