“Tidaklah aku melihat para qari kita ini melainkan orang-orang yang
paling rakus makannya, paling dusta pembicaraannya, dan paling pengecut
di antara kita dalam peperangan,” demikian pria itu bertutur kepada
teman-temannya. Tiba-tiba ada yang menimpalinya dengan penuh kemarahan,
“Dusta! Engkau ini seorang munafik! Akan aku beritahukan ini kepada
Rasulullah.”
Siapa mereka berdua? Apa yang mereka ributkan? Keduanya merupakan
bagian dari rombongan yang berjihad bersama Rasulullah صلى الله عليه
وسلم dalam perang Tabuk. Lantas siapa yang diejek oleh pria yang
pertama? Ia mengejek para sahabat Nabi yang ahli baca Al-Quran.
Karena itulah pria yang kedua menjadi berang lalu mengancam akan
melaporkan ucapannya itu kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Lantas,
apakah ia melaporkannya? Akhirnya ia melaporkannya. Namun, belum sampai
ia di hadapan Rasulullah صلى الله عليه وسلم, wahyu telah turun
mendahuluinya.
“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka
lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah
bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah Allah,
ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu perolok-olok?’ Tidak usah kamu minta
maaf, karena kamu kufur sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan
daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab
golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu
berbuat dosa.” (QS. At-Taubah [9] : 65-66)
Akhirnya datanglah pria pertama tadi kepada Rasulullah صلى الله عليه
وسلم, sedangkan beliau صلى الله عليه وسلم sudah beranjak dari tempatnya
dan menaiki untanya. Ia berkata sembari berpegangan pada sabuk pelana
unta Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sedang kedua kakinya
tersandung-sandung batu, “Ya Rasulullah, sebenarnya kami hanya bersenda
gurau dan bermain-main saja.” Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda
dengan mengucapkan ayat, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu perolok-olok? ” Beliau tidak menengoknya, dan tidak pula berkata kepadanya lebih dari itu. (Disebutkan dalam tafsir Ibnu Katsir)
Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa memperolok-olok apa pun
yang datang dari agama adalah kekufuran dan kemurtadan, mengeluarkan
pelakunya dari islam. Dan itu adalah perkara yang sangat besar dan tidak
ringan tentunya.
Jika orang yang telah merasakan keutamaan berjuang bersama Rasulullah
صلى الله عليه وسلم dan mencecap shalat di belakang beliau saja, menjadi
murtad karena ucapan yang keluar dari lisannya, lantas bagaimana pula
orang yang tidak pernah merasakan keutamaan itu?
Lalu bagaimana dengan orang yang shalat pun sering bolong-bolong dan
kerap bergelimangan maksiat? Apa jadinya jika kondisi amalnya yang sudah
rusak, ditambah pula dengan memperolok-olok agama?
Jika mengolok-olok agama yang tentunya itu bergurau, bukan serius
saja menyebabkan kemurtadan, lantas bagaimana pula jika dilakukan dalam
keadaan serius dan sungguh-sungguh?
Kalau begitu, siapa yang berolok-olok, “Al-Quran itu buatan orang Arab!” bacakanlah kepadanya, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu perolok-olok?”
Siapa yang berolok-olok, “Al-Quran itu kitab porno!” bacakanlah kepadanya, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu perolok-olok?”
Siapa yang bercanda, “Saya sudah tobat dari agama!” bacakanlah kepadanya, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu perolok-olok?”
Siapa yang bersenda gurau, “Jangan puasa, puasa Ramadhan itu perintah manusia!” bacakanlah kepadanya, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu perolok-olok?”
Siapa yang berkelakar, “Setan itu lebih baik dibandingkan Nabi Adam!” bacakanlah kepadanya, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu perolok-olok?”
Siapa yang berseloroh, “Allah keliru telah menyebutkan poligami dalam Al-Quran!” bacakanlah kepadanya, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu perolok-olok?”
Siapa yang bertingkah, “Saya tidak takut neraka! Saya tidak butuh surga!” bacakanlah kepadanya, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu perolok-olok?”
Siapapun dan dengan alasan apapun jika berani memperolok-olok Allah,
ayat-ayat-Nya dan para rasul-Nya atau apa saja perkara dalam agama-Nya,
entah dengan lisan atau perbuatan, bacakanlah kepadanya, “Apakah Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu perolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kufur sesudah beriman.” (QS. At-Taubah [9] : 66)
Demikianlah balasan bagi setiap orang yang melecehkan-Nya dan
menghinakan syiar-syiar-Nya. Allah akan menghukum mereka atas ucapan
yang meluncur dari lisan mereka. Ucapan yang sebenarnya merupakan
perwujudan dari apa yang ada di batin mereka. Ya, kekufuran lahir mereka
menunjukkan akan kekufuran batin mereka. Sebab, seandainya dalam hati
mereka ada pengagungan terhadap-Nya, tentu tak mungkin mereka berani
untuk memperolok-olok dan melecehkan agama serta syiar-syiar-Nya.
“Dan siapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj [22] : 32)
Maka, wahai para pencela Allah, segeralah bertaubat kepada Allah
dengan setulus hati kalian. Hentikanlah kekufuran kalian. Menangislah
dengan penuh penyesalan atas apa yang telah kalian perbuat. Bertekadlah
dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi lagi. Niscaya Allah
mengampuni kalian dan merahmati kalian.
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, “Jika mereka
berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka
tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi,
sungguh, akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap)
orang-orang dahulu.”(QS. Al-Anfal [8] : 38)
Tapi, jika kalian kukuh bersikeras berada dalam penentangan ini, mari… marilah kemari. Ini kabar gembira untuk kalian:
1. Seorang murtad tidak boleh menikah dengan seorang muslim, dan apabila telah menikah, maka batallah pernikahannya.
“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum
mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari
wanita musyrik, walaupun dia menarik hati kalian. Dan janganlah kalian
menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum
mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang
musyrik, walaupun dia menarik hati kalian. Mereka mengajak ke neraka,
sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 221)
2. Seorang murtad tidak bisa mendapatkan warisan dari kerabatnya yang muslim.
“Seorang Muslim tidak berhak mewarisi harta orang kafir dan seorang
kafir tidak berhak pula mewarisi harta seorang muslim.” (HR. Bukhari dan
Muslim dari Usamah bin Zaid رضي الله عنهما )
3. Seorang murtad tidak terjaga darahnya.
“Siapa yang mengganti agamanya (murtad), bunuhlah ia.” (HR. Bukhari)
4. Seorang murtad jika mati tidak boleh dishalati dan dikuburkan di pekuburan muslimin.
“Dan janganlah kamu sekali-kali menyolati (jenazah) seorang yang
mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di
kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan
mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah [9] : 84)
5. Seorang murtad akan disiksa di neraka kekal selama-lamanya
“Siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya kemudian mati
dalam keadaan kafir maka mereka itulah orang-orang yang terhapus
amalannya di dunia dan akhirat. Dan mereka itulah penghuni neraka.
Mereka kekal berada di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah [2] : 217)
Siapkah kalian menghadapi konsekuensi ini?
Jakarta,
anungumar.wordpress.com
http://www.eramuslim.com/oase-iman/anung-umar-tidak-kamu-kafir.htm
Sabtu, 21 Maret 2015
Bahaya! Karyawan Facebook Mampu Akses Akun Kita Tanpa Password
Sering menaruh data pribadi di Facebook? Nampaknya kebiasaan ini
harus Anda ubah, karena ternyata akun facebook Anda dapat diakses oleh
para engineer (baca: insinyur) atau pegawai Facebook tanpa memasukkan
password sama sekali.
Tidak diragukan lagi, Facebook dan perusahaan teknologi besar lainnya termasuk Google, Apple dan Yahoo berusaha untuk menjaga data mereka di luar jangkauan dari lembaga penegak hukum dan mata-mata. Mereka mengadopsi komunikasi, end-to-end solusi enkripsi dan dienkripsi dalam waktu dekat, tapi sekarang mereka memiliki akses ke data pribadi Anda. Setidaknya beberapa karyawan mereka dapat mengaksesnya dengan satu kali klik saja.
Awal pekan ini, direktur label rekaman Anjunabeats, Paavo Siljamäki, memberi perhatian pada masalah tersebut dengan memposting sebuah cerita yang sangat menarik di dinding Facebook-nya. Selama kunjungannya ke kantor Facebook di LA, seorang insinyur Facebook login ke akun Facebook-nya setelah izin, tapi anehnya mereka melakukannya tanpa meminta password!
http://www.lasdipo.com/teknologi/2015/03/05/bahaya-karyawan-facebook-mampu-akses-akun-kita-tanpa-password.html
Tidak diragukan lagi, Facebook dan perusahaan teknologi besar lainnya termasuk Google, Apple dan Yahoo berusaha untuk menjaga data mereka di luar jangkauan dari lembaga penegak hukum dan mata-mata. Mereka mengadopsi komunikasi, end-to-end solusi enkripsi dan dienkripsi dalam waktu dekat, tapi sekarang mereka memiliki akses ke data pribadi Anda. Setidaknya beberapa karyawan mereka dapat mengaksesnya dengan satu kali klik saja.
Awal pekan ini, direktur label rekaman Anjunabeats, Paavo Siljamäki, memberi perhatian pada masalah tersebut dengan memposting sebuah cerita yang sangat menarik di dinding Facebook-nya. Selama kunjungannya ke kantor Facebook di LA, seorang insinyur Facebook login ke akun Facebook-nya setelah izin, tapi anehnya mereka melakukannya tanpa meminta password!
http://www.lasdipo.com/teknologi/2015/03/05/bahaya-karyawan-facebook-mampu-akses-akun-kita-tanpa-password.html
Empat Hal Menyebabkan Su’ul Khatimah
Dalam kitab Ensiklopedia Kiamat (aslinya: al-Yaum al-Akhir:al-Qiyamah ash-Shughra wa ‘Alamat al-Qiyamah al-Kubra), Dr Umar Sulaiman al-Asyqar menulis pasal khusus berjudul “Hal-hal Yang Menyebabkan Su’ul Khatimah
(akhir kehidupan yang buruk)”.
Di dalamnya beliau menyebutkan ada empat perkara yang dapat menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya dalam keadaan buruk sehingga menghantarkannya ke Neraka di kehidupan abadi negeri akhirat kelak. Namun sebelum kita uraikan keempat hal tersebut alangkah baiknya kita perhatikan hadits di bawah ini yang memuat salah satu rukun iman yang fundamental, yaitu iman akan taqdir Allah, baik itu taqdir yang terasa menyenangkan maupun yang terasa pahit.
Seorang yang beriman kepada taqdir yang ditetapkan oleh Allah pastilah sangat khawatir bilamana dirinya termasuk ke dalam golongan yang disabdakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di atas yaitu “… sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya.” Sungguh merugilah orang yang ditaqdirkan Allah seperti itu. Namun tentunya melalui pelajaran ini Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bermaksud untuk menjelaskan adanya orang yang amalan baiknya selama ini sekedar yang tampak pada manusia. Sedangkan bisa jadi pada hakikatnya tersimpan dalam hatinya kejahatan yang kemudian muncul secara lahir pada akhir hayatnya.
Sebaliknya golongan orang yang digambarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai ”dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” Tentunya ini adalah orang yang sangat beruntung dan disayang Allah ta’aala. Boleh jadi manusia memberi penilaian buruk karena perilakunya selama ini, namun sesungguhnya ia memiliki suatu kebaikan tertentu yang tersembunyi dari penglihatan orang lain sedangkan Allah memandang kebaikannya itu layak menjauhkan dirinya dari neraka dan menghantarkannya ke surga. Wallahu a’lam.

Yang pasti, beriman kepada taqdir akan menghasilkan rasa takut yang mendalam akan nasib akhir hidup dan menumbuhkan semangat yang tinggi untuk beramal dan istiqomah dalam ketaatan demi mengharap husnul khatimah. Beriman kepada taqdir bukanlah alasan untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Beriman kepada taqdir justru semakin membuat seseorang berusaha keras berbuat sebanyak mungkin ’amal sholeh dan ’amal ibadah sekaligus menjauhi segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan yang berpotensi menyebabkan terjadinya su’ul khatimah.
Shiddiq Hasan Khan mengatakan bahwa su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin. Pertama, kerusakan dalam aqidah, walau disertai zuhud dan kesholehan. Jika ia memiliki kerusakan dalam aqidah dan ia meyakininya sambil tidak menganggap itu salah, terkadang kekeliruan aqidahnya itu tersingkap pada saat sakratul maut. Bila ia wafat dalam keadaan ini sebelum ia menyadari dan kembali ke iman yang benar, maka ia mendapatkan su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tidak beriman. Setiap orang yang beraqidah secara keliru berada dalam bahaya besar dan zuhud serta kesholehannya akan sia-sia. Yang berguna adalah aqidah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mereka terancam oleh ayat Allah berikut:
Kedua, banyak melakukan maksiat. Orang yang sering bermaksiat akan didominasi oleh memori tersebut saat kematian menjelang. Sebaliknya bila seseorang seumur hidupnya banyak melakukan ketaatan, maka memori tersebutlah yang menemaninya saat sakratul maut. Orang yang banyak dosanya sehingga melebihi ketatannya maka ini sangat berbahaya baginya. Dominasi maksiat akan terpateri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menyebabkan su’ul khatimah. Adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Kaba’ir mengutip Mujahid: Tidaklah seseorang mati kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa ia gauli. Seorang lelaki yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan kepadanya: ”Ucapkanlah La ilaha illa Allah.” Ia menjawab: ”Skak!” kemudian ia mati. Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti kalimat Tauhid, ia mengatakan skak.
Ketiga, tidak istiqomah. Sungguh, seorang yang istiqomah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat serta malaikat yang paling gigih beribadah, tapi kemudian tatakala ia diperintah untuk sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga ia masuk golongan kafir. Demikian pula dengan ulama Bani Israil Bal’am yang digambarkan dalam ayat berikut:
Keempat, iman yang lemah. Hal ini dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya. Bahkan lemahnya iman dapat mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak tampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda hitam dosa menumpukdi dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakratul maut tiba, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tidak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya. Pada saat yang sama timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cinta Allah yang sudah lemah itu berbalik menjadi benci. Akhirnya bila ia mati dalam kondisi iman seperti ini, maka ia mendapat su’ul khatimah dan sengsara selamanya.
Ya Allah, kami memohon kepadaMu husnul khatimah dan berlindung kepadaMu dari su’ul khatimah. Amin ya Rabb,-
http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/empat-hal-menyebabkan-su-ul-khatimah.htm
Di dalamnya beliau menyebutkan ada empat perkara yang dapat menyebabkan seseorang mengakhiri hidupnya dalam keadaan buruk sehingga menghantarkannya ke Neraka di kehidupan abadi negeri akhirat kelak. Namun sebelum kita uraikan keempat hal tersebut alangkah baiknya kita perhatikan hadits di bawah ini yang memuat salah satu rukun iman yang fundamental, yaitu iman akan taqdir Allah, baik itu taqdir yang terasa menyenangkan maupun yang terasa pahit.
ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ
بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ
إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ
وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا
وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا
إِلَّا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
Dari Abu Abdirrohman, Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu’anhu, dia
berkata: ”Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada
kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan: “…Kemudian
diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh
kepadanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat: Menulis rizkinya,
ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya. Maka demi
Alloh yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu yang
melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga
sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena
taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan
penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada
seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal
itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya
kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapka atas
dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke
dalamnya.” (HR. Muslim)Seorang yang beriman kepada taqdir yang ditetapkan oleh Allah pastilah sangat khawatir bilamana dirinya termasuk ke dalam golongan yang disabdakan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di atas yaitu “… sesungguhnya ada diantara kamu yang melakukan amalan penduduk surga dan amalan itu mendekatkannya ke surga sehingga jarak antara dia dan surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga dia masuk ke dalamnya.” Sungguh merugilah orang yang ditaqdirkan Allah seperti itu. Namun tentunya melalui pelajaran ini Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bermaksud untuk menjelaskan adanya orang yang amalan baiknya selama ini sekedar yang tampak pada manusia. Sedangkan bisa jadi pada hakikatnya tersimpan dalam hatinya kejahatan yang kemudian muncul secara lahir pada akhir hayatnya.
Sebaliknya golongan orang yang digambarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai ”dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk neraka dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” Tentunya ini adalah orang yang sangat beruntung dan disayang Allah ta’aala. Boleh jadi manusia memberi penilaian buruk karena perilakunya selama ini, namun sesungguhnya ia memiliki suatu kebaikan tertentu yang tersembunyi dari penglihatan orang lain sedangkan Allah memandang kebaikannya itu layak menjauhkan dirinya dari neraka dan menghantarkannya ke surga. Wallahu a’lam.
Yang pasti, beriman kepada taqdir akan menghasilkan rasa takut yang mendalam akan nasib akhir hidup dan menumbuhkan semangat yang tinggi untuk beramal dan istiqomah dalam ketaatan demi mengharap husnul khatimah. Beriman kepada taqdir bukanlah alasan untuk bermaksiat dan bermalas-malasan. Beriman kepada taqdir justru semakin membuat seseorang berusaha keras berbuat sebanyak mungkin ’amal sholeh dan ’amal ibadah sekaligus menjauhi segala bentuk kemungkaran dan kemaksiatan yang berpotensi menyebabkan terjadinya su’ul khatimah.
Shiddiq Hasan Khan mengatakan bahwa su’ul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus diwaspadai oleh seorang mukmin. Pertama, kerusakan dalam aqidah, walau disertai zuhud dan kesholehan. Jika ia memiliki kerusakan dalam aqidah dan ia meyakininya sambil tidak menganggap itu salah, terkadang kekeliruan aqidahnya itu tersingkap pada saat sakratul maut. Bila ia wafat dalam keadaan ini sebelum ia menyadari dan kembali ke iman yang benar, maka ia mendapatkan su’ul khatimah dan wafat dalam keadaan tidak beriman. Setiap orang yang beraqidah secara keliru berada dalam bahaya besar dan zuhud serta kesholehannya akan sia-sia. Yang berguna adalah aqidah yang benar yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Mereka terancam oleh ayat Allah berikut:
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ
فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
”Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang
orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang
telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka
menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al-Kahfi ayat
103-104)Kedua, banyak melakukan maksiat. Orang yang sering bermaksiat akan didominasi oleh memori tersebut saat kematian menjelang. Sebaliknya bila seseorang seumur hidupnya banyak melakukan ketaatan, maka memori tersebutlah yang menemaninya saat sakratul maut. Orang yang banyak dosanya sehingga melebihi ketatannya maka ini sangat berbahaya baginya. Dominasi maksiat akan terpateri di dalam hatinya dan membuatnya cenderung dan terikat pada maksiat, dan pada gilirannya menyebabkan su’ul khatimah. Adz-Dzahabi dalam kitabnya al-Kaba’ir mengutip Mujahid: Tidaklah seseorang mati kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa ia gauli. Seorang lelaki yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan kepadanya: ”Ucapkanlah La ilaha illa Allah.” Ia menjawab: ”Skak!” kemudian ia mati. Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti kalimat Tauhid, ia mengatakan skak.
Ketiga, tidak istiqomah. Sungguh, seorang yang istiqomah pada awalnya, lalu berubah dan menyimpang dari awalnya bisa menjadi penyebab ia mendapat su’ul khatimah, seperti iblis yang pada mulanya merupakan pemimpin dan guru malaikat serta malaikat yang paling gigih beribadah, tapi kemudian tatakala ia diperintah untuk sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri, sehingga ia masuk golongan kafir. Demikian pula dengan ulama Bani Israil Bal’am yang digambarkan dalam ayat berikut:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آَتَيْنَاهُ آَيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ
فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ
وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ
ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ
”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan
kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian
dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan
(sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya
dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan
hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu
menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia
mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka)
kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka
sendirilah mereka berbuat zalim.” (QS Al-A’raaf ayat 175-177)Keempat, iman yang lemah. Hal ini dapat melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta dunia dalam hatinya. Bahkan lemahnya iman dapat mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa, sehingga pengaruhnya tidak tampak dalam melawan jiwa dan menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya ia terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat, sehingga noda hitam dosa menumpukdi dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati. Dan ketika sakratul maut tiba, cinta Allah semakin melemah manakala ia melihat ia akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Kecintaannya pada dunia sangat kuat, sehingga ia tidak rela meninggalkannya dan tak kuasa berpisah dengannya. Pada saat yang sama timbul rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah murka dan tidak mencintainya. Cinta Allah yang sudah lemah itu berbalik menjadi benci. Akhirnya bila ia mati dalam kondisi iman seperti ini, maka ia mendapat su’ul khatimah dan sengsara selamanya.
Ya Allah, kami memohon kepadaMu husnul khatimah dan berlindung kepadaMu dari su’ul khatimah. Amin ya Rabb,-
http://www.eramuslim.com/suara-langit/kehidupan-sejati/empat-hal-menyebabkan-su-ul-khatimah.htm
Jenazahku Engkau Yang Memandikan
Manisnya madu perkawinan selama sepuluh tahun terakhir masih terasa
kental di bibir hatinya yang dalam. Wanita yang dinikahi saat duduk di
bangku kuliah semester tujuh itu benar-benar telah menghadirkan
“kesempurnaan” nya sebagai lelaki, sebagai suami dan ayah bagi
anak-anaknya. Hingga kehadiran anak ketiga mereka, ritual kemesraan dan
kehangatan mu’asyarah masih dirasakan seperti dulu, seperti awal
pengantin baru. Selalu saja rasa cinta dan sayang isterinya itu, mampu
menutupi segala cela yang biasa terjadi layaknya di setipa rumah tangga.
Meskipun ada yang kadang terlupa, seperti teh hangat yang luput di sore
hari kepulangannya setelah bekerja, isterinya bisa mengalihkannya
dengan hal lain yang membahagiakan dan menghapus rasa haus dan letihnya.
Bahkan kenikmatan regukan teh Tong Tji kesukaannya, tidak berarti
apa-apa saat isterinya mengatakan,
“Ayah, saya telah menunggumu sejak seperempat jam yang lalu. Ingin segera melihat senyummu yang khas dan menakjubkan”.
Maka dipeluknya mesra wanita itu dengan senyum yang dibanggakannya. Barulah ia mencari anak-anaknya dan menciumnya adil satu persatu. Setelah itu, ia berbisik di ujung anak telinga isterinya yang putih dengan lembut,
”Wah, gara-gara senyumku, teh Tong Tjinya kelupaan”.
Seperti biasa, segera isterinya menyela. Bahkan cerdiknya ia, selaannya sering disesuaikan dengan konteks hidup suaminya. Ia tahu bahwa suaminya sedang dituntut mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris, spontan ia berujar,
”Wait a minute, honey. I will be back with your favorite cup of tea”.
Bagai rembulan yang turun di pangkuannya, terkesima. Hampir biasa ia mendengar ungkapan seperti itu, seperti biasanya melihat bulan purnama di langit yang tinggi. Tetapi kala ungkapan itu meluncur lancar dari bibir isterinya, seolah purnama sengaja turun menghampirinya dan mempertontonkan pesona kecantikannya yang tanpa cela. Maka puaslah hatinya mendapatkan wanita pilihan Tuhan di rumah tangganya. Kadang ia sendiri menerka-nerka, inikah yang dimaksud sakiinah, mawaddah dan rahmah?
Dalam pengalaman empirik pribadinya, kebahagiaan dan kepuasan pada pasangan hidup dapat diperoleh tidak hanya pada saat berada dalam satu selimut. Tetapi ia bisa diraih hampir di seluruh sudut ruang rumah tangganya. Saat ia ditemani di atas sajadah dalam tahajjud malam, saat wanita itu membuka sepatunya di teras rumah, saat membalurinya dengan telon karena cuaca dingin di pojok sofa, bahkan saat membantu isterinya menautkan resleting di punggung baju gamis isterinya. Ada kepuasaan saat ia dilayani dan melayani, meskipun pada hal yang sangat sepele saja.
Maka sering ia merasa miris mendengar ocehan para lelaki yang hanya sanggup mengukur kepuasan berumah tangga hanya dari sudut tempat tidur dan mengabaikan sisi lumrah dari perhatian pasangan hidupnya. Seolah-olah ukuran kepuasan rumah tangga hanya diukur dari termometer tinggi rendahnya suhu saat di ranjang privat. Sementara suguhan secangkir teh, menautkan dasi di leher atau memilihkan warna dasi yang cocok dengan warna kemeja dianggap hal biasa yang tidak perlu diapresiasi sebagai sebuah kepuasan.
Lebih terheran-heran ia, apabila mendengar ada suami ringan tangan menyakiti badan, pahit lidah menyakiti hati dan masam muka yang membuat gundah atas isterinya. Tetapi saat malam merayap pelan dan suasana menjadi temaram, dengan tanpa merasa bersalah ia membuka seluruh tabir yang melekat di tubuh isterinya sampai ia kelelahan dan bermandi peluh. Bukan hanya ia yang keheranan, bahkan manusia terbaikpun begitu terheran-heran dengan perlakuan suami macam ini. Imam Bukhari ada menuliskan dalam sahihnya, hadits nomor 4805 demikian:
Abdullah bin Zam’ah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian memukul isterinya, seperti ia memukul seorang budak, namun saat hari memasuki waktu senja ia pun menggaulinya.”
Sebagai suami, ia merasa bukan suami super dengan gaji besar dan kedudukan yang mapan. Bahkan jika gajinya dimatematikakan, ha ha ha, kalau bukan karena modal ikhlas menerima pemberian Tuhan, rasa-rasanya akan hilang kesabaran hidup dengan penghasilan yang habis dalam hitungan dua minggu. Itu pula yang sering ia keluhkan pada isterinya di sela-sela pengantar tidur malamnya.
Dalam penampilan, wajahnya pun tergolong biasa saja, tidak tampan juga tidak amat mengecewakan. Namun wanita di sampingnya itu tetap menganggapnya sebagai laki-laki terbaik dalam hidupnya. Itu diketahuinya dari membuka diary milik isterinya diam-diam saat ia sudah terlelap.
Benarlah kata seorang motivator, bahwa jangan pernah sepelakan kata-kata. Kata-kata bisa mengubah hal kecil menjadi besar, hal biasa menjadi istimewa dan impian menjadi kenyataan.
Satu hal yang kadang terlupakan, bahwa seorang suami adalah motivator bagi isterinya. Seringkali pula, kesuksesan seorang lelaki terwujud karena wanita di sampingnya menjadi inspirasi yang mengantarkan kesuksesannya itu.
Begitulah setiap hari ia lewatkan dalam kebersahajaan bersama pendamping hidup yang telah memberinya tiga buah hati titipan Tuhan. Tetapi dari seluruh ingatan manis yang membekas di relung sukma romantisme perkawinannya ada satu sesi yang paling keras membekas. Saat laut menjadi saksi bisu perbincangan ala sufi dengan wanita ibu dari anak-anaknya itu.
Senja itu menjadi tidak terlupakan olehnya. Saat menikmati mentari hampir tenggelam di pantai laut Anyer setengah tahun lalu. Perbincangan mereka menjadi sangat serius dan liat. Tidak seperti biasanya yang santai dan cair. Apalagi, deru ombak seolah ingin terlibat dalam obrolan mereka berdua. Sambil jemari mereka bertaut, mereka keheranan bahwa mereka masih menyimpan berjuta-juta kemesraan di saat telah memiliki dua putra dan seorang putri. Genggaman tangan mereka masih dirasakannya bergetar seperti zaman seminggu menikah sepuluh tahun lalu. Apalagi suasana pantai yang romantis, di atas kelembutan pasir laut, deru ombak yang bersahutan dan nyanyian camar yang seolah menggoda seperti selaksa pantun yang melenakan. Romantisme itu terusik.
”Suamiku, kelak aku ingin mati lebih dulu darimu”.
Hatinya melonjak, terkejut dan terpana. Ia gagap sesaat. Hampir ia kehilangan kesimbangan di atas romantisme yang memuncak dan tiba-tiba limbung. Seolah ia tidak siap sebagaimana ia selalu siap menikmati kearifan dan kelembutan kalimat dari bibir isterinya.
Tiba-tiba pendengarannya kacau, suara debur ombak menjadi gemuruh yang mengancam. Nyanyian camar berubah menakutkan seperti berita duka yang menggema. Tiba-tiba perasaan hatinya berubah galau. Pasir laut terasa tidak lagi lembut dan sejuk, tetapi seperti tusukan duri semak dan mendidih. Temaram senja tidak lagi menggairahkan, tetapi seperti tanda bahwa hari akan segera berakhir. Hatinya kecut, pikirannya kusut masai.
”Bunda, kok ngomongnya begitu?”, terbuka juga bibirnya yang sejak tadi terkatup rapat. Dadanya yang seolah sesak, mulai kendur dan teratur nafasnya lebih halus.
”Loh, kan kita pasti semua akan mati. Tidak ada di antara kita yang kuasa menolak kehadirannya cepat atau lambat. Andaikan ada obat agar orang tidak bisa mati, saya ingin membelinya banyak dan meminumnya teratur supaya saya tetap bisa mendampingimu, suamiku”.
”Tapi mengapa harus kita ucapakan ingin duluan atau belakangan? Biarkanlah ia datang tanpa kita mengharapnya, asalkan kita sama-sama siap mengahadapinya. Bukankah ini lebih menentramkan isteriku?”.
Alam seolah turut campur dalam perbincangan itu. Seolah ia memberi isyarat supaya mereka mengambil jeda untuk diam. Maka dialog terputus dalam beberapa saat, diisi oleh musikalisasi laut yang sambung-menyambung. Seperti iklan di TV pengiring sinetron kesukaan para ibu. Dalam diam mereka berdua sesekali menatap, persis remaja tanggung yang sedang kasmaran.
”Apakah suamiku kali ini tidak berkenan atas ucapanku?”
”Hmm, mungkin tidak pada isinya sayangku. Tapi, bukankah saat seperti ini sebaiknya kita menikmati keindahan Kasih Tuhan dalam kemesraan kita? Kita mengingat Tuhan dalam romantisme kehidupan rumah tangga kita yang masih saja hangat”.
”Jadi, tidak bolehkah kita ingat mati saat kita menjalin kemesraan? Padahal kematian sendiri datang tanpa kompromi”.
Kali ini suara ombak terasa lebih lembut seolah tersihir kalimat sufistik istrinya soal kematian. Tanpa dituntun, alam pikirannya berdiskusi bahwa memang kelalaian manusia mengingat Tuhan seringkali terjadi karena manusia enggan mengingat mati di saat senang. Tuhan lebih didekati di saat kritis dan kepepet. Sementara di saat lapang dan suka cita, urusan Tuhan dan kematian sengaja dikesampingkan sementara waktu. Jadilah manusia tenggelam dalam kemewahan hidup dan lupa beratnya hidup sesudah mati.
”Bunda, kalau boleh, aku ingin mati bersamaan dengan kematianmu. Agar aku tidak merasa cemburu yang bisa saja akan ada lelaki yang meminangmu setelah kematianku. Atau aku akan tergoda berpaling pada wanita lain setelah kepergianmu”.
”Tidak sayang. Siapa yang akan memandikanku kelak jika kita wafat bersamaan. Biarlah aku yang duluan dan aku puas jika jenazahku Engkau yang memandikan”.
”Sama saja. Aku juga baru merasa puas jika jenazahku Engkau yang memandikan”.
Tiba-tiba tawa keduanya pecah seiring senja yang semakin tua. Langit semakin kemerahan dengan warna tembaganya yang khas. Terlihat tangan mereka saling menggapit. Saling mencubit mesra seperti layaknya kemesraan bulan madu. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teriakan tiga bocah kecil yang berlarian sambil melambaikan tangan.
”Ayaaaah, Bundaaaa … ”.
Ketiga anaknya berlarian berebutan ingin duluan menubruk ayah bundanya. Keringat mereka berkilat-kilat ditimpa cahaya lampu tepi pantai yang sudah menyala seluruhnya. Berlima kemudian mereka tertawa riang berpelukan. Si bungsu memilih mendekap bundanya seolah tidak ingin dilepaskan. Sementara kedua tangan lelaki suaminya digandeng anak pertama dan keduanya.
Suara adzan Maghrib terdengar sayup-sayup. Berlima mereka pulang ke penginapan dan menghabiskan malam dengan senyum kebahagiaan. Sebuah kenangan yang tidak tertandingi indahnya sepanjang kenangan.
——-
Ciputat, September 2010.
abdul_mutaqin@yahoo.com
http://www.eramuslim.com/oase-iman/abdul-mutaqin-jenazahku-engkau-yang-memandikan.htm
“Ayah, saya telah menunggumu sejak seperempat jam yang lalu. Ingin segera melihat senyummu yang khas dan menakjubkan”.
Maka dipeluknya mesra wanita itu dengan senyum yang dibanggakannya. Barulah ia mencari anak-anaknya dan menciumnya adil satu persatu. Setelah itu, ia berbisik di ujung anak telinga isterinya yang putih dengan lembut,
”Wah, gara-gara senyumku, teh Tong Tjinya kelupaan”.
Seperti biasa, segera isterinya menyela. Bahkan cerdiknya ia, selaannya sering disesuaikan dengan konteks hidup suaminya. Ia tahu bahwa suaminya sedang dituntut mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris, spontan ia berujar,
”Wait a minute, honey. I will be back with your favorite cup of tea”.
Bagai rembulan yang turun di pangkuannya, terkesima. Hampir biasa ia mendengar ungkapan seperti itu, seperti biasanya melihat bulan purnama di langit yang tinggi. Tetapi kala ungkapan itu meluncur lancar dari bibir isterinya, seolah purnama sengaja turun menghampirinya dan mempertontonkan pesona kecantikannya yang tanpa cela. Maka puaslah hatinya mendapatkan wanita pilihan Tuhan di rumah tangganya. Kadang ia sendiri menerka-nerka, inikah yang dimaksud sakiinah, mawaddah dan rahmah?
Dalam pengalaman empirik pribadinya, kebahagiaan dan kepuasan pada pasangan hidup dapat diperoleh tidak hanya pada saat berada dalam satu selimut. Tetapi ia bisa diraih hampir di seluruh sudut ruang rumah tangganya. Saat ia ditemani di atas sajadah dalam tahajjud malam, saat wanita itu membuka sepatunya di teras rumah, saat membalurinya dengan telon karena cuaca dingin di pojok sofa, bahkan saat membantu isterinya menautkan resleting di punggung baju gamis isterinya. Ada kepuasaan saat ia dilayani dan melayani, meskipun pada hal yang sangat sepele saja.
Maka sering ia merasa miris mendengar ocehan para lelaki yang hanya sanggup mengukur kepuasan berumah tangga hanya dari sudut tempat tidur dan mengabaikan sisi lumrah dari perhatian pasangan hidupnya. Seolah-olah ukuran kepuasan rumah tangga hanya diukur dari termometer tinggi rendahnya suhu saat di ranjang privat. Sementara suguhan secangkir teh, menautkan dasi di leher atau memilihkan warna dasi yang cocok dengan warna kemeja dianggap hal biasa yang tidak perlu diapresiasi sebagai sebuah kepuasan.
Lebih terheran-heran ia, apabila mendengar ada suami ringan tangan menyakiti badan, pahit lidah menyakiti hati dan masam muka yang membuat gundah atas isterinya. Tetapi saat malam merayap pelan dan suasana menjadi temaram, dengan tanpa merasa bersalah ia membuka seluruh tabir yang melekat di tubuh isterinya sampai ia kelelahan dan bermandi peluh. Bukan hanya ia yang keheranan, bahkan manusia terbaikpun begitu terheran-heran dengan perlakuan suami macam ini. Imam Bukhari ada menuliskan dalam sahihnya, hadits nomor 4805 demikian:
Abdullah bin Zam’ah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian memukul isterinya, seperti ia memukul seorang budak, namun saat hari memasuki waktu senja ia pun menggaulinya.”
Sebagai suami, ia merasa bukan suami super dengan gaji besar dan kedudukan yang mapan. Bahkan jika gajinya dimatematikakan, ha ha ha, kalau bukan karena modal ikhlas menerima pemberian Tuhan, rasa-rasanya akan hilang kesabaran hidup dengan penghasilan yang habis dalam hitungan dua minggu. Itu pula yang sering ia keluhkan pada isterinya di sela-sela pengantar tidur malamnya.
Dalam penampilan, wajahnya pun tergolong biasa saja, tidak tampan juga tidak amat mengecewakan. Namun wanita di sampingnya itu tetap menganggapnya sebagai laki-laki terbaik dalam hidupnya. Itu diketahuinya dari membuka diary milik isterinya diam-diam saat ia sudah terlelap.
Benarlah kata seorang motivator, bahwa jangan pernah sepelakan kata-kata. Kata-kata bisa mengubah hal kecil menjadi besar, hal biasa menjadi istimewa dan impian menjadi kenyataan.
Satu hal yang kadang terlupakan, bahwa seorang suami adalah motivator bagi isterinya. Seringkali pula, kesuksesan seorang lelaki terwujud karena wanita di sampingnya menjadi inspirasi yang mengantarkan kesuksesannya itu.
Begitulah setiap hari ia lewatkan dalam kebersahajaan bersama pendamping hidup yang telah memberinya tiga buah hati titipan Tuhan. Tetapi dari seluruh ingatan manis yang membekas di relung sukma romantisme perkawinannya ada satu sesi yang paling keras membekas. Saat laut menjadi saksi bisu perbincangan ala sufi dengan wanita ibu dari anak-anaknya itu.
Senja itu menjadi tidak terlupakan olehnya. Saat menikmati mentari hampir tenggelam di pantai laut Anyer setengah tahun lalu. Perbincangan mereka menjadi sangat serius dan liat. Tidak seperti biasanya yang santai dan cair. Apalagi, deru ombak seolah ingin terlibat dalam obrolan mereka berdua. Sambil jemari mereka bertaut, mereka keheranan bahwa mereka masih menyimpan berjuta-juta kemesraan di saat telah memiliki dua putra dan seorang putri. Genggaman tangan mereka masih dirasakannya bergetar seperti zaman seminggu menikah sepuluh tahun lalu. Apalagi suasana pantai yang romantis, di atas kelembutan pasir laut, deru ombak yang bersahutan dan nyanyian camar yang seolah menggoda seperti selaksa pantun yang melenakan. Romantisme itu terusik.
”Suamiku, kelak aku ingin mati lebih dulu darimu”.
Hatinya melonjak, terkejut dan terpana. Ia gagap sesaat. Hampir ia kehilangan kesimbangan di atas romantisme yang memuncak dan tiba-tiba limbung. Seolah ia tidak siap sebagaimana ia selalu siap menikmati kearifan dan kelembutan kalimat dari bibir isterinya.
Tiba-tiba pendengarannya kacau, suara debur ombak menjadi gemuruh yang mengancam. Nyanyian camar berubah menakutkan seperti berita duka yang menggema. Tiba-tiba perasaan hatinya berubah galau. Pasir laut terasa tidak lagi lembut dan sejuk, tetapi seperti tusukan duri semak dan mendidih. Temaram senja tidak lagi menggairahkan, tetapi seperti tanda bahwa hari akan segera berakhir. Hatinya kecut, pikirannya kusut masai.
”Bunda, kok ngomongnya begitu?”, terbuka juga bibirnya yang sejak tadi terkatup rapat. Dadanya yang seolah sesak, mulai kendur dan teratur nafasnya lebih halus.
”Loh, kan kita pasti semua akan mati. Tidak ada di antara kita yang kuasa menolak kehadirannya cepat atau lambat. Andaikan ada obat agar orang tidak bisa mati, saya ingin membelinya banyak dan meminumnya teratur supaya saya tetap bisa mendampingimu, suamiku”.
”Tapi mengapa harus kita ucapakan ingin duluan atau belakangan? Biarkanlah ia datang tanpa kita mengharapnya, asalkan kita sama-sama siap mengahadapinya. Bukankah ini lebih menentramkan isteriku?”.
Alam seolah turut campur dalam perbincangan itu. Seolah ia memberi isyarat supaya mereka mengambil jeda untuk diam. Maka dialog terputus dalam beberapa saat, diisi oleh musikalisasi laut yang sambung-menyambung. Seperti iklan di TV pengiring sinetron kesukaan para ibu. Dalam diam mereka berdua sesekali menatap, persis remaja tanggung yang sedang kasmaran.
”Apakah suamiku kali ini tidak berkenan atas ucapanku?”
”Hmm, mungkin tidak pada isinya sayangku. Tapi, bukankah saat seperti ini sebaiknya kita menikmati keindahan Kasih Tuhan dalam kemesraan kita? Kita mengingat Tuhan dalam romantisme kehidupan rumah tangga kita yang masih saja hangat”.
”Jadi, tidak bolehkah kita ingat mati saat kita menjalin kemesraan? Padahal kematian sendiri datang tanpa kompromi”.
Kali ini suara ombak terasa lebih lembut seolah tersihir kalimat sufistik istrinya soal kematian. Tanpa dituntun, alam pikirannya berdiskusi bahwa memang kelalaian manusia mengingat Tuhan seringkali terjadi karena manusia enggan mengingat mati di saat senang. Tuhan lebih didekati di saat kritis dan kepepet. Sementara di saat lapang dan suka cita, urusan Tuhan dan kematian sengaja dikesampingkan sementara waktu. Jadilah manusia tenggelam dalam kemewahan hidup dan lupa beratnya hidup sesudah mati.
”Bunda, kalau boleh, aku ingin mati bersamaan dengan kematianmu. Agar aku tidak merasa cemburu yang bisa saja akan ada lelaki yang meminangmu setelah kematianku. Atau aku akan tergoda berpaling pada wanita lain setelah kepergianmu”.
”Tidak sayang. Siapa yang akan memandikanku kelak jika kita wafat bersamaan. Biarlah aku yang duluan dan aku puas jika jenazahku Engkau yang memandikan”.
”Sama saja. Aku juga baru merasa puas jika jenazahku Engkau yang memandikan”.
Tiba-tiba tawa keduanya pecah seiring senja yang semakin tua. Langit semakin kemerahan dengan warna tembaganya yang khas. Terlihat tangan mereka saling menggapit. Saling mencubit mesra seperti layaknya kemesraan bulan madu. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh teriakan tiga bocah kecil yang berlarian sambil melambaikan tangan.
”Ayaaaah, Bundaaaa … ”.
Ketiga anaknya berlarian berebutan ingin duluan menubruk ayah bundanya. Keringat mereka berkilat-kilat ditimpa cahaya lampu tepi pantai yang sudah menyala seluruhnya. Berlima kemudian mereka tertawa riang berpelukan. Si bungsu memilih mendekap bundanya seolah tidak ingin dilepaskan. Sementara kedua tangan lelaki suaminya digandeng anak pertama dan keduanya.
Suara adzan Maghrib terdengar sayup-sayup. Berlima mereka pulang ke penginapan dan menghabiskan malam dengan senyum kebahagiaan. Sebuah kenangan yang tidak tertandingi indahnya sepanjang kenangan.
——-
Ciputat, September 2010.
abdul_mutaqin@yahoo.com
http://www.eramuslim.com/oase-iman/abdul-mutaqin-jenazahku-engkau-yang-memandikan.htm
Sabtu, 14 Maret 2015
Inilah Rahasia Api Berwarna-warni dan Bertingkat-Tingkat
Api tak lepas dari
kehidupan kita sehari-hari. Meski dianggap berbahaya, api ternyata
memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Tanpa keterlibatan api, sebagian manusia
tidak bisa menghasilkan makanan yang bisa dinikmati setiap hari. Sebab
sebagian manusia masih tergantung dengan kompor gas.
Seperti diketahui, api adalah suatu reaksi
kimia (oksidasi) yang terbentuk dari tiga unsur; panas, udara dan bahan
bakar yang menimbulkan panas dan cahaya.
Elemen pendukung terjadinya kebakaran
adalah panas, bahan bakar dan oksigen. Meski ada tiga elemen tersebut
peristiwa kebakaran belum terjadi. Sebab proses pembakaran diperlukan
komponen keempat, yaitu rantai reaksi kimia (chemical chain reaction).
Nah, menyangkut masalah api, ada peristiwa
menarik dan menakjubkan di dalamnya. Sebab, ternyata jika diperhatikan,
warna api sangat berbeda-beda.
Kadang api memancarkan warna biru, kadang oranye kekuningan atau merah.
Nah, mengapa api bisa berbeda-beda warnanya?
Warna api sangat dipengaruhi oleh
elektron-elektron dalam api yang selalu berpindah-pindah. Setiap unsur
mempunyai spektrum emisi tertentu dan bila tersorot api, maka akan
memancarkan radiasi elektromagnetik yang akan menghasilkan pancaran api
dengan warna-warna tertentu.
Secara teori, api terjadi dari reaksi
pembakaran senyawa yang mengandung oksigen (O2). Jika suatu reaksi
pembakaran kekurangan oksigen, maka efisiensi pembakaran berkurang dan
menghasilkan suatu senyawa karbon seperti asap (jelaga). Contohnya,
lilin akan mati karena jika ditutup dengan gelas. Sebab ia kekurangan
oksigen. Faktor yang mempengaruhi warna nyala api adalah faktor fisika
(suhu) dan faktor kimia (zat yang megalami reaksi).
Pada pembakaran sodium akan menghasilkan
apri berwarna oranye, pembakaran stronsium klorida mengahasilkan warna
merah, pembakaran kalium nitrat menghasilkan warna ungu, pembakaran
boron menghasilkan warna hijau, pembakaran tembaga menghasilkan warna
biru, dan sebagainya.
Api yang berwarna merah umumnya bersuhu di
bawah 1000 derajat celsius. Api berwarga biru, bersuhu lebih tinggi
dari api merah, tapi masih di bawah 2000 derajat celcius. Kemudian api
yang lebih panas, api putih yang bersuhu di atas 2000 derajat celcius.
Api ini juga yang terdapat di dalam inti matahari. Api putih juga
digunakan pada industri yang memproduksi material besi dan sejenisnya.
Api paling panas adalah api berwarna hitam (kabarnya jenis api ini hanya
terdapat di neraka, wallahu ‘alam).
Begitulah mengapa api bisa berwarna-warni.
Metode seperti ini juga yang digunakan dalam teknologi pembuatan
kembang api yang bisa memancarkan api berwarna-warni nan indah. Sebab
ia merupakan proses campuran berbagai macam unsur kimia. Ia akan
bereaksi warna-warni jika terjadi reaksi pembakaran.
Sudah Disebut Al-Quran dan Hadits
Ketika para ilmuwan mempelajari api dan
hubungan antara temperatur dan mereka menemukan bahwa warna api adalah
merah, kemudian jika ditinggikan suhunya maka warna api akan menjadi
putih dan jika dinaikkan lagi suhunya maka warna api akan berubah
menjadi hitam dan fenomena ini disebut oleh para ulama radiasi benda
hitam, dan yang menakjubkan lagi adalah Nabi saw telah menyebutkan
fenomena ini, adanya perubahan warna api! Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda:
أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ
حَتَّى احْمَرَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى
ابْيَضَّتْ ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ
فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ
“Api dinaikkan suhunya selama seribu
tahun sampai berubah menjadi merah, lalu dinaikkan lagi selama seribu
tahun hingga berubah menjadi putih, kemudian dinaikkan lagi selama
seribu tahun sampai menghitam, dan itulah yang disebut dengan hitam
legam.”(At-Tirmidzi).
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu beliau berkata, “Rasulullah shallallaahu alaihi wa salam bersabda, “Api
kalian, yang dinyalakan oleh anak Adam, hanyalah satu dari 70 bagian
nyala api Jahannam. Para shahabat kemudian mengatakan, ‘Demi Allah! Jika
sepanas ini saja niscaya sudah cukup wahai Rasulullah! Rasulullah
menjawab, ‘Sesungguhnya masih ada 69 bagian lagi, masing-masingnya
semisal dengan nyala api ini’.” [Muttafaqun Ilaihi]
Dalam Al-Quran, Allah bahkan telah menyebut tingkatan-tingkatan pada api.
لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ
النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ذَلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ
عِبَادَهُ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ
“Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku.” [QS: Az-Zumar:16]
Yang tak kalah menarik, kelak di akhirat, api saling melaporkan diri di hadapan Allah Subhanallah atas tugas mereka membakar manusia.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اِشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا
فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا, فَإِذَنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ
نَفَسٍ فِى الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِى الصَّيْفِ, فَأَشَدُّ مَا تَجِدُوْنَ
فِى الْحَرِّ, وَأَشَدُّ مَا تَجِدُوْنَ مِنَ الزَّمْهَرِيْرِ. متفق عليه
“Api neraka mengadu kepada Rabb-nya,
ia berkata: “Ya Rabb, sebagian kami memakan sebagian yang lain. Maka Dia
memberikan izin kepadanya dengan dua napas, satu napas di musim dingin
dan satu napas di musim panas, maka panas yang sangat kuat yang kami
dapatkan, dan dingin yang sangat kuat yang kamu temukan.” [HR: Bukhari].
Maha benar Allah yang telah menurunkan Islam dan menjadikan Rasulullah Muhammad sebagai utusan yang terbaik.*
Meninggalkan yang Haram, Diganti yang Lebih Baik
Seorang pemuda tinggal di
sebuah bilik Masjid Jami’ at-Taubah, Suriah yang tengah didera
kelaparan hebat. Tiga hari berlalu, ia belum juga memperoleh makanan.
Pemuda itu memilih untuk mencuri sesuatu yang bisa menegakkan tulang
punggungnya.
Ia berhasil masuk ke sebuah rumah. Di
dalam dapur rumah itu, ia mendapatkan sebuah periuk berisi terong.
Secepat kemudian ia mengambil satu terong dan memakannya. Saat makanan
itu nyaris ditelan, akal dan nuraninya bekerja.
“Aku berlindung kepada Allah, saya seorang
pencari ilmu dan mukim di masjid, tapi kenapa saya melabrak rumah orang
dan mencuri apa yang ada di dalamnya?” gumamnya.
Perasaan bersalah dan menyesal
menyelimutinya. Tak lupa ia beristighfar kepada Allah Subhanahu
Wata’ala, seraya mengembalikan terong. Ia bergegas kembali ke masjid dan
bergabung dalam halaqah taklim yang dipandu Syeikh Salim.
Usai pengajian, Syeikh Salim memanggil
sang pemuda tadi, “Apakah kamu sudah punya istri?” Jawabnya, “Belum.”
Sambung Syeikh, “Apakah kamu ingin menikah?” Ia terdiam. Syeikh pun
mengulangi pertanyaannya. Kemudian dia menjawab, “Ya Syeikh, kami tidak
punya uang untuk membeli roti. Wallahi! Dengan apa saya harus menikah?”
“Wanita ini telah bercerita pada saya
bahwa suaminya telah meninggal dan dia terasing dari tanah airnya. Di
negerinya, bahkan di dunia ini ia tidak punya sesuatu pun kecuali
seorang paman yang lemah dan miskin. Dan ia juga ikut datang bersama
wanita ini,” demikian ucap Syeikh sambil menunjuk ke pamannya yang duduk
di sudut halaqah.
Akhirnya pemuda itu siap menikahi si wanita tadi. Dan si wanita itu pun menerima pemuda tadi sebagai suaminya.
Usai menikah, si wanita itu menuntun suaminya ke rumahnya. Sang istri bertanya kepada sang pemuda yang telah menjadi suaminya.
“Engkau mau makan?”
“Ya,” jawabnya.
Saat sang istri membuka periuk, ia heran
sambil berkata, “Siapa orang yang masuk rumah dan menggigit terong ini?”
Si pemuda itu lalu menangis dan berkisah kepada istrinya. Dan sahutnya,
“Inilah buah amanah. Engkau telah menjaga diri dari dosa dan
meninggalkan terong yang haram, lalu Allah memberimu rumah seisinya
lengkap dengan pemiliknya secara halal.” (Disarikan dari kitab Man Taraka Syai’an Lillahi ‘Awwadhallahu Khairan Minhu yang ditulis oleh Ibrahim bin Abdullah Al-Hazimi).
Takut kepada Allah
Ada ibrah penting yang bisa kita petik
dari kisah di atas, bahwa rasa takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala
sangat penting dimiliki oleh setiap hamba. Lebih-lebih di zaman yang
penuh fitnah ini. Halal dan haram yang ditetapkan oleh syariat sudah tak
lagi menjadi rambu-rambu bagi manusia dalam berucap dan bertindak.
Karena itu, agar bisa selamat, yang mesti
dilakukan oleh setiap hamba adalah terus menumbuh-suburkan rasa takut
kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Salah satu jalan yang bisa ditempuh
yaitu dengan mempertebal keyakinan tentang pembalasan dan kecepatan
penghisaban-Nya. Juga, bisa dengan cara merenungkan kengerian azab-Nya
yang tak bisa ditolak oleh siapapun dan apapun. Allah Subhanahu Wata’ala
berfirman, “Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.” (Al-Buruuj [85]: 12).
Dengan cara tersebut, semoga rasa takut
itu terus bersemi dalam hati. Bahkan, rasa takut itu makin kuat. Pada
akhirnya rasa takut itulah yang akan melahirkan keteguhan diri. Seperti
batu karang yang tetap kokoh di atas kebenaran, meski dihantam ombak
fitnah zaman yang dahsyat. Meski kesempatan untuk berbuat yang haram
terbuka lebar, ia tetap tak akan mengambilnya. Sebab, ia sadar bahwa
Tuhannya selalu mengawasi. Baginya, tiada yang lebih ditakuti selain
kemurkaan-Nya. Tiada yang lebih dirisaukan dalam kehidupan ini selain
tak meraih keberkahan hidup dan rahmat dari-Nya.
Diganti yang Lebih Baik
Dengan berbekal rasa takut kepada Allah
Subhanahu Wata’ala, seorang hamba akan mampu menentukan pilihan yang
benar. Ia akan senantiasa memilih yang halal dan meninggalkan yang
haram. Seperti dalam mengejar kekayaan, meski peluang mendapat kekayaan
yang berlimpah itu membentang luas, tapi bila harus ditempuh dengan
jalan yang haram, seperti menipu, korupsi dan sejenisnya, maka tidak
akan mengambilnya. Pilihannya tetap pada cara yang halal, meski harta
yang akan diperoleh jauh lebih sedikit. Sebab, baginya harta yang
terbaik bukanlah yang berlimpah jumlahnya. Yang terbaik adalah yang
halal dan dipergunakan di jalan yang halal. Harta seperti itulah yang
berkah dan membawa keselamatan di dunia dan akhirat.
Begitu pula dalam perkara lainnya, setiap
orang beriman mutlak mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram.
Sebab, dengan jalan itu Allah akan mengganti dengan yang lebih baik dan
berbagai kemudahan dari Allah Subhanahu Wata’ala akan tercurah kepada
kita. Sangat tak pantas bila tersedia banyak jalan yang halal, lantas
memilih yang haram. Karena jika mengambil yang haram akan ditimpa
kesulitan dan akan memberatkannya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menegaskan, “Sesungguhnya
engkau, tidaklah kau tinggalkan sesuatu karena takut kepada Allah,
kecuali Allah akan memberimu dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (Riwayat Ahmad).
Selain kisah di atas, kita juga patut
mengambil spirit dari kisah manusia terdahulu yang diistimewakan Allah
Subhanahu Wata’ala karena rela mencampakkan yang haram. Seperti Nabi
Yusuf Alaihissalam. Beliau memilih mencampakkan perbuatan keji bersama
istri Abdul Aziz, maka Allah pun melimpahkannya kedudukan terhormat di
bumi Mesir.
Juga, Nabi Sulaiman Alaihissalam. Tatkala
ia rela menyembelih kudanya karena amat takut bila kudanya
menyibukkannya hingga ia terlambat dari salat Ashar, maka Allah pun
menundukkan angin untuknya yang berhembus sesuai keinginannya. Inilah
bukti kebenaran janji-Nya. Dia akan memberi balasan istimewa bagi siapa
yang meninggalkan perkara yang haram karena-Nya.
Dengan spirit tersebut, kita tidak berat
untuk segera meninggalkan yang haram menuju yang halal. Kita tidak berat
untuk meninggalkan riba, kemudian beralih kepada bisnis yang halal lagi
menguntungkan. Tidak berat meninggalkan korupsi dan menggantinya dengan
kejujuran dan sikap amanah. Tidak berat meninggalkan cara-cara kotor
dalam mencari rezeki dan menggantinya dengan cara-cara yang terpuji.
Bahkan, dalam komunitas yang lebih besar, kita tidak berat untuk
meninggalkan hukum jahiliyah yang batil, kemudian beralih kepada
syariat-Nya yang dijamin kesempurnaannya.
Dengan jalan seperti itu, semoga
keberkahan dan rahmat Allah Ta’ala akan selalu tercurah dalam kehidupan
kita. Allahu a’lamu bishshawab.
*/ Masrokan. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Hidayatullah
Kapan Suami Boleh Memukul Istri?
Selain urusan poligami,
banyak kaum Hawa yang alergi dengan yang satu ini: dipukul suami.
Memukul istri memang bagian dari hak yang diberikan Allah Subhanahu
Wata’ala pada suami. Hak ini pula yang seringkali dijadikan alas an bagi
kaum feminis untuk memojokkan Islam. Padahal, dalam Al-Quran, jelas
sekali diterangkan syarat-syarat bagi suami hingga diperbolehkan memukul
istrinya.
Adab Menghukum Istri
Surat An-Nisa ayat 34 menyatakan, “Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz ,
hendaklah kamu beri nasihar kepada mereka,pisahkanlah tempat tidur
mereka, dan pukullah mereka.” Ayat ini jelas sekali menyatakan
urut-urutan kapan seorang suami boleh memukul istrinya.
Istri yang nusyuz artinya istri
yang bertindak tidak bersahabat dengan suaminya. Hendak menodai
pernikahan, berbuat jahat pada suaminya, berbuat sekehendaknya tanpa
memedulikan kewajibannya sebagai istri, dan melakukan hal-hal yang
dilarang Islam.
Bila seorang istri sudah mulai terlihat melakukan nusyuz ,
tindakan seorang suami yang pertama adalah menasehatinya dengan cara
yang benar dan untuk kebenaran. Artinya, tidak boleh mencaci-maki dan
tidak bolehberdasarkan kemarahan semata. Oleh karena itu, suami juga
dituntut menjadi orang yang sabar menghadapi istri. Istri yang beriman
pun, biasanya akan menerima dan memperbaiki diri dengan nasihat.
Yang kedua, pisahkanlah tempat tidurnya.
Kadang seseorang butuh waktuuntuk menyendiri. Gunanya untuk menata emosi
dan mengevaluasitindakan-tindakan yang telah dilakukan. Inilah gunanya
memisahkanranjang seorang istri yang melakukan nusyuz .
Terakhir, setelah dinasehati dan dibiarkan
menyendiri tidak juga berhasil, seorang suami boleh memukul istrinya
yang terlihat melakukannusyuz . Adapun tata-cara memukul istri adalah sebagai berikut:
Membatasi penyebab pukulan dan tujuan pukulan
Artinya, memukul harus karena si istri
telah benar-benar melanggar syariah, menodai rumah tangga, dan mengancam
kehormatan suami. Bukan karena hawa nafsu suami,marah yang tak
terkendali, dan bukan karena senang melihat istrinyamenderita dan
terhina. Para suami, hendaklah takut pada Allah Subhanahu Wata’ala
danbertaqwa pada-Nya dalam membina hubungan dengan istrinya.
Membatasi waktu pemukulan
Artinya, pemukulan baru boleh
dilakukanketika istri sudah tak bisa dinasehati dan tak kunjung
mengintrospeksidiri setelah dipisah ranjang.
Membatasi alat pemukul
Al-Qasimi menyatakan dalam tafsirnya bahwa
para fuqaha menyatakan, “Seorang suami tidak boleh memukul istrinya
dengan cemeti atau tongkat, tetapi cukup dengan tangan, kayu siwak,
atau dengan sapu tangan yang digulung. Artinya, pukulan itu tidak boleh
mengakibatkan cedera, menyiksa, dan membabi-buta karena memperturutkan
kemarahan. Cukuplah sekadar memberi pelajaran dan bukan untuk
menyaikiti. Ingatlah bahwa para suami harus lebih berhati-hati menjaga
taqwa dan takutnya pada Allah Subhanahu Wata’ala untuk membina rumah
tangga.
Lebih Bagus, tidak memukul
Memukul adalah alternatif terakhir. Karena, selain resikonya yang terbilang besar, ada istri yang justru semakin parah nusyuz -nya karena dipukul. Pukulan sebaiknya digunakan bila memang si suami yakin benar bahwa pukulan akan memperbaiki sikap istrinya.
Mengingat besarnya resiko pukulan, Rasulullah Shallallahu “alaihi Wassallam bersabda:
“Apakah pantas, salah seorang di
antara kalian memukul istrinya seperti seorang budak tetapi kemudian
menggaulinya di penghujung malam?
Terakhir, para suami hendaknya mendahulukan kelanjutan firman Allah Subhanahu Wata’ala, masih di surat An-Nisa ayat 34,
فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي
الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ
عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً
“…Kemudian, jika mereka menaatimu,
janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sungguh Allah
Mahatinggi lagi Mahabesar.”
Artinya, bila si istri telah terlihat
memperbaiki diri dengan nasihat yang baik atau teguran, maka sebaiknya
suami tidak melanjutkan hingga memukul.
Hikmah Wewenang Suami
Selanjutnya, mengapa suami diberi wewenang untuk menghukum istrinya?
Karena, amatlah rumit bila setiap
permasalahan rumah tangga yang bisa terjadi berkali-kali harus selalu
dibawa ke pengadilan. Disamping itu, Islam sangat menjaga keharmonisan
keluarga, terutama yang menyangkutrahasia dan aib suami-istri.
Psikologis anak juga sangat terganggu, bila setiap masalah “dalam rumah”
harus dibawa ke pengadilan dan diketahui umum. Inilah hikmah, mengapa
seorang suami diberi wewenang untuk memberi hukuman dalam keluarga.
*/Kartika Ummu Arina
http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2015/03/12/40492/kapan-suami-boleh-memukul-istri.html#.VQSTfuPqtyY
*/Kartika Ummu Arina
Langganan:
Postingan (Atom)



